Hiruk Pikuk – ku

September 17, 2012

Oleh :  Ilham* 

            Tak tahu darimana harus memulainya. Mungkin terlalu lama tak menulis atau bahkan baru sadar ternyata aku belum pernah menulis? Tak tahu aku. Yang ingin kubagi disini hanya secuil peristiwa yang pernah hadir dalam hidupku.

Aku bukan penulis ulung, layaknya Pramoedya dengan Tetralogi Buru nya ataupun Dewi Lestari dengan Supernova nya. Aku tertarik untuk menulis karena mereka inilah yang memberiku sepercik inspirasi  bahwa dengan menulis kita bisa mengungkapkan, meluapkan ataupun menggambarkan apapun yang ingin kita sampaikan. Aku masih ingat kata teman ku bahwa dalam tulisan lah seseorang dapat dikatakan ada atau hidup. Apabila orang tersebut dapat di gambarkan sebagai suatu sosok di dalam tulisan. Dengan kata lain, seorang itu bisa meng “ada” kalau ia menulis, ditulis atau tertulis.

Sekarang, ijinkan aku mencoba, ijinkan aku menulis, dalam huruf…

Ini cerita tentang sepenggal hidup. Hidupku. Jangan bayangkan kisah, jangan harapkan sepenuhnya. Ini hanya penggalan, yang mungkin tak berarti. Tapi tetaplah hidupku, isi otakku, meski dalam penggalan cerita. Read the rest of this entry »

Advertisements

Yang Hilang, Yang Kurindukan

July 3, 2011
By: Shinta Dianatalia*

Buku, buku dan buku. Dari sanalah aku mulai menulis. Berawal dari note-note kecil yang aku tulis untuk mengomentari sebuah buku yang aku baca hingga catatan personal yang kutulis untuk kepuasan pribadiku, aku mulai suka menuliskan apapun yang kurasakan. Dari kecil oleh kedua orang tuaku yang paling kusayang, aku hanya dikenalkan pada komik. Ya…apapun itu aku masih bisa menghargai, dari sana aku bisa mengerti gambar chibi-chibi walaupun sampai sekarang aku masih belum bisa (dan tak yakin bakal ada talent!!) untuk bisa mengambar sebuah manga.

 Namun semuanya berubah ketika aku mulai masuk SMP. Disekolahku yang baru ini, memiliki sebuah perputakaan TERBESAR yang pernah aku lihat. Sebentar teman, jangan kau sewot dulu, jangan kau bayangkan perpustakaan itu seperti Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Konggres di Amrik sana yang memang pantas mendapat gelar terbesar, biar kuceritai kalian. Pada saat itu, saat itu aku baru melihat satu perpustakaan saja seumur hidupku yaitu saat aku duduk di Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, perpustakaan di sekolah dasarku hanyalah sebuah ruangan berukuran 2 x 4 meter yang cuma bisa menampung sekitar 10 orang saja. Itu pun harus rela sesekali kakiku terinjak. maklumlah saat itu aku tinggal didesa dengan tingkat minat baca yang rendah (tetapi bahkan saat aku udah gede n kuliah gini, di kota ternyata meski beda skala dan model, minat bangsaku atas bacaan kurasa tak beranjak jauh dari mengharukan…), mungkin itulah alasan kenapa sekolahku membangun ruangan seperti itu, sebuah ruang yang berbentuk seperti gudang menaruh buku, hanya karena diatasnya ada plang kecil bertuliskan PERPUSTAKAAN maka kami semua mesti menyebutnya itu…ah, betapa masa kecil sekolahku, betapa mengenaskan mengenal untuk pertama kalinya bagi seorang anak, sebuah kata “perpustakaan” dan disodorkan sebuah gambaran seperti itu? Ah, bangsaku, bangsa besar, tetapi hanya mampu untuk menyediakan ruangan 2×4 meter untuk memaknai sebuah kata mentereng bernama PERPUSTAKAAN…. Namun bagaimanapun keadaannya, itu merupakan sekolah pertamaku, tempat dimana aku mengenal huruf dan kemudian menulisnya. Mulai dari yang bulat bergelombang (huruf “o” yang pada saat kelas satu aku masih belum bisa membuatnya belum sempurna sehinga terlihat seperti telur dadar) atau tulisan tegak namun bergoyang seperti rumput alang –alang yang tubuh tinggi menjulang (ini saat belajar menulis latin) hingga bisa mendekati sempurna yang layak dikatakan sebagai tulisan bukan chiken track… Read the rest of this entry »


Ketika Gresik Tak Lagi Berhias Iman

May 3, 2011

By: Eetha Natnat *

Realita yang ironis untuk kota para wali yang memiliki beribu santri, puluhan pesantren yang kian menjamur dikota ini. Namun menjamurnya pesantren diiringgi juga dengan menjamurnya warung kopi panggku. Kini warung kopi yang menjadi sarana pemersatu masyarakat gresik secara tidak langsung. Yang berfungsi tak hanya sebagai ajang tempat kumpul, tempat membaca koran, sharing pengalaman, tetapi fungsi yang baik itu sekarang berubah menjadi ajang prostitusi. Realita ini tak bisa dipungkiri dan ini semua tidak hanya terjadi dikota tapi juga di pinggiran kota bahkan di pedesaan.

Ini semua bisa dibuktikan salah satuya ketika kita mencoba berjalan ke arah barat dari Gresik kota menuju daerah Mojokerto. Disana kita akan melihat banyak berdirinya warung kopi pangku berdiri berdampingan, beriringan seolah bersaing satu sama lain dan para gadis berumur belia yang menjadi pelayan nampak berjajar menunggu para lelaki buaya. Dan itu mungkin hanya salah satu contoh kecil tempat yang tidak kita ketahui lagi berapa banyak tempat seperti itu membanjiri kawasan Gresik. Sungguh realita yang ironis. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: