NEGARA MARITIM: Hanyalah Puing Sejarah

December 22, 2012

79perahu cadik di didnding borobudur

 

Oleh: Musthofa Ghulayayni

Ada hal penting yang tidak lagi menjadi perhatian publik bahkan ketersediaan literatur sejarah yang juga minim mengenai cerita maritim negeri ini mengakibatkan isu tentang maritim seakan sudah punah dan tidak lagi menjadi penting dalam kajian sejarah dan kajian ilmiah. Terakhir kali isu maritim yang berkembang yaitu soal konflik “ambalat” antara perairan perbatasan Indonesia dengan Malaysia, itu pun tidak mampu membangkitkan etos bangsa ini untuk mengkaji kembali tentang sejarah maritimnya kecuali sikap reaksioner dengan semangat nasionalisme yang setengah matang.

Sementara kelatahan media televisi, internet dan koran menggiring masyarakat pada sebuah isu-isu fiktif yang cenderung provokatif misalnya, terorisme (terakhir tentang ancaman bom Solo), penistaan sebuah agama (munculnya film innocent of muslim), dan masih banyak tayangan-tayangan cabul lainnya yang menjebak pada sikap heroisme semata. Maksud penulis bukan berarti semua itu tidak penting akan tetapi akan memunculkan sentimen masyarakat ketika memandang kelompok atau golongan lain yang tidak sealiran dengannya. Read the rest of this entry »


Indonesia? Mari Mabuk, Bakar Dupa, Kita ke Surga

October 13, 2012

Oleh : Medi

Med, menurutmu gimana sih Indonesia dahulu dan Indonesia hari ini?

Uwah…

Tolong ambilkan Smirnoff di kulkas dan putarkan lagu Rage Against The Machine volume maximal. Jangan ganja di tumpukan koran koleksiku, karena aku tak hendak relax dan tertawa berbicara tema ini. Jangan putar Bob Marley apalagi yang Don’t Worry Be Happy…tak pas buat bincang tema kita kali ini. Tinggal setengah botol? Tak apa, itu sudah cukup. 3 gelas kecil aku sudah mabuk, 5 gelas tak terdengar normal bicaraku di telinga, dan 10 gelas maka kamu akan terlihat seperti  bidadari bagiku dan pagi-pagi tentu engkau tak akan perawan lagi.

Tak apa, bawa setengah botol itu. Hadiah kawan baik ku dari jalan-jalan di negeri utara katanya. Setengah botolnya habis di tahun-tahun lampau, di tahun 66, tahun 74, tahun 96, tahun 98 di Pulau Jawa. Sebelum itu berbotol-botol arak dan tuak telah menjadi darah, dari 1227 hingga 1965. Kubuang jadi urea, darah, nanah, tahi, ludah, ingus juga di Jawa. Dan bukankah Jawa itu Indonesia juga kan? Entahlah, lama aku tak membuka peta. Read the rest of this entry »


Bila Saya jadi Anda

February 19, 2011

Oleh Riswandha Imawan*

Bangsa lain selalu iri tetapi nelangsa melihat Indonesia. Katanya, Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi negara maju dan modern, kecuali pemimpin. Memang banyak pemimpin yang kita miliki, tetapi hanya segelintir yang paham makna “memimpin”. Bahkan, banyak yang heran, takjub, kok tiba-tiba dia bisa menjadi pemimpin.

Lewat karya klasiknya, Leadership (1978), James Burns menerangkan, ada orang yang terlahir sebagai pemimpin, ada pula yang dibuat menjadi pemimpin. Kategori pertama merujuk pada orang yang bakatnya memimpin, yang lahir dan besar dari dinamika kehidupan masyarakat. Contohnya, generasi Bung Karno.

Kategori kedua merujuk pada orang yang lewat mekanisme sekolah dibentuk menjadi pemimpin. Dia tidak pernah secara langsung berhubungan dengan dinamika masyarakat. Hingga sekalipun dia memimpin, berdeklamasi sangat paham akan derita rakyat sampai ke lubuk hati terdalam, sebenarnya dia tidak paham akan kata-kata yang diucapkannya.

Mayoritas pemimpin kita saat ini datang dari kategori kedua. Mereka tidak pernah menjadi rakyat dalam arti yang sesungguhnya. Terlahir sebagai anak orang berada, sekolah khusus untuk kalangan kelas atas, lalu dijadikan pemimpin karena ijazah yang digenggamnya. Masih lumayan kalau dia aktif dalam aktivitas sosial selama masa pendidikan. Read the rest of this entry »


Arus Balik (Sebuah Novel Sejarah)

February 13, 2011

Judul buku         : Arus Balik (Sebuah Novel Sejarah)

Pengarang          : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit              : Hasta Mitra

Tahun Terbit      : 2002

Jumlah halaman    : 795 hlm.

Sebagai penulis yang pada tempat pertamanya adalah novelis, Pram sengaja memilih menuangkannya hasil penelitiannya dalam bentuk novel daripada suatu karya ilmiah. Bukan tidak  ada maksud kawan, tapi hal inilah yang justru merupakan keistimewaan dari seorang Pramoedya Ananta Toer dibanding novelis-novelis lain. Pram ingin mempresentasikan pesan yang dikandung sejarah bagi semua segmen masyarakat, mulai dari pembaca paling awam sampai pada lingkungan yang paling terpelajar. Lingkaran pembaca seluas-luasnya itulah yag ingin dia jangkau, bukan hanya sejumput intelektual dari lingkaran masyarakat ilmiah, melainkan semua lapisan masyarakat diharapkan dapat mencerna dan memahaminya.

Seperti halnya “Arus Balik” yang sebenarnya adalah suatu bagian dari proyek besar studi sejarah nusantara yang dilakukan Pram sebelum dia ditahan pada tahun 1965, dia tuangkan dalam sebuah novel sejarah dan bukan thesis sejarah. berisi tentang sebuah epos pasca kejayaan nusantara pada awal abad 16, pram ingin kita mencerna dan memahami kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh pendahulu bangsa ini, agar dapat dapat menjadi cerminan dan pelajaran bagi generasi berikutnya. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: