PENDIDIKAN BERBAU PENJARA

June 27, 2012

Oleh: Musthofa Ghulayayni*

            Rupanya masih menarik dan terus akan menjadi perbincangan publik tidak hanya para akademisi melainkan non akademisi pula bicara tentang “pendidikan” di bumi Indonesia ini. Sebab pendidikan akan menentukan masa depan suatu bangsa, bila visi pendidikan tidak jelas , yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Beberapa hari yang lalu refleksi tentang “Hardiknas”, tepatnya tanggal 2 Mei 2012 beragam cara dilakukan untuk mengekspresikan kepedulian tentang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), salah satunya adalah upacara bendera oleh sebagian besar lembaga pendidikan mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai pada Perguruan Tinggi (PT) baik negeri atauapun swasta. Bagi penulis, ditengah kesenjangan yang begitu tajam dalam akses pendidikan antara golongan kaya dan golongan miskin, rendahnya sebuah mutu pendidikan, masalah kapabilitas guru yang diragukan, pembiaran Pemerintah terhadap infra struktur sekolah, sempitnya lowongan pekerjaan bagi sarjana, dan demokratisasi pendidikan yang tumpul nan usang, di hari pendidkan nasional, pemerintah hanya bisa memberikan intruksi kepada seluruh lembaga pendidikan untuk melaksanakan upacara bendera.

Hal itulah yang disebut “doxa” oleh Pierre Bourdieu. Doxa adalah sudut pandang penguasa atau kelompok dominan yang menyatakan diri dan memberlakukan diri sebagai sudut pandang yang universal. Bahwa sekolah membuka kesempatan sama bagi semua orang merupakan doxa. Sudut pandang ini diterima oleh semua, meski sebetulnya hanya menguntungkan kelas menengah ke atas, bukan kelas miskin.

Perlu kiranya untuk penulis refresh kembali histori tanggal 2 Mei menjadi Hari Pendidikan Nasional. Berawal dari sebuah kegigihan akan perjuangan untuk membangun pendidikan bagi masyarakat pribumi oleh seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, suatu protes tajam menuntut pemerataan pendidikan yang sama tanpa dikotomi kelas terhadap kaum kaphe (kolonial) melalui tulisan-tulisannya. Salah satunya ialah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang berisi sebuah kutipan: “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: