Supernova Petir

March 5, 2011

Judul buku         : Supernova : Petir

Penulis                 : Dewi “DEE” Lestari
Penerbit              : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)

Dewi Lestari atau yang akrab disapa Dee, lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Alumnus FISIP Universitas Parahyangan dengan gelar Sarjana Politik. Petir merupakan kelanjutan dari dua serial Supernova pendahulunya. Dua buku pendahulunya, “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang”, dan “Supernova: Akar” masing-masing dinominasikan dalam Kharulistiwa Literary Award tahun 2002 dan tahun 2003. melalui kiprah kepenulisannnya Dee juga dianugrahi A Playful Mind Award (2003) dan dinobatkan menjadi salah satu Generasi Biang Extra Joss (2004). Dee terlebih dahulu dikenal sebagai penyanyi rekaman dan penulis lagu.

Kata-kata awal di luar cerita dimulai dengan bahasa tingkat tinggi yang sangat sulit dimengerti dan penih metafora, membuat kening berkerut untuk memahami dan membayangkan makna dari tulisannya, padahal hanya kata pengantar, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Cerita awal yang ditampilkan pada bab pertama berkisah tentang dua orang laki-laki, Ruben dan Dhimas yang terlibat hubungan homoseksual. Cerita yang merupakan lanjutan dari “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang” tidak perlu diceritakan karena sama sekali tidak mempengaruhi cerita “Supernova: Petir” . Jadi cerita ini hanya seperti mengingatkan pada serial Supernova sebelumnya. Read the rest of this entry »


FILOSOFI KOPI

February 23, 2011

(Manis, Pahitnya Kisah Dalam Satu Dekade)
Dewi lestari atau Dee, siapa yang tak kenal dia. Lewat karyanya yang berjudul SUPERNOVA, telah menorehkan dia dalam sejarah sastra Indonesia. Namun aku tak akan panjang lebar menceritakan dia dan karya – karyanya, sebab aku rasa lewat mbah Google lebih lengkap. ^_^
 Filosofi Kopi, adalah kumpulan cerpen dan prosa Dee yang ditulis dalam satu dekade antara 1995 – 2005. Dan tetap saja mengangkat tema tentang cinta, cinta dan cinta. Hal yang universal katanya, tapi entahlah aku tak tahu. Don’t judge the book, by its cover right. Baca dulu baru komentar.
Aku belum pernah baca karya Dee, jadi ini yang pertama. Tapi dari awal aku buka buku ini, nuansa cinta yang berbeda yang kurasa. Mulai dari Filosofi Kopi sampai Rico de Coro, kita akan disuguhi cerita yang manis, pahit, lembut, persis rasa kopi Luwak di Excelso café. Bukan promosi, tapi itu yang dirasa. Cocok buat teman malam mingguan, hehe. :P

Seperti dalam judul Filosofi Kopi, yang berkisah tentang Ben yang ambisius. Seorang peramu kopi handal atau barista, yang kalah dan tersadarkan oleh secangkir kopi Tiwus ( baca, tubruk ). Atau kisah Indi dalam Sepotong Kue Kuning, seorang guru les biola yang jadi alas kaki yang dipakai saat dibutuhkan. Namun ada juga karya yang menurutku membingungkan, sebab dikemas dalam prosa yang berbentuk puisi, atau sebaliknya.

Kalau di awal aku bilang tema yang diangkat soal cinta, maka tak pas rasanya kalau tak disebutkan juga. Mungkin ini juga yang dinanti. Seperti dalam judul Selagi kau Lelap, yang penuh dengan rayuan logis dan matematis. “…Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini : 4.354.560.000. itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada disitu. Ditiap inti detik, dan didalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…” Read the rest of this entry »


Antara novel Supernova Petir, Tionghoa dan Timor Leste

February 7, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Habis baca novel ini, dan sebelum nulis panjang kusebarkan tebakan di halaman awal buku itu untuk kalian semua : “Kenapa ayam berkokok lihatnya ke atas?”

Ini bukan resensi, tulisan ilmiah yang mesti berisi dengan landasan teori, data, analisa hingga kesimpulan, tetapi juga bukan pula tulisan warna merah jambu bereferensi sinetron Indonesia…

Ini pemikiran dan perasaanku setelah membaca novel ini, melihat, merasa, dan mengenal banyak hal tapi tidak pernah sekolah benar dan juga bukan penggemar sinetron Indonesia maka excuse ku di awal tadi kupikir bolehlah…

Aku membaca ketiga buku Supernova karangan Dee, dari mulai yang Ksatria, Akar sampe Petir ini, sayang yang Akar hilang di Borneo. Dari ketiga buku Dee ini, aku menyukainya karena menurutku benang merah dari buku-buku ini adalah tokoh2 yang dipilih untuk jadi main character adalah mereka yang minor di negri ini bahkan mungkin di banyak tempat di dunia. Novel yang pertama tokoh yang mau ditampilkan oleh Dee adalah pasangan homosexual, novel yang kedua adalah perjalanan seorang punk, dan ketiga adalah perjalanan dan pemikiran seorang gadis yang dilahirkan sebagai etnis tionghoa.

Coba kamu bayangkan, ini Indonesia, lalu ada 3 contoh model-model karakter tadi hidup dan tinggal di negri semacam Indonesia? Ga perlu panjang lebar, setolol apapun juga otakku, aku bisa mastiin, akan ada konflik antara sang tokoh dengan masyarakat umum, minimal konflik batin…

Ah, aku tak mau terlalu serius nanti kalian males bacanya, serius ya nyari aja lulusan psikologi, sosiologi, atau apapun dengan logi dibelakangnya yang berarti ilmu tentang didepannya. Langsung saja yang mudah. Habis membaca novel ini mau ga mau, sejak dari halaman awal kita sudah disuruh untuk tertawa minimal nyengir-nyengir sendiri karena emang lucu tapi segar, ditengah mulai agak serius tapi tetep harus senyum karena ketemu yang lucu segar lagi secara konstan, dan di akhir kita seakan dibawa ke situasi dimana kita pengen peluk seseorang dan mengatakan bahwa aku akan selalu ada untukmu, aku ingin memiliki rasa melindungi, menyayangi, menjaga seperti itu, bahwa demikianlah manusia itu seharusnya memandang manusia yang lain, menjabat tangan dan memeluknya erat, dengan juga bertanya, ceritanya gimana ya lanjutannya? Dan seperti buku-buku bagus yang lain, semakin dekat dengan halaman akhir, perasaan semakin sedih karena ga pengen buku ini cepet habis, masih pengen 1000 halaman lagi… Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: