Manjali dan Cakrabirawa

May 9, 2011

Judul Buku : Manjali dan Cakrabirawa

Penulis          : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Oleh : Iwan Soebakree*

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel Bilangan Fu yang terangkai dalam satu seri. Apabila novel Bilangan Fu lebih bernuansa filosofis, maka seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Seri Bilangan Fu sendiri adalah serangakaian novel dengan tiga tokoh utama Marja, Yuda dan Parang Jati. Kali ini, si gadis kota, Marja dititipkan oleh Yuda kekasihnya kepada Parang Jati sewaktu libur kuliah. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi disana, perlahan namun pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya itu. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur dibalik hutan : kisah cinta, sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Salah satunya adalah hantu Cakrabirawa atau Bhairawa Cakra.

Tema mengenai percandian dari masa Indonesia klasik, mitos calon arang serta misteri arca Bhairawa Cakra, yang kemudian dipakai oleh pasukan elit penajaga presiden pada masa Orde Lama dengan nama Cakrabirawa. Semua berhasil dirangkaikan dalan sebuah teka-teki yang cantik dan menarik oleh Ayu Utami. Ditambah dengan adanya tokoh Jacques-seorang arkolog dari Prancis- turut memberikan warna pada pola-pola pemikiran dalam novel ini. Antara pemikiran irasional yang spiritualis dan klenik dengan pola pikir rasional khas ilmuwan. Rentetan kebetulan-kebetulan dalam novel ini seakan-akan memberikan pilihan pada kita. Memilih berpikir irasional dan berkata bahwa ini adalah rencana Tuhan ataukah berpikir rasional dengan berusaha mencari pola-pola dari kejadian-kejadian tersebut. Read the rest of this entry »


Bilangan Fu

February 20, 2011

Judul       : Bilangan Fu

Penulis    : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit     : 2008

 

 

 

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar. Read the rest of this entry »


SEX / MENIKAH

February 6, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Si fulan, mantan pemanjat tebing yang kelingkingnya kusimpan dalam botol selai itu,  kini telah menjadi langgananku di Bandung. Ia terpaksa pensiun karena menikah dan harus menghidupi istri-anak. Kini ia membangun kalsium keluarga dari hasil berjualan alat-alat olah raga petualangan dan handphone. Memang apa arti suami selain menjadi tulang punggung istri-anak? Kubilang istri-anak, bukan anak-istri sebab perempuanlah yang datang lebih dulu, baru anak. Pacar adalah jebakan pertama. Mereka kita pacari, lalu mereka minta dinikahi. Setelah itu mereka mengeluarkan anak. Mereka bilang bahwa mereka ingin bulan madu satu dua tahun tanpa anak.

Tapi sesungguhnya, mereka berada dalam kekuasaan makhluk ubur-ubur berbentuk buah pir dengan dua tangan-tangan tipis melambai yang semayam di perut mereka. Makhluk ini bernama monster ubur-ubur atau monster gelembung. Monster inilah kawan, yang menciptakan kita semua. Kata-kata manis perempuan pada kita, kemanjaan-kemanjaan kecil yang imut, kerdipan mata dan lenguhan mereka yang maut itu sesungguhnya hanyalah pemenuhan perintah dari sang monster. Mereka sendiri tak sadar itu. Monster ubur-ubur itu berdenyut dan haus untuk menggelembungkan diri. Tampaknya, kenikmatan si monster adalah menggelembungkan diri. Untuk menggelembungkan diri, si monster membutuhkan sedikit saja makanan pemicu, yaitu kecebong sperma kita!

Dan kita, jika tidak pandai-pandai, kita akan sama bodoh dengan mereka yang dikuasai monster gelembung itu. Sebab kita pun berada dalam resiko dikontrol hewan moluska berkantung yang cepat memproduksi lendir. Moluska marsupial berambut jarang. Dan jika lendir itu sudah terlalu penuh dalam temboloknya, hewan moluska ini menjadi peka dan tegang. Ia mulai demam. Suhu badannya naik yang akhirnya ia meracau seperti anjing gila. Mencari dengan kalap celah dan dinding dimana ia bisa membentur-benturkan kepala tanpa terluka. Ia perlu membentur-benturkan kepalanya yang berdenyut-denyut agar otaknya yang kempal itu tersalurkan keluar.
Dan celakanya, monster ubur-ubur itu tahu. Ia sangat pintar, si ubur gelembung ini tahu tabiat si hewan moluska yang secara periodic terserang rabies internal. Maka ia membangun sebuah liang jebakan yang berakhir di mulutnya! Liang itu dibuatnya sedemikian rupa. Hangat, basah, lembut sekaligus kuat, sehingga si moluska anjing gila bisa membentur-benturkan kepala tanpa terluka. Tentu saja memar akan tetap terjadi dan membekas setelah ribuan kali, tapi ini tak berarti apa-apa dibanding kelegaan yang diperolah si hewan : anjing gila itu bisa kembali menjadi moluska. Read the rest of this entry »

%d bloggers like this: