Antara novel Supernova Petir, Tionghoa dan Timor Leste

February 7, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Habis baca novel ini, dan sebelum nulis panjang kusebarkan tebakan di halaman awal buku itu untuk kalian semua : “Kenapa ayam berkokok lihatnya ke atas?”

Ini bukan resensi, tulisan ilmiah yang mesti berisi dengan landasan teori, data, analisa hingga kesimpulan, tetapi juga bukan pula tulisan warna merah jambu bereferensi sinetron Indonesia…

Ini pemikiran dan perasaanku setelah membaca novel ini, melihat, merasa, dan mengenal banyak hal tapi tidak pernah sekolah benar dan juga bukan penggemar sinetron Indonesia maka excuse ku di awal tadi kupikir bolehlah…

Aku membaca ketiga buku Supernova karangan Dee, dari mulai yang Ksatria, Akar sampe Petir ini, sayang yang Akar hilang di Borneo. Dari ketiga buku Dee ini, aku menyukainya karena menurutku benang merah dari buku-buku ini adalah tokoh2 yang dipilih untuk jadi main character adalah mereka yang minor di negri ini bahkan mungkin di banyak tempat di dunia. Novel yang pertama tokoh yang mau ditampilkan oleh Dee adalah pasangan homosexual, novel yang kedua adalah perjalanan seorang punk, dan ketiga adalah perjalanan dan pemikiran seorang gadis yang dilahirkan sebagai etnis tionghoa.

Coba kamu bayangkan, ini Indonesia, lalu ada 3 contoh model-model karakter tadi hidup dan tinggal di negri semacam Indonesia? Ga perlu panjang lebar, setolol apapun juga otakku, aku bisa mastiin, akan ada konflik antara sang tokoh dengan masyarakat umum, minimal konflik batin…

Ah, aku tak mau terlalu serius nanti kalian males bacanya, serius ya nyari aja lulusan psikologi, sosiologi, atau apapun dengan logi dibelakangnya yang berarti ilmu tentang didepannya. Langsung saja yang mudah. Habis membaca novel ini mau ga mau, sejak dari halaman awal kita sudah disuruh untuk tertawa minimal nyengir-nyengir sendiri karena emang lucu tapi segar, ditengah mulai agak serius tapi tetep harus senyum karena ketemu yang lucu segar lagi secara konstan, dan di akhir kita seakan dibawa ke situasi dimana kita pengen peluk seseorang dan mengatakan bahwa aku akan selalu ada untukmu, aku ingin memiliki rasa melindungi, menyayangi, menjaga seperti itu, bahwa demikianlah manusia itu seharusnya memandang manusia yang lain, menjabat tangan dan memeluknya erat, dengan juga bertanya, ceritanya gimana ya lanjutannya? Dan seperti buku-buku bagus yang lain, semakin dekat dengan halaman akhir, perasaan semakin sedih karena ga pengen buku ini cepet habis, masih pengen 1000 halaman lagi… Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: