Antara novel Supernova Petir, Tionghoa dan Timor Leste

Oleh : Medi Bilem*

Habis baca novel ini, dan sebelum nulis panjang kusebarkan tebakan di halaman awal buku itu untuk kalian semua : “Kenapa ayam berkokok lihatnya ke atas?”

Ini bukan resensi, tulisan ilmiah yang mesti berisi dengan landasan teori, data, analisa hingga kesimpulan, tetapi juga bukan pula tulisan warna merah jambu bereferensi sinetron Indonesia…

Ini pemikiran dan perasaanku setelah membaca novel ini, melihat, merasa, dan mengenal banyak hal tapi tidak pernah sekolah benar dan juga bukan penggemar sinetron Indonesia maka excuse ku di awal tadi kupikir bolehlah…

Aku membaca ketiga buku Supernova karangan Dee, dari mulai yang Ksatria, Akar sampe Petir ini, sayang yang Akar hilang di Borneo. Dari ketiga buku Dee ini, aku menyukainya karena menurutku benang merah dari buku-buku ini adalah tokoh2 yang dipilih untuk jadi main character adalah mereka yang minor di negri ini bahkan mungkin di banyak tempat di dunia. Novel yang pertama tokoh yang mau ditampilkan oleh Dee adalah pasangan homosexual, novel yang kedua adalah perjalanan seorang punk, dan ketiga adalah perjalanan dan pemikiran seorang gadis yang dilahirkan sebagai etnis tionghoa.

Coba kamu bayangkan, ini Indonesia, lalu ada 3 contoh model-model karakter tadi hidup dan tinggal di negri semacam Indonesia? Ga perlu panjang lebar, setolol apapun juga otakku, aku bisa mastiin, akan ada konflik antara sang tokoh dengan masyarakat umum, minimal konflik batin…

Ah, aku tak mau terlalu serius nanti kalian males bacanya, serius ya nyari aja lulusan psikologi, sosiologi, atau apapun dengan logi dibelakangnya yang berarti ilmu tentang didepannya. Langsung saja yang mudah. Habis membaca novel ini mau ga mau, sejak dari halaman awal kita sudah disuruh untuk tertawa minimal nyengir-nyengir sendiri karena emang lucu tapi segar, ditengah mulai agak serius tapi tetep harus senyum karena ketemu yang lucu segar lagi secara konstan, dan di akhir kita seakan dibawa ke situasi dimana kita pengen peluk seseorang dan mengatakan bahwa aku akan selalu ada untukmu, aku ingin memiliki rasa melindungi, menyayangi, menjaga seperti itu, bahwa demikianlah manusia itu seharusnya memandang manusia yang lain, menjabat tangan dan memeluknya erat, dengan juga bertanya, ceritanya gimana ya lanjutannya? Dan seperti buku-buku bagus yang lain, semakin dekat dengan halaman akhir, perasaan semakin sedih karena ga pengen buku ini cepet habis, masih pengen 1000 halaman lagi…

Dee mencoba menggambarkan, betapa siapapun manusia itu, mereka punya apa yang tiap hari kita namakan PERASAAN dan PIKIRAN. Bagaimana tokoh Elektra ini, seorang gadis keturunan etnis Tioghoa harus berjuang dengan perasaannya semenjak dari kecilnya karena dia hidup di negri dimana kata Tionghoa mempunyai makna yang begitu sarat akan diskriminasi. Saat dia mendengar kalimat “Gila lho rasanya! Seperti digebuk Cina nggak ngelawan!” atau kalimat “kasihan ya, kecil-kecil sudah Cina”…Elektra menggambarkan “Dan didunia tempatku meleburkan diri, semua itu terdengar normal. Padahal tidak. Tidak ketika kulitmu berwarna kuning dan susah gosong sekalipun dijemur seharian di lapangan, dan matamu tetap sipit padahal engkau sedang melotot lebar-lebar. Dan semua usahaku tak pernah berhasil. Hatiku tetap tertusuk-tusuk.” (Halaman 19)

Tiba di bagian ini, mana aku bisa tertawa? Pikiranku langsung mengingat apa yang telah kubaca mulai dari buku Agamaku Terbang Tinggi nya Anom Surya, buku Hoakiau di Indonesia nya Pramoedya Ananta Toer, buku Tionghoa dalam cengkraman SBKRI nya Wahyu Effendi sampai ke Catatan Seorang Demonstran nya Soe Hok Gie….

Itu digabungkan dengan status Coen Husein Pontoh seorang analis politik Indonesia yang sekarang tinggal dan kuliah di New York, USA yang pernah menulis di facebooknya “jika ingin belajar tentang kelas, SARA dan gender, pergilah ke cina Benteng Jakarta hari ini, sudah miskin, Cina, perempuan pula, sedang digusur dari tempat tinggalnya hari ini”, aku lupa tanggal berapa dia nulis status itu, tapi masih terekam di otakku saat aku buka facebook hari itu. Betapa mengerikan negri tempatku tinggal dan hidup hari ini, negri yang dari SD digemborkan dengan kata-kata yang seperti duduk di ruangan ber-AC yang sejuk dengan kalimat “BHINEKA TUNGGAL IKA” nya…

Kalian semua, yang masih tinggal dengan pikiran konyol, bahwa warna kulit, jenis kelamin, status social, banyaknya duit, dan semacamnya adalah jalan untuk melihat dan menempatkan, menghakimi seorang manusia tanpa melihat perasaan, pikiran, dan tingkah lakunya, gimana kalau ku ucapkan kalimat “ke laut aja!”. Kalian yang masih hidup di alam rasis, otak kalian itu apa bedanya ma otak Hitler jika begitu?

Buku-buku itu telah mengajarkan padaku, manusia apapun warna kulitnya, orientasi sexualnya, agama dan keyakinannya, suku bangsanya, adalah juga manusia sebagaimana kita sendiri, punya perasaan dan pikiran. Bagaimana jika kau diperlakukan seperti itu? Bagaimana jika kau tinggal di negri yang berbeda dimana engkau adalah minoritas? Senangkah engkau jika diperlakukan seperti itu?

Jika engkau tidak menginginkan perlakuan itu terjadi denganmu, maka bukankah seharusnya kita tidak melakukan itu?

Silahkan berkenalan dengan apa yang selama ini kita tidak mengenal kecuali kata-kata saja, toleransi, humanisme, dan cinta universal adalah sebagian dari kata-kata yang hari ini mesti kita pelajari, pahami dan tanamkan dalam benak jika kita memang masih ingin menyebut diri kita manusia.

Oke, aku mengerti hubungan antara novel Petir tadi dengan Tionghoa, lalu soal Timor Leste tadi apa hubungannya, ngapain dicantumkan jadi judul tulisan?

Maaf teman, Timor Leste jadi ikut nangkring di judul karena aku jatuh cinta ma Jessica, seorang “Elektra” seperti tokoh dalam Petir dan dia lagi sekolah di Dili, Timor Leste hari ini he he he (ga usah ngamuk, santai aja)..

Sekian tulisan ini, dan sebagai jawaban tebakan diatas “Karena ayamnya sudah hafal lirik”.

*Penulis adalah Ketua “Perpustakaan Bersama” Gresik – Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: