FILOSOFI KOPI

February 23, 2011

(Manis, Pahitnya Kisah Dalam Satu Dekade)
Dewi lestari atau Dee, siapa yang tak kenal dia. Lewat karyanya yang berjudul SUPERNOVA, telah menorehkan dia dalam sejarah sastra Indonesia. Namun aku tak akan panjang lebar menceritakan dia dan karya – karyanya, sebab aku rasa lewat mbah Google lebih lengkap. ^_^
 Filosofi Kopi, adalah kumpulan cerpen dan prosa Dee yang ditulis dalam satu dekade antara 1995 – 2005. Dan tetap saja mengangkat tema tentang cinta, cinta dan cinta. Hal yang universal katanya, tapi entahlah aku tak tahu. Don’t judge the book, by its cover right. Baca dulu baru komentar.
Aku belum pernah baca karya Dee, jadi ini yang pertama. Tapi dari awal aku buka buku ini, nuansa cinta yang berbeda yang kurasa. Mulai dari Filosofi Kopi sampai Rico de Coro, kita akan disuguhi cerita yang manis, pahit, lembut, persis rasa kopi Luwak di Excelso café. Bukan promosi, tapi itu yang dirasa. Cocok buat teman malam mingguan, hehe. :P

Seperti dalam judul Filosofi Kopi, yang berkisah tentang Ben yang ambisius. Seorang peramu kopi handal atau barista, yang kalah dan tersadarkan oleh secangkir kopi Tiwus ( baca, tubruk ). Atau kisah Indi dalam Sepotong Kue Kuning, seorang guru les biola yang jadi alas kaki yang dipakai saat dibutuhkan. Namun ada juga karya yang menurutku membingungkan, sebab dikemas dalam prosa yang berbentuk puisi, atau sebaliknya.

Kalau di awal aku bilang tema yang diangkat soal cinta, maka tak pas rasanya kalau tak disebutkan juga. Mungkin ini juga yang dinanti. Seperti dalam judul Selagi kau Lelap, yang penuh dengan rayuan logis dan matematis. “…Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini : 4.354.560.000. itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada disitu. Ditiap inti detik, dan didalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…” Read the rest of this entry »

Advertisements

Tuhan Di Bumi Hari ini

February 22, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Aku masih ingat, waktu itu sore hari yang biasa, tapi kulihat keponakanku lagi sedih, aku tak perlu bertanya kenapa, orang tuanya lagi ada masalah keuangan kukira kalau mengingat perbincanganku dengan mereka kemarin. Bagi seorang anak 15tahunan, melihat dirumahnya orang-orang lagi bersuara dengan nada tinggi tentu bukan hal yang nyaman untuk didengarkan dan seperti biasa kita alami, masalah manusia sering kali berbanding lurus dengan apa yang mereka namakan uang.

Aku berinisiatif mengajaknya ke pameran buku yang sedang diadakan di sebuah gedung tua di kotaku, kujanjikan padanya akan kubelikan dia sebuah buku karena ku tahu dia dari kecil suka akan buku, dari saat SD dimana buku-buku dikamarnya adalah komik Jepang hingga hari ini dia bahkan sudah memeluk buku “Lapar Negri Salah Urus” karangan Khudori, sebuah buku yang mestinya “terlalu berat” untuk anak SMP, tapi dia bilang buku itu cukup membantu tugas nulis di sekolahnya.
Aku lupa dia beli buku apa hari itu, aku sendiri membeli sebuah buku kecil tapi tebal berwarna biru dengan gambar kepala plontos berkaca mata hitam, tak tahu inspirasi dari mana tetapi judulnya menarik perhatianku. Perdagangan Realitas judulnya, karangan Michael Ridpath terbitan Gramedia tahun 1999. pikirku saat itu “emangnya realitas (yang kupahami sebagai terjemahan dari kenyataan) bisa diperjual belikan?”, kok bisa wong kenyataan jadi komoditas? Yang kutahu yang diperjual belikan itu ya barang dan jasa (sepotong ingatanku soal ekonomi dari pelajaran di sekolah dasar dulu), sedangkan sebuah kenyataan ya kenyataan, bagaimana kita mau beli kenyataan?. Dan karena judulnya provokatif gitu akhirnya kubeli buku itu dan kubaca dirumah. Read the rest of this entry »

Max Havelaar

February 21, 2011

 

Judul asli: Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi  (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)

Penulis: Multatuli

Penerjemah: H. B, Jassin

Penerbit: DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991

 

 

Saya sungguh sangat sulit untuk memulai membuat resensi buku ini. Karena apabila saya harus mengikuti kaidah penyajian resensi buku yang baik dan benar, maka waktu saya untuk membuat postingan baru di blog ini tidaklah cukup. Sama halnya saat ketika saya membaca buku ini, menyajikan kembali inti dari cerita ini sangat lah sulit dan sukar. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk menyajikan resensi menurut hemat saya sendiri, yang semoga saja dapat dicerna oleh pembaca dengan baik (begitu juga saya lakukan pada resensi buku-buku yang lain pada postingan saya yang telah lalu).

“Ya, saya bakal dibaca!” begitulah kutipan kata-kata Multatuli yang membuat saya semangat dan berusaha untuk menuntaskan buku yang paling sulit yang pernah saya baca selama ini. Dan sampai sekarang, kata-kata itu masih melekat dihati saya sebagai kalimat yang mengandung unsur “hero” seorang penulis.

Siapa yang tidak tahu Multatuli? Bahkan sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah diberitahu bahwa ada seorang Belanda yang baik hati, yang menaruh simpati dan empati kepada rakyat Indonesia, yang bernama Eduard Douwes Dekker, yang kemudian memiliki nama samaran Multatuli.

Dalam pengantar dan pendahuluan buku ini, banyak informasi tentang kehidupan Multatuli, mulai dari dia dicampakkan dari jabatannya, kemudian menyewa sebuah losmen di Belgia, dan akhirnya dalam kurun waktu sebulan dia menulis buku berjudul Max Havelaar dalam musim dingin tahun 1859. Kemudian tulisan ini terbit pertama kali pada tahun 1860 sebagai buku dan diakui sebagai karya sastra penting dan menjadi bahan pembicaraan para sejarawan, kritkus, dan pengamat kesusastraan dunia. Read the rest of this entry »


Metamorfosis Kapitalisme : Tantangan bagi Gerakan Sosial

February 21, 2011

Judul Buku                      : Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis

Pengarang                       : David Harvey

Penerbit                           : Penerbit Resist, Yogyakarta

Tahun terbit                   : Januari 2009

 

 

 

Oleh : Tri Guntur Narwaya, M.Si

Mitos tentang Negara yang semakin melemah adalah
sebuah konsep yang mengaburkan analisis secara ilmiah…
Pentingnya tindakan negara dalam memungkinkan sistem kekuasaan modal
dari negara-negara industri untuk berfungsi justru meningkat,
bukannnya berkurang sejalan dengan semakin menyebarnya
sistem ini secara internasional.
(Peter Marcuse)

Banyak telaah tentang teori-teori kapitalisme kontemporer melihat Neoliberalisme pada prinsipnya sebagai wujud dari perkembangan baru dari praktik imperialisme. Fase ini dimulai ketika terjadi kegagalan atas penerapan ekonomi neo klasik yang masih menerapkan intervensi “regulasi pemerintah” Memberikan titik tekan pada ”regulasi pemerintah” untuk menghidari kekeliruan asumsi bahwa dengan praktik neoliberalisme maka peran negara dihabisi. Negara sekiranya pada posisi tertentu sebenarnya justru tetap eksis dan mengambil langkah yang lebih meningkat dalam sistem neolibalisme. Teori menghilangnya negara dalam sistem neoliberilme sebenarnya justru banyak hal dipakai oleh kaum imperialisme untuk mendorong keyakinan ideologis bahwa negara memang sangat penting bagi perlindungan rakyat sehingga pasar tidak harus dilepas secara bebas. Bagi penggagas neoliberalisme pasar seyogyanya harus dikeluarkan dari jerat regulasi apapun yang menghambat dinamika pasar. Melalui tokohnya August von Hayek dan Milton Friedman mereka menentang apa yang digagas oleh ekonom klasik seperti John M. Keynes yang mengatakan bahwa pemerintah mempunyai tugas untuk mengontrol seluruh aktifitas kehidupan ekonomi. Bagi Friedman, kebijakan semacam ini justu akan membangkrutkan masyarat. Barangkali alur argumentasi secara umum terhadap problem Neoliberalisme tertangkap demikian. Bagaimana selanjutnya kita membaca dalil-dalil justifikasi dan juga diskursus yang dibawa neoliberalisme beserta alat angkutnya menjadi sangat penting dilihat.

Buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalisme karya David Haevey merupakan sekian khasanah buku yang cukup kritis untuk membaca pola transformasi dan berbagai selubung tersembunyi dari motif kapiralisme muktahir. Tahun 1970-an sianggap sebagai lompatan konfigurasu ekonomi politik sangat penting. Neoliberalisme dianggap sebuah resep yang ampuh untuk membangun sistem ekonomi politik baru yang bisa keluar dari situasi krisis. Karya David Harvey ini berusaha mengisi kekosongon telaah kajian tentang Neoliberalisme yang cenderung masih bersifat umum. David Harvey meyakini bahwa sangat penting untuk membaca keseluruhan situasi dan polemik dan dalam istilah harvey disebut sebagai “drama ekonomi politik” yang melatarbekangi mengapa gagasan dan ide Neoliberalisme cukup berkembang pesat. Read the rest of this entry »


Bilangan Fu

February 20, 2011

Judul       : Bilangan Fu

Penulis    : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit     : 2008

 

 

 

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar. Read the rest of this entry »


Bila Saya jadi Anda

February 19, 2011

Oleh Riswandha Imawan*

Bangsa lain selalu iri tetapi nelangsa melihat Indonesia. Katanya, Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi negara maju dan modern, kecuali pemimpin. Memang banyak pemimpin yang kita miliki, tetapi hanya segelintir yang paham makna “memimpin”. Bahkan, banyak yang heran, takjub, kok tiba-tiba dia bisa menjadi pemimpin.

Lewat karya klasiknya, Leadership (1978), James Burns menerangkan, ada orang yang terlahir sebagai pemimpin, ada pula yang dibuat menjadi pemimpin. Kategori pertama merujuk pada orang yang bakatnya memimpin, yang lahir dan besar dari dinamika kehidupan masyarakat. Contohnya, generasi Bung Karno.

Kategori kedua merujuk pada orang yang lewat mekanisme sekolah dibentuk menjadi pemimpin. Dia tidak pernah secara langsung berhubungan dengan dinamika masyarakat. Hingga sekalipun dia memimpin, berdeklamasi sangat paham akan derita rakyat sampai ke lubuk hati terdalam, sebenarnya dia tidak paham akan kata-kata yang diucapkannya.

Mayoritas pemimpin kita saat ini datang dari kategori kedua. Mereka tidak pernah menjadi rakyat dalam arti yang sesungguhnya. Terlahir sebagai anak orang berada, sekolah khusus untuk kalangan kelas atas, lalu dijadikan pemimpin karena ijazah yang digenggamnya. Masih lumayan kalau dia aktif dalam aktivitas sosial selama masa pendidikan. Read the rest of this entry »


February 19, 2011


%d bloggers like this: