pena kami

Pelangi Itu, Hilang Satu Warna

April 22, 2013

Oleh : Iwan Soebakre*

 

Barusan dengar cerita dari salah seorang siswaku yang sudah lulus. Ada temennya sekelas yang sebenarnya pada waktu tes penerimaan mahasiswa baru kemarin, dia bisa melanjutkan studinya di Universitas Indonesia. Namun, karena diminta biaya pendidikan sebesar 100 juta, dia terpaksa mengubur impiannya untuk bisa kuliah di tempat itu. Cerita lainnya terjadi setahun sebelumnya, ada siswi yang menurutku dia anak yang cerdas. Ini pun dibuktikan dengan dia yang selalu ranking teratas di kelasnya. Sewaktu penerimaan mahasiswa baru, dia menempuh jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Keterampilan) dan dia berkeinginan untuk masuk ke UNESA (dulu IKIP Surabaya). Mungkin dia ingin jadi guru. Dia lulus tes tersebut, namun tapi karena Ujian Nasional dia tidak lulus, keinginan untuk kuliah di tempat tersebut harus terkubur.

Jadi teringat aku dengan novelnya Andrea Hirata yang konon katanya adalah sebuah kisah nyata. 10 anak dengan segala ketidakberdayaannya, mereka berusaha keras untuk bisa bersekolah. Laskar Pelangi, begitulah Andrea Hirata memberi judul novel tersebut. Kenapa Andrea memberikan sebutan Laskar Pelangi pada kesepuluh anak itu? Yang muncul dalam benakku, adalah bahwa Pelangi itu berwarna-warni. Pelangi itu indah, Pelangi itu titik-titik dan lain sebagainya. Tapi ya sudahlah, toh yang bisa menjawab adalah Penulisnya sendiri. Aku hanya bisa berasumsi bahwa mereka semua, kesepuluh anak itu, mempunyai mimpi-mimpi yang indah tentang masa depan. Mimpi yang indah, seindah pelangi yang muncul dari dari garis cakrawala, berwarna-warni, menjulang tinggi, setinggi impian mereka.Read the rest of this entry »


KILAS BALIK SEJARAH KELAS DALAM PERSEMAIAN KAPITALISME

April 11, 2013

KELAS

Musthofa Ghulayayni*

Tekanan arus “kapitalisme” dalam wacana ekonomi-politik melahirkan penindasan gaya baru yang membuat bangsa-bangsa jatuh pada titik kemiskinan. Ketidakberdayaan dan kerentanan merupakan unsur dari perangkap kemiskinan yang sengaja dikondisikan tanpa disadari oleh masyarakat pada umumnya. Hal demikian ini lahir dari sebuah perselingkuhan antara pemilik modal dan penguasa. Akhirnya, penderitaan akibat jerat kemiskinan tersebut menjerumuskan manusia pada penistaan dan berujung pada kepunahan sebuah peradaban yang tidak bermartabat, berkeadilan dan terasingkan dari kata dan makna sejahtera.

Perbincangan etika politik tanpa memperhitungkan wacana ekonomi dalam sebuah nilai dan makna berperan dalam tindakan rasional yang direduksi menjadi rasionalitas ekonomi, dimana semua tindakan rasional harus memperhitungkan keuntungan dan ongkos. Rasionalitas ini membentuk hubungan kekuasaan yang peran utamanya dipegang oleh mereka yang menguasai operasi-operasi pasar.

Kalau dalam analisa Michel Foucault, kekuasaan dimengerti pertama-tama tidak dalam hubungannya dengan negara, tetapi dengan subyek dan dilihat dalam hubungannya dengan ekonomi. Orang diajak melihat apa yang sebenarnya berlangsung ialah bahwa wacana ekonomi sangat dominan di dalam politik kekuasaan. Orang hanya mengagungkan peran cara produksi dalam perkembangan masyarakat. Lalu kemalangan hidup ditimpakan pada masalah eksploitasi kerja dalam perspektif mencari keuntungan dan akumulasi modal (kapitalisme).

Akan muncul pertanyaan di otak kita, apakah sistem kapitalisme ini muncul begitu saja dan dari mana asal mulanya terlebih pengaruhnya di Indonesia? Maka sebagai jawaban perlu kiranya kita kaji dialektika history umat manusia dalam pembagian kelas. Menurut analisa Marxis mengenai sejarah umat manusia terdapat lima formasi utama sosio-ekonomi: (1) sistem primitif-komunal, (2) pudarnya masyarakat komunal, (3) kelahiran kelas-kelas dalam sistem kepemilikan budak, (4)feodalisme, dan (5) kapitalisme. Read the rest of this entry »


Masih di Arus Bawah

March 11, 2013

Arus bawah #2

Oleh : Kyand Cavalera*

            Suasana ini hari terik memang, tapi paling sebentar lagi hujan. Memang cuaca saat ini tak bisa diramal seperti masa lalu. Jikalau dahulu setiap enam bulan sekali panas, maka berikutnya pasti hujan. Tak pernah telat dan benar pasti. Sehingga nenek moyangku membikin hitungan cuaca yang dinamai Pranata Mangsa. Sehingga pula dijadikan patokan masa hidup buat bercocok tanam. Namun itu semua teraji dahulu kala sekarang penanggalan itu jadi usang tak

terpakai lagi. Sebab masa atau waktu bumi telah berubah, bertambah tua. Bertambah rusak.

Sekarang semua–mua telah laku jadi barang dagangan. Apapun laku dijual. Mulai yang dari alam, hingga pikiran dan manusia itu sendiripun laku dijual. Berapa harganya tentulah bersaing antara penjual satu dengan lainnya. Itulah hukum pedagang. Pedagang akan selalu cari untung, meski yang dijual lumpuh dan buntung. Meski yang dijual manusia
juga. Pedagang akan selalu cari cara, biar si manusia yang dijual tidak merasa dijual belikan. Aku juga salah satu dari manusia yang diperjual belikan itu. Namaku Budi. Yang saban harinya bekerja juga kuliah. Bekerjaku buat kuliah. Kuliahku buat bekerja juga nantinya. Read the rest of this entry »


Suwandi di Surabaya, Suwandiisme di Malang Raya

February 20, 2013

ijazah

Oleh : Yusuf Al Esvaram*

Walau agak provokatif judul status di atas, tapi ini yang saya tangkap selama kuliah satu semester di IKIP Budi Utomo Malang. Kampus swasta, sederhana, lebih banyak “fitur” manual daripada “fitur-fitu firtual”, krs-san model lawas gak pakai online-nan segala, gedung kampusnya ada 3 walau 1 diantaraya milik “bersama” dengan kampus lain, hanya satu yang saya bisa pastikan, disini justru saya bertemu dengan sosok-sosok Suwandi baru, dengan ragam toleransi terhadap keadaan mahasiswanya.

Siapa Suwandi? Apa itu Suwandiisme?

Suwandi adalah sosok dosen saya ketika berada dikampus Unesa Jurusan Pendidikan Sejarah FIS dulu. Sosok yang banyak berkoar “josss..!!!” ketika mengajar, cenderung toleran-walau kadang agak tidak mudah ditebak isi pikiran beliau apa. Sosok doktorandes dalam gelar, namun saat bertemu mahasiswanya selalu berbicara “saya ini cocoknya dipanggil doktorambles rek!” dan suka menuliskan nama pena “Cak Wandi” daripada nama dan gelar akademis resminya sendiri-yang kalau “pak dan bu dosen” yang lain akan marah luar biasa bila mahasiswanya salah menulis gelar akademisnya dengan sentakan, “gelarku iku suwi olehe rek!”. Read the rest of this entry »


Lelaki Dalam Tubuh

January 7, 2013

1216179910976832476czara1_couple.svg.svg.hi

Oleh : Medi Bilem*

            Ini jam 11 malam dan besok hari Senin, tugas kuliah mesti selesai, tapi duduk bersamamu senantiasa lebih menyenangkan dari mengisap ganja dan meminum bir Singha.

Jadi biar tugas itu menunggu, hingga subuh, hingga pagi, biar saja. Mari bercinta..

*****

Malam ini, dalam cangkir kopi, satu meja, dan kau pun berbicara ..

            “Ada lelaki dalam tubuhku, Med.”

(Tentu sayang, ada lelaki, ada perempuan, ada tuhan, ada setan, ada darah, alkohol, kopi, teh, nasi goreng, kebab, onde-onde, wajik, semuanya ada sayang) Read the rest of this entry »


 

NEGARA MARITIM: Hanyalah Puing Sejarah

December 22, 2012

79perahu cadik di didnding borobudur

 

Oleh: Musthofa Ghulayayni

Ada hal penting yang tidak lagi menjadi perhatian publik bahkan ketersediaan literatur sejarah yang juga minim mengenai cerita maritim negeri ini mengakibatkan isu tentang maritim seakan sudah punah dan tidak lagi menjadi penting dalam kajian sejarah dan kajian ilmiah. Terakhir kali isu maritim yang berkembang yaitu soal konflik “ambalat” antara perairan perbatasan Indonesia dengan Malaysia, itu pun tidak mampu membangkitkan etos bangsa ini untuk mengkaji kembali tentang sejarah maritimnya kecuali sikap reaksioner dengan semangat nasionalisme yang setengah matang.

Sementara kelatahan media televisi, internet dan koran menggiring masyarakat pada sebuah isu-isu fiktif yang cenderung provokatif misalnya, terorisme (terakhir tentang ancaman bom Solo), penistaan sebuah agama (munculnya film innocent of muslim), dan masih banyak tayangan-tayangan cabul lainnya yang menjebak pada sikap heroisme semata. Maksud penulis bukan berarti semua itu tidak penting akan tetapi akan memunculkan sentimen masyarakat ketika memandang kelompok atau golongan lain yang tidak sealiran dengannya. Read the rest of this entry »


Melankolis

December 6, 2012

Oleh : Iwan Soebakree 

Gak tau kenapa hari ini, aku rasakan sedikit melankolis. Semua orang pasti tahu apa itu melankolis. Sebuah kondisi dimana keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu, sedih, dan  muram. Soe Hok Gie pun pernah mengalaminya. Dalam catatan hariannya dia pernah rasakan situasi itu. Saat itu dia frustasi dengan kondisi sekitarnya. Dia terbuang tapi tetap konsisten dalam memegang idealisme. “Lebih baik terasing daripada harus mengalah pada kemunafikan”. Itulah kata-kata yang yang menjadi jawaban atas realita tersebut. Dalam kesendiriannya dia tulis sebuah sajak untuk orang yang di cintainya. Rangkaian kata yang romantis, untuk orang yang dia kasihi. Harapan terakhir Soe Hok Gie untuk bersandar karena kelelahan pisikis yang amat berat saat itu. Read the rest of this entry »


Indonesia? Mari Mabuk, Bakar Dupa, Kita ke Surga

October 13, 2012

Oleh : Medi

Med, menurutmu gimana sih Indonesia dahulu dan Indonesia hari ini?

Uwah…

Tolong ambilkan Smirnoff di kulkas dan putarkan lagu Rage Against The Machine volume maximal. Jangan ganja di tumpukan koran koleksiku, karena aku tak hendak relax dan tertawa berbicara tema ini. Jangan putar Bob Marley apalagi yang Don’t Worry Be Happy…tak pas buat bincang tema kita kali ini. Tinggal setengah botol? Tak apa, itu sudah cukup. 3 gelas kecil aku sudah mabuk, 5 gelas tak terdengar normal bicaraku di telinga, dan 10 gelas maka kamu akan terlihat seperti  bidadari bagiku dan pagi-pagi tentu engkau tak akan perawan lagi.

Tak apa, bawa setengah botol itu. Hadiah kawan baik ku dari jalan-jalan di negeri utara katanya. Setengah botolnya habis di tahun-tahun lampau, di tahun 66, tahun 74, tahun 96, tahun 98 di Pulau Jawa. Sebelum itu berbotol-botol arak dan tuak telah menjadi darah, dari 1227 hingga 1965. Kubuang jadi urea, darah, nanah, tahi, ludah, ingus juga di Jawa. Dan bukankah Jawa itu Indonesia juga kan? Entahlah, lama aku tak membuka peta. Read the rest of this entry »


 

Surabaya Kini, di Sore Hitam Putih

September 27, 2012

Oleh : Mega Syamllan*

Ibarat terbang jauh melintas laut, jauh sekali sekali dari sarang nyaman penuh cinta. Datang kemari ke hutan luas sebagai dunia baru yang sama sekali asing,dan misterius entah dengan tanaman beracunnya, binatang-binatang sesama penghuni hutan yang menatap tajam, penuh curiga.

Mencoba menyamankan diri, karena disinilah masa depan. Aku mencarinya disini. Dengan tekad penuh bahwa kekuatanku yang jauh disana bahagia, dengan harapan bahwa mereka di balik langit akan bangga. Sungguh banyak sekali mimpi disetiap tidur, semangat disetiap bangun, senyuman di setiap lemah dan keyakinan semua baik-baik saja.

Aku baru disini, tetapi Atas nama Tuhan, aku yakin hidup disini akan berjalan mulus, akan ada mereka, bunga, rumput, angin, pohon-pohon kuat, jamur-jamur atau apa saja yang akan aku temui disini, mereka yang akan aku sebut TEMAN.

Indah sekali saat membayangkan itu. Aku punya teman. Teman di tempat baru. Teman yang akan saling berbagi,aku akan merasakan wangi-wangi mereka, elusan mereka, berlindung pada mereka, bermain, tertawa, mungkin turut merasakan kesedihannya , walaupun aku hanya seekor burung kecil aku bisa memberikan kehangatan besar pada mereka. Aku yakin sekali itu. Read the rest of this entry »


Hiruk Pikuk – ku

September 17, 2012

Oleh :  Ilham* 

Tak tahu darimana harus memulainya. Mungkin terlalu lama tak menulis atau bahkan baru sadar ternyata aku belum pernah menulis? Tak tahu aku. Yang ingin kubagi disini hanya secuil peristiwa yang pernah hadir dalam hidupku.

Aku bukan penulis ulung, layaknya Pramoedya dengan Tetralogi Buru nya ataupun Dewi Lestari dengan Supernova nya. Aku tertarik untuk menulis karena mereka inilah yang memberiku sepercik inspirasi  bahwa dengan menulis kita bisa mengungkapkan, meluapkan ataupun menggambarkan apapun yang ingin kita sampaikan. Aku masih ingat kata teman ku bahwa dalam tulisan lah seseorang dapat dikatakan ada atau hidup. Apabila orang tersebut dapat di gambarkan sebagai suatu sosok di dalam tulisan. Dengan kata lain, seorang itu bisa meng “ada” kalau ia menulis, ditulis atau tertulis.

Sekarang, ijinkan aku mencoba, ijinkan aku menulis, dalam huruf…

Ini cerita tentang sepenggal hidup. Hidupku. Jangan bayangkan kisah, jangan harapkan sepenuhnya. Ini hanya penggalan, yang mungkin tak berarti. Tapi tetaplah hidupku, isi otakku, meski dalam penggalan cerita. Read the rest of this entry »


Annelies

August 10, 2012

  Sebuah Refleksi Kekinian atas

Novel Bumi Manusia

Oleh : Iskandar La Ngali*

Sebuah kisah trauma tragis seorang pejuang hak dan martabat manusia, bahwa manusia bukanlah untuk dijajah dan direndahkan secara terus-menerus, menjadi sosok penginspirasi pada generasi selanjutnya. Perjalanan kisah kehidupan yang liku-liku membawanya pada sebuah kehidupan yang mapan tapi dirasa masih kurang. Kebahagiaan yang menjadi milik banyak orang tidaklah berlaku pada mereka. Pada Annelies, Nyai Ontosoroh, dan Minke.

Annelies adalah gadis belia yang terlahir dari rahim kolonialisme. Perkawinan seorang ibu pribumi yang bernama Sanikem dengan Herman Malemma, seorang tuan Belanda. Minke adalah anak seorang priyayi yang disekolahkan dengan harapan untuk bisa menjadi pewaris tahta feodalis dari tingkat pribumi hingga kolonialis, tetapi tercerahkan lewat didikan penjajah. Nyai Ontosoroh adalah Sanikem yang berubah nama setelah menjadi nyai sang tuan Belanda. Terbuka hatinya setelah merasakan derita pribumi dalam cengkraman penjajah, memaksanya melakukan pembelaan atas hak dari pribumi. Annelies dalam “Bumi Manusia” adalah simbol perjuangan pribumi yang mewarisi darah penjajah sehingga membuatnya harus sadar akan siapa dan dimana dia harus berpihak.

Keseharian mereka hanya membangun kehidupan yang lebih baik, membayar hutang kepada penjajah untuk bisa mandiri. Para pekerja dibuat menjadi raja diatas tanah dan pundak masing-masing. Sehingga tidak teralienasi dengan kondisi yang ada. Alienasi dalam pengertiannya adalah keterasingan individu dari diri mereka sendiri dan orang lain. Menurut Marx dalam Economic And Philosophical Manuscripts of 1844, keterasingan berakar dalam struktur sosial yang menyangkal sifat esensi manusia. Sebuah keadilan terhadapan buruh yang coba diangkat untuk diterima sebagai kebenaran oleh pribumi dan kaum kolonialis. Usaha yang membuat banyak orang mulai melirik. Ada yang sinis dan tersenyum, ada yang merasa disaingi, sehingga harus membangun kekuatan untuk melawan, mempertahankan dominasi kekuasaan dalam warna “Bumi Manusia”. Ada pribumi, priyayi, dan murni penjajah. Read the rest of this entry »


PENDIDIKAN BERBAU PENJARA

June 27, 2012

Oleh: Musthofa Ghulayayni*

Rupanya masih menarik dan terus akan menjadi perbincangan publik tidak hanya para akademisi melainkan non akademisi pula bicara tentang “pendidikan” di bumi Indonesia ini. Sebab pendidikan akan menentukan masa depan suatu bangsa, bila visi pendidikan tidak jelas , yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Beberapa hari yang lalu refleksi tentang “Hardiknas”, tepatnya tanggal 2 Mei 2012 beragam cara dilakukan untuk mengekspresikan kepedulian tentang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), salah satunya adalah upacara bendera oleh sebagian besar lembaga pendidikan mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai pada Perguruan Tinggi (PT) baik negeri atauapun swasta. Bagi penulis, ditengah kesenjangan yang begitu tajam dalam akses pendidikan antara golongan kaya dan golongan miskin, rendahnya sebuah mutu pendidikan, masalah kapabilitas guru yang diragukan, pembiaran Pemerintah terhadap infra struktur sekolah, sempitnya lowongan pekerjaan bagi sarjana, dan demokratisasi pendidikan yang tumpul nan usang, di hari pendidkan nasional, pemerintah hanya bisa memberikan intruksi kepada seluruh lembaga pendidikan untuk melaksanakan upacara bendera.

Hal itulah yang disebut “doxa” oleh Pierre Bourdieu. Doxa adalah sudut pandang penguasa atau kelompok dominan yang menyatakan diri dan memberlakukan diri sebagai sudut pandang yang universal. Bahwa sekolah membuka kesempatan sama bagi semua orang merupakan doxa. Sudut pandang ini diterima oleh semua, meski sebetulnya hanya menguntungkan kelas menengah ke atas, bukan kelas miskin.

Perlu kiranya untuk penulis refresh kembali histori tanggal 2 Mei menjadi Hari Pendidikan Nasional. Berawal dari sebuah kegigihan akan perjuangan untuk membangun pendidikan bagi masyarakat pribumi oleh seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, suatu protes tajam menuntut pemerataan pendidikan yang sama tanpa dikotomi kelas terhadap kaum kaphe (kolonial) melalui tulisan-tulisannya. Salah satunya ialah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang berisi sebuah kutipan: “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Read the rest of this entry »


Ada Yang Pengen Jadi Orang Jelek???

May 23, 2012

Oleh : Iwan Soebakree*

Tetralogi Pulau Buru, Pramudya Ananta Toer sudah selesai aku baca. Segala pembicaraan dengan kawan tentang kemana larinya permasalahan yang dibahas dalam novel itu sudah berulang-ulang kami bicarakan dan herannya seperti tidak ada habisnya. Dalam beberapa pembicaraan aku terdiam karena yang dibahas yang kebetulan tidak menancap di memori otakku. Entah terlewat atau memang bisa jadi daya tangkapku yang kurang, tapi  justru aku malah senang karena dengan pembahasan itu seakan-akan melengkapi hal-hal yang aku lewatkan tadi. Aku manggut-manggut dan pikiranku melayang ke masa lalu. Ya benar. Aku mengalami seperti yang ada dalam novel itu, dan mungkin juga terjadi pada manusia-manusia lain. Sebuah kultur sosial yang menurutku harus diluruskan. Aku sendiri kurang menguasai tentang teori-teori sosial atau teori tetek bengek lainnya. Jadi dalam tulisan ini, semua mengalir berdasarkan apa yang ada di kepalaku. Dan mohon maklum pada anda-anda yang mengerti, karena aku hanya ingin menulis.

Aku terlahir dengan rambut keriting (dari mana dan kapan istilah keriting itu muncul aku sendiri tidak tahu) yang aku yakin itu adalah pengaruh gen dari bapakku. Sejak kecil keriting rambutku ini sudah dimanfaatkan oleh teman-teman masa kecilku sebagai bahan olok-olokan mereka. Begitupun saat beranjak dari SD ke SMP terus ke SMA, sasaran olok-olok karena keriting rambut terus menghujani aku. Sekali waktu aku merana dan bertanya-tanya, mengapa rambutku harus keriting? Ahh… andai saja rambutku gak keriting pasti aku tidak akan dapat olok-olok seperti ini. Keluh kesahku semakin sering muncul seiring dengan olokan-olokan yang semakin gencar dengan berbagai modifikasi. kiranya benar juga seperti yang dikatakan seorang teman belakangan. Di negeri yang aneh ini yang miskin adalah yang salah. Dan dalam aspek pergaulan sosial masyarakat kita, orang miskin itu salah satunya adalah aku yang berambut keriting, mereka yang berkulit hitam (meski bukan negroid), yang berbibir tebal, bermata sipit, hidung pesek, dan lain sebagainya. Selanjutnya apa yang akan mereka katakan tentang keluh kesah ini?? Salah sendiri rambutmu kriting! Jeedeeerrr…. Akhirnya aku tetap jadi orang yang salah. Fiuhh… berattt….!! Read the rest of this entry »


” A M U K “

April 23, 2012

Oleh : Kyand Cavalera

Maret akhir 2012

Hari ini serentak digelar aksi menolak kenaikan harga BBM di seluruh negeri. Mulai dari mahasiswa, buruh, seniman, aktivis, partai, turun kejalan. Sejak kabar tersebut masih berupa wacana, aksi –aksi sudah digelar. Wajar saja imbas dari kenaikan harga BBM akan menaikkan pula harga – harga komoditi lainnya. Sedangkan sudah jadi budaya dinegeri ini pasak selalu lebih besar dari pada tiang.

Aku heran pada Indonesia ini. Sedari kecil aku selalu didongengkan tentang indahnya negeri ini, tentang gemah ripah luh jinawinya, tentang kekayaannya. Pernah juga aku mendengar Koes Plus mendendangkan lagu “ ….kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman…” begitu aku mendengarnya. Tentu saja aku bangga menjadi bagian dari negri ini. Kalau tanah negeri ini kaya, berarti aku sebagai salah satu penghuninya pun kaya. Namun itu hanya sebuah perasaan yang semua terjadi saat aku kecil. Indonesia tak pernah benar – banar kaya, akupun demikian.

Hari ini entah sudah berapa banyak suara yang diteriakkan para demonstran lewat orasinya menolak kebijakan penguasa. Kata – kata lewat teriakan dan spanduk terbentang keluar , panas bak api.  Kalau harga BBM naik, SBY – Boediono harus turun , BBM naik, rakyat tercekik, Tolak liberalisasi BBM, dan lain sebagainya. Berkali – kali sudah suara protes menyala di jalanan dan jawaban selalu saja tak pernah mengenakkan.  Aku sadar kalau undang – undang di negeri ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan penguasa. Dan definisi penguasa adalah DPR dan Presiden. Pertanyaannya adalah aku, kita, kamu, kalian, selain mereka di sebelah mana? Sekolah mahal, bahan pangan bakal naik, makin miskin saja aku. Ah, aku merasa tertindas dan aku ingin merdeka. Read the rest of this entry »


Kamu Yang Sedang Tidak Cantik, Sedang BBM Rencananya Naik

April 3, 2012

Catatan:
ditulis 29 Maret 2012, jam 01:09 wib

Terima kasih untuk novel Larung karangan Ayu Utami dan teman-teman yang telah begitu berani dan rela berpanas berpeluh turun aksi berdemonstrasi menolak rencana kenaikan BBM kemaren.
Salut untuk kalian, tetap semangat, dan CAYOOOO!!!!

Oleh : Medi Bilem

Aku tak tidur malam ini,
aku merasa nyaman,
sedang merindukanmu, bukan fisikmu bukan pula isi otakmu.
Entah apa, hanya kamu, tidak peduli apamu.

Yah, aku terpukau pada email Yasmin Moningka kepada Saman.
Saman yang sedang mandi dan melihat kaki. Atau Shakuntala yang menari.
Iya, tubuhku tidak hanya menyimpan aku yang satu, tetapi aku yang beberapa.

Aku sedang tak ingin membaca buku kuliah. Aku sedang kangen membaca yang selain itu.
Aku sedang jenuh dengan teori, sistem sosial, sistem hukum dan sistem ekonomi.

Bukan hendak tak realis, sekedar menulis untuk “ekspresi jiwa”. Melacur di Eropa layaknya Raden Saleh dalam Tetralogi Pramoedya. Tetapi ada titik aku lelah dan hendak sejenak berebah.
Sayang…,
jika kau tanya soal BBM yang rencananya akan naik bulan depan, tentu sisa otak dan tenaga yang aku punya akan kujawab bahwa itu penghinaan, penipuan, penjajahan oleh mereka yang sedang berkuasa hari ini atas kita manusia-manusia Indonesia yang tidak sedang nyaman, yang tidak punya kuasa. Read the rest of this entry »

______________________________________

Catatan Gila Soal Cinta (Bag. 2 – Habis)

February 7, 2012

Oleh : Kyand Cavalera*)

Cinta, aku suka kata itu. Bukan begitu kawan? Kau tahu, sudah beberapa hari ini aku tak bertemu dengannya. Padahal ingin sekali diri ini. kau tahu lah orang yang dilanda rindu berkepanjangan. Sudah lama sekali tak bersua dengannya. Ah, romantisme belaka. Kenyataannya aku terlalu pengecut. Sudahlah biarkan saja tetap jadi bebek liar. Kebebasan dia yang punya. Yah, kukira cinta hanyalah sebuah bahasa dari system kerja otak bersama hormon tubuh. Bisa juga dibilang Libido, peninggalan masa purba, atau hasil dari Evolusi jutaan tahun.

Bicara soal kebebasan yang dasarnya milik semua orang, bagaimana dengan cinta apakah juga membebaskan? Ya,ya,ya aku tahu cinta yang itu pilihan masing – masing orang. Mau apapun itu pilihan mereka, tak ada hak untuk melarang. Toh ending nya juga sama hubungan antar kelamin. Petani juga berhubungan dengan sawah, meski tak melibatkan kelamin. Tentulah Adam akan patah hati bila Hawa direbut orang. Kupikir petani juga akan rela sawahnya di ambil. Jangankan petani, tentara pun akan gundah. Read the rest of this entry »

——————————————————————————————————————————————————-

Catatan Gila Soal Cinta (Bag. 1)

Oleh : Kyand Cavalera*)

Selamat malam dan selamat berjumpa kembali alat kerja. Maaf, aku ingin sedikit Romantisme sedikit. Kugambarkan sedikit keadaan atau suasana saat aku bersamamu. Sebab tentu saja kau tak bisa berucap bukan, makanya aku yang menggambarkannya untukmu. Malam ini di peralihan hari dari hari minggu ke senin. Cuacanya cerah sekali dan angin bergulung – gulung di depan rumah. Syukurlah juga disini air cukup berlimpah ruah.

Maaf kalau panggilanmu kurang mesra. Dear diary terlalu cute ( imut ), dan tentu saja kurang cocok. Alat propaganda juga kurang cocok dan terlalu berbau politik. Tapi tenang saja kau tetap akan kuberi nama, dan namamu adalah Alat kerja. Biar terkesan kaku  tetap tak kurang makna, style retro atau klasik. Aku ingin berbagi kisah padamu malam ini. Bisa juga dibilang curhat. Jujur, aku sedang jatuh cinta. Tentu kau tahu maksudku bukan ?? Aku ulangi AKU JATUH CINTA.

Ah, percuma juga. Akan aku gambarkan padamu kawan. Cinta adalah ( terdiam berpikir mencari arti tentang cinta namun tak juga dapat ) Terlalu banyak tafsirah mengenai barang yang satu itu. Tapi yang jelas banyak orang yang mengagungkannya. Aku jatuh cinta pada seorang gadis kawan. Tentu saja cantik parasnya, seorang bidadari. Tinggi semampai dengan wajah bak pualam. Hidungnya mancung seperti Bapaknya R.A Kartini, itu kalau pernah lihat fotonya. Bisa kau lihat foto itu di buku “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer. Bibirnya mirip Angelina Jolie, seksi. Tentu saja ditambah perangkat – perangkat yang menarik lainnya. Kalau sudah begini aku teringat ibu. Kau ingin tahu bagaimana awalnya, hingga aku dibuat gila olehnya. Akan kuceritakan. Read the rest of this entry »

___________________________________________________________________________________

My Miss Universe

October 6, 2011

Oleh : Medi Bilem

Puteri Indonesia 2009 Qory Sandioriva (18), tengah membawa nama Indonesia dalam ajang Miss Universe 2010 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Qory berangkat ke negeri Paman Sam itu pada Jumat, 6 Agustus lalu. Dia didampingi Kusumadewi dari Yayasan Puteri Indonesia.

Di Las Vegas, Puteri Indonesia dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu harus berkompetisi dengan 83 perempuan cantik dari berbagai belahan dunia untuk merebut predikat ratu sejagat.

Putaran ajang pemilihan ratu sejagat itu dimulai 7 Agustus lalu. Malam puncaknya akan dihelat pada 23 Agustus nanti di Mandalay Bay Resort & Casino, Las Vegas. Sejauh ini, banyak kegiatan yang dilakukan mahasiswi Universitas Indonesia tersebut. Salah satunya, menjalani pemotretan dengan balutan gaun malam dan swimsuit. Berpose dengan baju renang, seperti pengalaman sebelumnya, menjadi hal yang cukup sensitif di tanah air.

Tapi, itu harus tetap dilakukan oleh para peserta Miss Universe, termasuk Qory. Sebab, pemotretan dengan menggunakan baju renang merupakan persyaratan administrasi. Jika tidak, peserta akan didiskualifikasi. “Tapi, sebenarnya itu tidak memberikan kontribusi penilaian yang besar,” kata Head of Communication Department Yayasan Puteri Indonesia Mega Angkasa. Seperti yang dilakukan Puteri Indonesia sebelumnya di ajang tersebut, Qory akhirnya memilih mengenakan busana renang one piece.( jpnn.com 13/08/2010)

Terpilihnya Qory Sandioriva sebagai Puteri Indonesia 2009 sangat disesalkan oleh ulama Aceh, karena tidak mencerminkan sebagai puteri dari daerah itu yang menerapkan Syariat Islam.

“Qory bukan cerminan puteri Aceh. Untuk itu, ia tidak berhak mengatasnamakan rakyat Aceh. Ini sangat kita sesalkan,” kata Sekretaris Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tgk. Faisal Aly di Banda Aceh, Sabtu (10/10), menanggapi terpilihnya Qory Sandioriva sebagai Puteri Indonesia 2009.( kapanlagi.com 11/10/2009)

Ternyata, aksi bertelanjang dada tidak dilakukan oleh semua finalis Miss Universe 2010. Buktinya wakil dari Indonesia, Qory Sandioriva berani menolak untuk tidak mengumbar kemolekan tubuhnya.

Keputusan Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva tidak tampil topless disampaikan Head of Communication Department Yayasan Puteri Indonesia Mega Angkasa. Menurut Mega, finalis Miss Universe asal Indonesia tidak akan melakukan aktivitas sensasional selama mengikuti ajang tersebut.

“Aksi ‘topless’ tidak masuk dalam daftar penilaian Miss Universe 2010. Itu mungkin dilakukan para finalis lain yang ingin mencari sensasi,” tutur Mega Angkasa yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Kamis (12/8/2010).( Detik.com 13/08/2010)

Read the rest of this entry »


Bangsaku Bangsa Budak

August 7, 2011


Oleh : Kyand Cavalera*

Zaman komunal primitive..

Zaman perbudakan…

Zaman tuan tanah dan para raja… permodalan….

Lalu..

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal – hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain – lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya “.

Jakarta 17 – 08 – 1945.

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno – Hatta.

Di tiap – tiap periode ada hari, bulan, tahun, yang silih berganti. Begitu banyak perjalanan dari negeri ini, baik yang tercatat dan yang hilang diterpa masa. Manusia dari tiap – tiap periode lah yang membikinnya. Dan sejarah terbentuk. Dikumpulkan dari putaran masa, dan dari situ generasi belajar mengenal akar dan asalnya.

…. Indonesia tanggal 19 juli 2011. Disebuah desa…

Masih cerah seperti biasanya. Kadang – kadang saja turun hujan dengan tak terduga. Cuma hujan biasa, cukup untuk memberikan efek sejuk kepada tanah. Angin juga masih berhembus seperti biasa menggerakkan batang pohon, dedaunan, debu, hingga rok para murid perempuan di sekolah itupun bila angin berbaik hati mau sedikit kencang. Read the rest of this entry »

_________________________________________

TKI ILEGAL KOK DILINDUNGI ??

July 22, 2011

Oleh : Hana Lidiana*

Masih ingat dengan berita tentang para TKI / TKW di Arab Saudi yang terlantar sehingga membentuk “komunitas” sendiri di bawah jembatan tol ?

Kalau masih ingat.. pasti kamu ngikutin berita kelanjutan yang ini dong .. kalau nggak salah itu.. kabarnya pemerintah RI akan memulangkan mereka dengan dana khusus untuk para TKI tersebut. Bener nggak sih tuh gosip ? *nggosip mode : on*

Iyes ! lo bener ! pemerintah RI berencana akan memulangkan para TKI yang terlantar tersebut menggunakan dana / anggaran khusus untuk para TKI sebesar xxx Milyar !! eh.. apa xxx Triliyun ya? Ah, whatever lah ! yang penting dua gelar duit itu sama – sama gede !

Kalau ada yang bertanya, “siapa yang tidak setuju dengan rencana ini?” … sayalah yng akan menjadi orang pertama yang pamer ketiak (baca: angkat tangan) ! mau tau kenapa ? heelllloooooo ?? lo semua gak liat lebih lanjut beritanya ? omaigot … capek dweeh .

Coba kalian telusuri lebih dalam *kalau perlu sampai dibawah alam sadar anda* background ke-TKW-an mereka ! mereka itu ILEGAL ! nggak resmi ! nggak sesuai dengan prosedur !

Mereka itu berangkat ke Arab Saudi dengan cara instan. Mereka berangkat dengan paspor turis, padahal kan kalo yang ilegal pake paspor kerja. Mereka kok pake paspor turis ya ? mau kemana buk ? melancong ? titip oleh – oleh boleh ? nggak banyak kok .. kurma satu kontainer aja … *ngaco!* Read the rest of this entry »

_________________________________________________

Jakarta, Yang Bodoh,…Yang Tertawa

July 10, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Selamat ulang tahun Medi…selamat ulang tahun Jakarta….
22 Juni tak penting, kecuali bagi orang tua Medi, tepatnya ketika tahun 1980 saat anak ini lahir, dan beberapa manusia yang di KTP atau Paspornya tertera sebagai warga Jakarta, Warga Negara Indonesia. Tentu tak semua, maksudku kadar pentingnya bagi semua warga Indonesia (bahkan sepengetahuanku sampai hari ini tak bakalan ada acara kenduri yang meriah di provinsi ujung barat sekaligus ujung timur Negara ini, yang kumaksud Aceh dan Papua (mungkin karena belum pernah aku temui tulisan atau lagu orang Aceh dan Papua yang manis tentang Jakarta) ketika kota Jakarta memperingati ulang tahunnya yang kesekian ratus sekian…Sebenarnya males nulis ini, karena mesti buka internet, baca buku A buku B, agar tulisan ini tidak jadi bualan yang menyedihkan, atau pemancing kerusuhan tanpa dibekali landasan material yang valid sebagai bahan, tetapi sebagaimana kata yang kusematkan sebagai judul tulisanku, tentu bukan tanpa alasan. Yup, yang bodoh yang tertawa. Lalu jika kukembangkan tentu saja menjadi, yang terbodoh yang paling keras tertawanya, yang paling ngotot jelas paling keras kemarahannya, dan yang mengerti ( dan ini semoga, meski pesimis) yang akan membandingkan dengan literature-literatur yang ada dalam pustakanya untuk meluruskan tawa-tawa konyol Indonesia. Read the rest of this entry »

_____________________________________________

Yang Hilang, Yang Kurindukan

By: Shinta Dianatalia*

Buku, buku dan buku. Dari sanalah aku mulai menulis. Berawal dari note-note kecil yang aku tulis untuk mengomentari sebuah buku yang aku baca hingga catatan personal yang kutulis untuk kepuasan pribadiku, aku mulai suka menuliskan apapun yang kurasakan. Dari kecil oleh kedua orang tuaku yang paling kusayang, aku hanya dikenalkan pada komik. Ya…apapun itu aku masih bisa menghargai, dari sana aku bisa mengerti gambar chibi-chibi walaupun sampai sekarang aku masih belum bisa (dan tak yakin bakal ada talent!!) untuk bisa mengambar sebuah manga.

Namun semuanya berubah ketika aku mulai masuk SMP. Disekolahku yang baru ini, memiliki sebuah perputakaan TERBESAR yang pernah aku lihat. Sebentar teman, jangan kau sewot dulu, jangan kau bayangkan perpustakaan itu seperti Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Konggres di Amrik sana yang memang pantas mendapat gelar terbesar, biar kuceritai kalian. Pada saat itu, saat itu aku baru melihat satu perpustakaan saja seumur hidupku yaitu saat aku duduk di Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, perpustakaan di sekolah dasarku hanyalah sebuah ruangan berukuran 2 x 4 meter yang cuma bisa menampung sekitar 10 orang saja. Itu pun harus rela sesekali kakiku terinjak. maklumlah saat itu aku tinggal didesa dengan tingkat minat baca yang rendah (tetapi bahkan saat aku udah gede n kuliah gini, di kota ternyata meski beda skala dan model, minat bangsaku atas bacaan kurasa tak beranjak jauh dari mengharukan…), mungkin itulah alasan kenapa sekolahku membangun ruangan seperti itu, sebuah ruang yang berbentuk seperti gudang menaruh buku, hanya karena diatasnya ada plang kecil bertuliskan PERPUSTAKAAN maka kami semua mesti menyebutnya itu…ah, betapa masa kecil sekolahku, betapa mengenaskan mengenal untuk pertama kalinya bagi seorang anak, sebuah kata “perpustakaan” dan disodorkan sebuah gambaran seperti itu? Ah, bangsaku, bangsa besar, tetapi hanya mampu untuk menyediakan ruangan 2×4 meter untuk memaknai sebuah kata mentereng bernama PERPUSTAKAAN…. Namun bagaimanapun keadaannya, itu merupakan sekolah pertamaku, tempat dimana aku mengenal huruf dan kemudian menulisnya. Mulai dari yang bulat bergelombang (huruf “o” yang pada saat kelas satu aku masih belum bisa membuatnya belum sempurna sehinga terlihat seperti telur dadar) atau tulisan tegak namun bergoyang seperti rumput alang –alang yang tubuh tinggi menjulang (ini saat belajar menulis latin) hingga bisa mendekati sempurna yang layak dikatakan sebagai tulisan bukan chiken track… Read the rest of this entry »

____________________________________________

NO TITLE JUST NOTE

Oleh : Hana Lidiana*

===========================================================================
SEORANG GADIS UMUR 13 TAHUN DIHAMILI PACARNYA KARENA ALASAN CINTA”

wussssss….. prett .. ngooooookkk … oh my god !! KLISEEEEE, FATAMORGANA, KAMUFLASE, dan etcetera..

===========================================================================

hashh !! lagi – lagi masalah percintaan !! sampe capek dan sumpek aku..

tapi, yah… gimana lagi? hidup ga ada cinta itu gak mungkin !! hidup kalo ga ada cinta, pasti bisa dipastikan selalu ada perang, permusuhan, dan yang PALING PENTING … gak ada kita – kita iyalah ! kita ini lahir dari adam – hawa. bayangkan kalo adam dan hawa gak punya rasa cinta??? pasti di bumi ini masih mereka berdua aja dan segerombolan spesies – spesies binatang purba … nah lo ??! lo bisa bayangin (lagi!) dong, seandainya itu terjadi, lo bakal gak pernah ngrasain yang namanya FIRST KISS, HAVING A DATE, HAVING A SEX dan HAVING A BABY … what a pity !!

tapi itulah CINTA ! cinta itu ABSURD ! ga bisa dijabarkan dengan gamblang apa itu artinya, apa itu definisinya, gimana bentuknya .. tapi kita bisa merasakan itu.. Read the rest of this entry »

_______________________________________________

“ BENTENGAN ” – SEBUAH PERMAINAN ANAK NEGERI

May 27, 2011

(EVOLUSI PERMAINAN BERAKAR DARI BUDAYA UNTUK MEMBANGUN KARAKTER BANGSA)

Oleh : Aries *

Dolanan bocah atau permainan anak-anak mungkin tidak asing kita dengar, atau kita jalani waktu masa kecil, terutama saat kita memasuki pendidikan formal TK dan SD hingga SMP. Ada goba sodor, dakonan, patel lele ( pukul tongkat ), engkle, bentengan dan beberapa permainan anak-anak kita dulu. Tapi semua itu kini seakan menjadi “Barang “ langka atau bahkan telah lenyap dari pandangan mata.

Entah apa sebab, semua permainan tradisional itu seakan-akan enggan untuk tampil kembali atau sengaja tidak ditampilkan kembali, berganti dengan bentuk-bentuk permainan yang lebih berkarakter individualis, kompetitif dan liberal. Coba kita lihat, arena-arena rental game play station, game online yang berjubel anak-anak seusia SD dan SMP. Bagaimana antusias mereka pada ide-ide permainan elektronik visual tersebut, yang tanpa disadari bisa menjadikan candu. Lebih nyata lagi bahwa kenyataan tersebut telah menjadikan individu-individu yang berkompetisi untuk menjadi pemenang……… ya jadilah bentuk skema nyata antara pemenang dan yang kalah. Lantas, apa yang kemudian hari terbangun bentuk dari anak-anak tersebut dimasa selanjutnya?????????????

Pernahkah kita sadari bahwa game elektronik telah membudaya, dan secara tidak sadar, kitapun telah menyepakati keberadaanya. Lantas kemana dolanan anak-anak buah karya leluhur bangsa yang lebih menitik beratkan untuk membangun karakter budaya dalam kebersamaan?? Read the rest of this entry »

_______________________________________________________________________________________________

KEDONDONG vs DURIAN


Oleh : Jennifer Rad*

Cantik ataupun tampan tidak menjamin apakah orang itu baik dan sempurna.

Ibarat kedondong,

semua orang yang melihat kulit kedondong yang halus membuat orang-orang  ingin mencicipi,

tetapi setelah itu orang-orang akan terkejut karena rasa kedondong yang ASAM,

sebaliknya durian yang kulitnya berduri,jelek,dan kasar membuat orang-orang enggan menyentuhnya,,

tetapi sesungguhnya durian memiliki rasa yang manis,jika orang-orang mau mencobanya…

Tetapi kenyataanya antara kedondong dan durian sama-sama tidak menguntungkan

KEDONDONG akan dijauhi setelah orang-orang mengetahui rasanya yang ASAM

DURIAN pun tidak ada yang mendekati karena fisiknya yang buruk,,

tetapi orang-orang akan menyukainya setelah mengetahui rasa MANIS dari durian….

Sekarang bisa kita lihat pada realitas kehidupan kita sehari-hari Read the rest of this entry »

_________________________________________________________________________________________________________________

Ketika Gresik Tak Lagi Berhias Iman

By: Eetha Natnat *

Realita yang ironis untuk kota para wali yang memiliki beribu santri, puluhan pesantren yang kian menjamur dikota ini. Namun menjamurnya pesantren diiringgi juga dengan menjamurnya warung kopi panggku. Kini warung kopi yang menjadi sarana pemersatu masyarakat gresik secara tidak langsung. Yang berfungsi tak hanya sebagai ajang tempat kumpul, tempat membaca koran, sharing pengalaman, tetapi fungsi yang baik itu sekarang berubah menjadi ajang prostitusi. Realita ini tak bisa dipungkiri dan ini semua tidak hanya terjadi dikota tapi juga di pinggiran kota bahkan di pedesaan.

Ini semua bisa dibuktikan salah satuya ketika kita mencoba berjalan ke arah barat dari Gresik kota menuju daerah Mojokerto. Disana kita akan melihat banyak berdirinya warung kopi pangku berdiri berdampingan, beriringan seolah bersaing satu sama lain dan para gadis berumur belia yang menjadi pelayan nampak berjajar menunggu para lelaki buaya. Dan itu mungkin hanya salah satu contoh kecil tempat yang tidak kita ketahui lagi berapa banyak tempat seperti itu membanjiri kawasan Gresik. Sungguh realita yang ironis. Read the rest of this entry »

______________________________________________________

Borok Pelaku Jaman

Masih berpuasa hari ini. Kira – kira hari ke empat belas dan baru setengah perjalanan menuju fitri. Dan aku masih tak peduli dan terus tak makan minum sejak bedug subuh sampai bedug magrib tiba. Budaya berpuasa. Aku heran, kenapa orang lebih muak melihat orang lain tak puasa ketimbang solat. Padahal solat jadi tiangnya sedang puasa tak tahu apanya. Dan aku masih tak peduli karena sama saja dengan hari biasa. Sama saja karena aku masih berpikir bagaimana cara memperoleh duit buat bayar sekolah. Sama saja si pembecak masih mengayuh, masih jadi kuda bapak haji. Sama saja, karena si penyapu jalan, tukang di pabrik, tukang jahit, dan tukang lainnya sama denganku, masih mikir cari duit. Masih sama saja. Yang bikin beda dalam bulan ini aku jalani siangku tanpa makan atau minum. Yang bikin beda setiap dini hari aku bangun buat makan sahur, entah yang lain bisa sahur atau tidak.  Selain itu masih sama saja.

Kudengar sayup – sayup imam melantunkan alfatihah dengan cepat. Sedang tarawih rupanya. Dan kami sedang tak ikut. Ada hal penting yang sedang kami rembug bersama. Tempat kami berembug tak luas hanya beberapa meter saja panjang dan lebarnya. Berdinding papan triplek coklat yang usang dan tua. Entah pula sudah berapa umurnya. Ampas kopi tumbukan kasar berceceran dimana – mana, dibawah kami bekas pengunjung lalu. Puntung rokok, kulit telur, dan ludah juga ikut serta. Punya sahabatku dan mungkin juga pengunjung lalu. Kami masuk dibarengi sapaan dan pertanyaan seorang perempuan tua dalam logat akrab Madura “ Mesen apa cong ? “ tanyanya. Dan kami biasa memanggil ia ebok, buk, mak, yang artinya ibu.

Kopi ireng 2, kopi poteh 2, es teh 1 “ jawabku dalam bahasa madura. Setelah itu kami duduk dan menunggu sembari merokok.

***

Read the rest of this entry »

__________________________________________________________________________________________________

Mengapa Menulis?

April 20, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Entah dengan kalian, aku menulis karena kesedihan saat mengenang-ngenang ayahku.

Dia meninggal waktu aku kelas 3 SMP, itu berarti saat itu umurku sekitar 15 tahun.

Apa yang bisa kau kenang untuk seumur itu?

Bagimu tentu ah 15 tahun tentu sudah dewasa, tentu banyak kenangan yang terekam dibenak anak 15tahun, apakah itu yang menyenangkan apakah itu yang tak menyenangkan.

Bukan itu yang kumaksud dengan sedih tadi, untuk seumurku sekarang (31 thn), aku ingin berbicara dengannya selayaknya orang dewasa.

Selain bentuk fisikku, yang kulihat hari ini adalah dia mewariskan tumpukan buku,foto dia dengan kacamatanya, cerita-cerita orang tentang dirinya, ibuku, kakak dan adikku, rumah ini, teman-temannya, keponakannya,

saudara-saudaranya, beberapa potong baju dan celananya di lemari ibuku.

Tapi aku tak mengenalnya.

Aku tak bisa mengenalinya sebagai sebuah pribadi.

Aku tak mengetahui apa yang dipikirkannya.

Dia pernah kecil, remaja, dewasa sebelum mati.

Dan tiga tahap itu pasti berisi satu : PIKIRAN dan PERASAAN!!!

Dan itu aku tak mengenalnya.

Selain apa kabar, jika dia hari ini dia hadir, ingin kutanyakan padanya

apa yang kau pikirkan? bagaimana perasaanmu? apakah hidup bagimu? menurutmu kenapa kita ada? Mengapa engkau menikah? Cintakah engkau pada istrimu? Bagaimana kalian bertemu? Saat aku lahir apa yang kau

pikirkan? Saat kau tak memiliki uang untuk membeli beras buat makan keluargamu, apa yang ada dalam pikiranmu? Bagaimana masa mudamu? Apa yang paling menyedihkanmu? Apa yang kau rasakan saat melihat

ayahmu? Bagaimana ibumu, apa yang paling kau sukai dari dia? Berapa uang sakumu saat sekolah dulu? Apakah engkau pernah berkelahi? Buku apa yang kau suka? Read the rest of this entry »

_______________________________________________________________________________________________

Siluet Sepuluh Menitan

(Kisah di Stasiun Gubeng)

March 22, 2011

Oleh : Kyand Cavalera*

Tak ada yang bisa kubilang selain panas dan sesak dari kota Surabaya. Meski musim sedang tak tentu, tetap saja Surabaya panas dan sesak. Tapi aku lihat mendung sedang berjalan perlahan dan mulai menutupi sebagian selatan. Aku yang sedari tadi hany bisa menunggu dan menunggu akhirnya bosan juga. He’, bukankah menunggu adalah hal yang paling dibosankan oleh manusia, sebagian mungkin. Tapi terasa juga olehku, bosannya menunggu.

Kupandang juga akhirnya sawah dan ikan – ikan kecil yang berkecibak dari tadi. Melihat – lihatsekitar dan menunggu apakah dia akan datang dan acara yang sudah terjanji akan terlaksana. Dia belum datang juga. Padahal, bangsa katanya sudah merdeka tapi masih membudaya yang seperti beginian. Aku sadar kadangkala aku juga ikut membudayakan jam karet. Dia belum datang juga. Terpaksa juga akhirnya pena dan notebook kecil ini kukeluarkan. Mencoba menuliskan apa yang terjadi hari ini. Dia belum datang juga. Perempuan yang akan kembali pulang yang hanya bertemu dan bercakap dalam durasi total satu sampai satu setengah jam di dua hari aku bertatap muka dengan dia. Ingin berlama – lama namun dia tak berkenan sepertinya. Dia, sepupunya dan temannya datang akhirnya.

“ Sudah lama nunggu “. Basa – basi yang biasa. Tersenyum. Lalu berangkat. Tak banyak yang kubicarakan dalam perjalanan selain hal yang biasa saja. Bercerita membanggakan diri. Bercerita tentang rencana kedepan, hal yang biasa bagi para penarik minat hati perempuan. Yang ingin kuubah. Proses kata kawanku. Meski susah. Kumulai perbincangan saat saling diam. Read the rest of this entry »

————————————————————

IDAYU DAN PEREMPUAN MASA DEPAN INDONESIA


Oleh : Iwan Soebakree*

Mungkin pada saat anda membaca judul di atas siapa itu Idayu? Dan apa hubungannya dengan perempuan masa depan Indonesia? Yah Idayu yang disebutkan dalam judul di atas memang bukan siapa-siapa kawan. Dia hanyalah manusia biasa yang lahir ke dunia ini bersama dengan bayi-bayi lain yang secara kebetulan lahir berbarengan dengan hari kelahirannya. Benar kawan, Idayu adalah anakku. Berjenis kelamin perempuan dan lahir pada hari Minggu tanggal 27 Februari 2011 di sebuah Rumah Sakit Swasta di Kota Gresik, Jawa Timur.

Aku namakan anakku ini Idayu jelas bukan tanpa maksud. Ada pujangga yang bilang apalah arti sebuah nama, meski kultur yang ada di sini tidaklah demikian. Istriku sampai meminjam sebuah buku yang berisi nama-nama bayi di dunia, dari berbagai bahasa, yang bahkan nama-nama artis top Indonesia pun nongkrong di sana lengkap dengan artinya. Apabila aku sebutkan satu persatu jelas ruang yang tersedia tidak bakal tercukupi (bahkan istriku sendiri saja sampai bingung mau memilihnya), namun bisa aku gambarkan bahwa nama-nama yang jumlahnya ribuan itu punya arti yang indah-indah dan bagus-bagus. Jadi maaf saja apabila anda mencari nama dengan arti yang jelek tidak akan anda temui disitu. He..he..he..! Read the rest of this entry »

———————————————————–

Tuhan Di Bumi Hari ini

Oleh : Medi Bilem

Aku masih ingat, waktu itu sore hari yang biasa, tapi kulihat keponakanku lagi sedih, aku tak perlu bertanya kenapa, orang tuanya lagi ada masalah keuangan kukira kalau mengingat perbincanganku dengan mereka kemarin. Bagi seorang anak 15tahunan, melihat dirumahnya orang-orang lagi bersuara dengan nada tinggi tentu bukan hal yang nyaman untuk didengarkan dan seperti biasa kita alami, masalah manusia sering kali berbanding lurus dengan apa yang mereka namakan uang.

Aku berinisiatif mengajaknya ke pameran buku yang sedang diadakan di sebuah gedung tua di kotaku, kujanjikan padanya akan kubelikan dia sebuah buku karena ku tahu dia dari kecil suka akan buku, dari saat SD dimana buku-buku dikamarnya adalah komik Jepang hingga hari ini dia bahkan sudah memeluk buku “Lapar Negri Salah Urus” karangan Khudori, sebuah buku yang mestinya “terlalu berat” untuk anak SMP, tapi dia bilang buku itu cukup membantu tugas nulis di sekolahnya.
Aku lupa dia beli buku apa hari itu, aku sendiri membeli sebuah buku kecil tapi tebal berwarna biru dengan gambar kepala plontos berkaca mata hitam, tak tahu inspirasi dari mana tetapi judulnya menarik perhatianku. Perdagangan Realitas judulnya, karangan Michael Ridpathterbitan Gramedia tahun 1999. pikirku saat itu “emangnya realitas (yang kupahami sebagai terjemahan dari kenyataan) bisa diperjual belikan?”, kok bisa wong kenyataan jadi komoditas? Yang kutahu yang diperjual belikan itu ya barang dan jasa (sepotong ingatanku soal ekonomi dari pelajaran di sekolah dasar dulu), sedangkan sebuah kenyataan ya kenyataan, bagaimana kita mau beli kenyataan?. Dan karena judulnya provokatif gitu akhirnya kubeli buku itu dan kubaca dirumah. Read the rest of this entry »

———————————————————————————————-

Bila Saya jadi Anda

February 19, 2011

Oleh Riswandha Imawan*

Bangsa lain selalu iri tetapi nelangsa melihat Indonesia. Katanya, Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi negara maju dan modern, kecuali pemimpin. Memang banyak pemimpin yang kita miliki, tetapi hanya segelintir yang paham makna “memimpin”. Bahkan, banyak yang heran, takjub, kok tiba-tiba dia bisa menjadi pemimpin.

Lewat karya klasiknya, Leadership (1978), James Burns menerangkan, ada orang yang terlahir sebagai pemimpin, ada pula yang dibuat menjadi pemimpin. Kategori pertama merujuk pada orang yang bakatnya memimpin, yang lahir dan besar dari dinamika kehidupan masyarakat. Contohnya, generasi Bung Karno.

Kategori kedua merujuk pada orang yang lewat mekanisme sekolah dibentuk menjadi pemimpin. Dia tidak pernah secara langsung berhubungan dengan dinamika masyarakat. Hingga sekalipun dia memimpin, berdeklamasi sangat paham akan derita rakyat sampai ke lubuk hati terdalam, sebenarnya dia tidak paham akan kata-kata yang diucapkannya.

Mayoritas pemimpin kita saat ini datang dari kategori kedua. Mereka tidak pernah menjadi rakyat dalam arti yang sesungguhnya. Terlahir sebagai anak orang berada, sekolah khusus untuk kalangan kelas atas, lalu dijadikan pemimpin karena ijazah yang digenggamnya. Masih lumayan kalau dia aktif dalam aktivitas sosial selama masa pendidikan. Read the rest of this entry »

———————————————————————————————–

Antara novel Supernova Petir, Tionghoa dan Timor Leste

February 7, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Habis baca novel ini, dan sebelum nulis panjang kusebarkan tebakan di halaman awal buku itu untuk kalian semua : “Kenapa ayam berkokok lihatnya ke atas?”

Ini bukan resensi, tulisan ilmiah yang mesti berisi dengan landasan teori, data, analisa hingga kesimpulan, tetapi juga bukan pula tulisan warna merah jambu bereferensi sinetron Indonesia…

Ini pemikiran dan perasaanku setelah membaca novel ini, melihat, merasa, dan mengenal banyak hal tapi tidak pernah sekolah benar dan juga bukan penggemar sinetron Indonesia maka excuse ku di awal tadi kupikir bolehlah…

Aku membaca ketiga buku Supernova karangan Dee, dari mulai yangKsatria, Akar sampe Petir ini, sayang yang Akar hilang di Borneo. Dari ketiga buku Dee ini, aku menyukainya karena menurutku benang merah dari buku-buku ini adalah tokoh2 yang dipilih untuk jadi main character adalah mereka yang minor di negri ini bahkan mungkin di banyak tempat di dunia. Novel yang pertama tokoh yang mau ditampilkan oleh Dee adalah pasangan homosexual, novel yang kedua adalah perjalanan seorang punk, dan ketiga adalah perjalanan dan pemikiran seorang gadis yang dilahirkan sebagai etnis tionghoa.

Coba kamu bayangkan, ini Indonesia, lalu ada 3 contoh model-model karakter tadi hidup dan tinggal di negri semacam Indonesia? Ga perlu panjang lebar, setolol apapun juga otakku, aku bisa mastiin, akan ada konflik antara sang tokoh dengan masyarakat umum, minimal konflik batin…

Ah, aku tak mau terlalu serius nanti kalian males bacanya, serius ya nyari aja lulusan psikologi, sosiologi, atau apapun dengan logi dibelakangnya yang berarti ilmu tentang didepannya. Langsung saja yang mudah. Habis membaca novel ini mau ga mau, sejak dari halaman awal kita sudah disuruh untuk tertawa minimal nyengir-nyengir sendiri karena emang lucu tapi segar, ditengah mulai agak serius tapi tetep harus senyum karena ketemu yang lucu segar lagi secara konstan, dan di akhir kita seakan dibawa ke situasi dimana kita pengen peluk seseorang dan mengatakan bahwa aku akan selalu ada untukmu, aku ingin memiliki rasa melindungi, menyayangi, menjaga seperti itu, bahwa demikianlah manusia itu seharusnya memandang manusia yang lain, menjabat tangan dan memeluknya erat, dengan juga bertanya, ceritanya gimana ya lanjutannya? Dan seperti buku-buku bagus yang lain, semakin dekat dengan halaman akhir, perasaan semakin sedih karena ga pengen buku ini cepet habis, masih pengen 1000 halaman lagi… Read the rest of this entry »


SEX / MENIKAH

February 6, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Si fulan, mantan pemanjat tebing yang kelingkingnya kusimpan dalam botol selai itu,  kini telah menjadi langgananku di Bandung. Ia terpaksa pensiun karena menikah dan harus menghidupi istri-anak. Kini ia membangun kalsium keluarga dari hasil berjualan alat-alat olah raga petualangan dan handphone. Memang apa arti suami selain menjadi tulang punggung istri-anak? Kubilang istri-anak, bukan anak-istri sebab perempuanlah yang datang lebih dulu, baru anak. Pacar adalah jebakan pertama. Mereka kita pacari, lalu mereka minta dinikahi. Setelah itu mereka mengeluarkan anak. Mereka bilang bahwa mereka ingin bulan madu satu dua tahun tanpa anak.

Tapi sesungguhnya, mereka berada dalam kekuasaan makhluk ubur-ubur berbentuk buah pir dengan dua tangan-tangan tipis melambai yang semayam di perut mereka. Makhluk ini bernama monster ubur-ubur atau monster gelembung. Monster inilah kawan, yang menciptakan kita semua. Kata-kata manis perempuan pada kita, kemanjaan-kemanjaan kecil yang imut, kerdipan mata dan lenguhan mereka yang maut itu sesungguhnya hanyalah pemenuhan perintah dari sang monster. Mereka sendiri tak sadar itu. Monster ubur-ubur itu berdenyut dan haus untuk menggelembungkan diri. Tampaknya, kenikmatan si monster adalah menggelembungkan diri. Untuk menggelembungkan diri, si monster membutuhkan sedikit saja makanan pemicu, yaitu kecebong sperma kita!

Dan kita, jika tidak pandai-pandai, kita akan sama bodoh dengan mereka yang dikuasai monster gelembung itu. Sebab kita pun berada dalam resiko dikontrol hewan moluska berkantung yang cepat memproduksi lendir. Moluska marsupial berambut jarang. Dan jika lendir itu sudah terlalu penuh dalam temboloknya, hewan moluska ini menjadi peka dan tegang. Ia mulai demam. Suhu badannya naik yang akhirnya ia meracau seperti anjing gila. Mencari dengan kalap celah dan dinding dimana ia bisa membentur-benturkan kepala tanpa terluka. Ia perlu membentur-benturkan kepalanya yang berdenyut-denyut agar otaknya yang kempal itu tersalurkan keluar.
Dan celakanya, monster ubur-ubur itu tahu. Ia sangat pintar, si ubur gelembung ini tahu tabiat si hewan moluska yang secara periodic terserang rabies internal. Maka ia membangun sebuah liang jebakan yang berakhir di mulutnya! Liang itu dibuatnya sedemikian rupa. Hangat, basah, lembut sekaligus kuat, sehingga si moluska anjing gila bisa membentur-benturkan kepala tanpa terluka. Tentu saja memar akan tetap terjadi dan membekas setelah ribuan kali, tapi ini tak berarti apa-apa dibanding kelegaan yang diperolah si hewan : anjing gila itu bisa kembali menjadi moluska. Read the rest of this entry »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: