Kaum – kaum Tak Berkesempatan

June 20, 2013

blog_ceria

Oleh : Heri Kiswanto*

 

lihatlah negeri kita, yang subur dan kaya raya.

Sawah ladang terhampar luas, samudera biru.

Tapi rataplah negeri kita, yang tinggal hanyalah cerita.

Pengangguran merebak luas, kemiskinan merajalela.

Pedagang kaki lima tergusur, teraniyaya.

Bocah-bocah kecil merintih, melangsungkan mimpi dijalanan.

Sungguh gelap dihadapi, penderitaan.

Inilah negeri kita, alamnya gelap tiada berbintang.

Dari derita, dan derita, menderita.

Sampai kapankah derita ini. Yang kaya darah dan air mata.

Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi.

 

Negeri Ngeri, by Marjinal.

 

Dipertigaan jalan ini, yah dipertigaan jalan raya kotaku ini, sekarang aku berdiri. Dipertigaan jalan raya yang selalu ramai dengan hilir mudik kendaraan, ramai dengan pedagang kaki lima, ramai dengan kawan-kawan anak jalanan. Disini aku berdiri, disini tempat aku belajar arti kehidupan, ditempat yang sebagian orang mungkin menganggap hina dan tak penting ini justru aku banyak belajar tentang banyak hal berharga, tentang kemanusiaan, tentang persaudaraan, tentang pendidikan, tentang kebersamaan, bahkan tentang hakekat cinta yang sebenarnya.

Disini aku berdiri, yah kulempar pikiranku kembali kemasa dimana beberapa tahun yang lalu aku pertama kali terdiam disini, sama seperti sekarang, lalu kudengar beberapa orang anak remaja seumuranku memainkan gitarnya, bernyanyi sekenanya walaupun kadang terdengar fals, mereka terlihat bahagia dan tertawa lantang. aku tersenyum sebentar mengingat peristiwa itu, tersenyum mengingat pertama kali aku bertemu meraka, kawan-kawan terbaik yang pernah kutemui seumur hidupku, salah mungkin bukan kawan, tapi saudara-saudaraku. Saat itu aku yang sedang menunggu bus kota untuk pulang kerumah, tapi entah kenapa ketika bus kota lewat kubiarkan saja lewat tanpa menyetopnya, sekali, dua kali, sampai tiga kali terus seperti itu, kuambil kesimpulan aku sedang malas pulang sekarang. kuputuskan untuk duduk disebelah anak-anak yang bermain gitar tadi, aku berpikir bagaimana cara untuk memulai obrolan, sekali lagi aku tersenyum menjurus sedikit tertawa ketika mengingat pertanyaan pertama yang aku lontarkan kesalah satu dari mereka untuk memulai obrolan, saat itu aku bertanya, ‘’mas, mas anak jalanan ya?’’  seketika mereka semua menoleh, saat itu ada sedikit rasa canggung yang kurasakan, apakah pertanyaanku salah? Sekarang baru aku rasa, pertanyaanku waktu itu sangat konyol haha, mereka menoleh tertawa terbahak-bahak, dan balik bertanya ‘’memang kami kelihatan seperti apa? ‘’ setelah itu obrolan berlanjut begitu mengalir, seperti aku sudah kenal dengan mereka begitu lama. Read the rest of this entry »

Advertisements

Pelangi Itu, Hilang Satu Warna

April 22, 2013

Oleh : Iwan Soebakre*

 

Barusan dengar cerita dari salah seorang siswaku yang sudah lulus. Ada temennya sekelas yang sebenarnya pada waktu tes penerimaan mahasiswa baru kemarin, dia bisa melanjutkan studinya di Universitas Indonesia. Namun, karena diminta biaya pendidikan sebesar 100 juta, dia terpaksa mengubur impiannya untuk bisa kuliah di tempat itu. Cerita lainnya terjadi setahun sebelumnya, ada siswi yang menurutku dia anak yang cerdas. Ini pun dibuktikan dengan dia yang selalu ranking teratas di kelasnya. Sewaktu penerimaan mahasiswa baru, dia menempuh jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Keterampilan) dan dia berkeinginan untuk masuk ke UNESA (dulu IKIP Surabaya). Mungkin dia ingin jadi guru. Dia lulus tes tersebut, namun tapi karena Ujian Nasional dia tidak lulus, keinginan untuk kuliah di tempat tersebut harus terkubur.

Jadi teringat aku dengan novelnya Andrea Hirata yang konon katanya adalah sebuah kisah nyata. 10 anak dengan segala ketidakberdayaannya, mereka berusaha keras untuk bisa bersekolah. Laskar Pelangi, begitulah Andrea Hirata memberi judul novel tersebut. Kenapa Andrea memberikan sebutan Laskar Pelangi pada kesepuluh anak itu? Yang muncul dalam benakku, adalah bahwa Pelangi itu berwarna-warni. Pelangi itu indah, Pelangi itu titik-titik dan lain sebagainya. Tapi ya sudahlah, toh yang bisa menjawab adalah Penulisnya sendiri. Aku hanya bisa berasumsi bahwa mereka semua, kesepuluh anak itu, mempunyai mimpi-mimpi yang indah tentang masa depan. Mimpi yang indah, seindah pelangi yang muncul dari dari garis cakrawala, berwarna-warni, menjulang tinggi, setinggi impian mereka. Read the rest of this entry »


KILAS BALIK SEJARAH KELAS DALAM PERSEMAIAN KAPITALISME

April 11, 2013

KELAS

Musthofa Ghulayayni*

Tekanan arus “kapitalisme” dalam wacana ekonomi-politik melahirkan penindasan gaya baru yang membuat bangsa-bangsa jatuh pada titik kemiskinan. Ketidakberdayaan dan kerentanan merupakan unsur dari perangkap kemiskinan yang sengaja dikondisikan tanpa disadari oleh masyarakat pada umumnya. Hal demikian ini lahir dari sebuah perselingkuhan antara pemilik modal dan penguasa. Akhirnya, penderitaan akibat jerat kemiskinan tersebut menjerumuskan manusia pada penistaan dan berujung pada kepunahan sebuah peradaban yang tidak bermartabat, berkeadilan dan terasingkan dari kata dan makna sejahtera.

Perbincangan etika politik tanpa memperhitungkan wacana ekonomi dalam sebuah nilai dan makna berperan dalam tindakan rasional yang direduksi menjadi rasionalitas ekonomi, dimana semua tindakan rasional harus memperhitungkan keuntungan dan ongkos. Rasionalitas ini membentuk hubungan kekuasaan yang peran utamanya dipegang oleh mereka yang menguasai operasi-operasi pasar.

Kalau dalam analisa Michel Foucault, kekuasaan dimengerti pertama-tama tidak dalam hubungannya dengan negara, tetapi dengan subyek dan dilihat dalam hubungannya dengan ekonomi. Orang diajak melihat apa yang sebenarnya berlangsung ialah bahwa wacana ekonomi sangat dominan di dalam politik kekuasaan. Orang hanya mengagungkan peran cara produksi dalam perkembangan masyarakat. Lalu kemalangan hidup ditimpakan pada masalah eksploitasi kerja dalam perspektif mencari keuntungan dan akumulasi modal (kapitalisme).

Akan muncul pertanyaan di otak kita, apakah sistem kapitalisme ini muncul begitu saja dan dari mana asal mulanya terlebih pengaruhnya di Indonesia? Maka sebagai jawaban perlu kiranya kita kaji dialektika history umat manusia dalam pembagian kelas. Menurut analisa Marxis mengenai sejarah umat manusia terdapat lima formasi utama sosio-ekonomi: (1) sistem primitif-komunal, (2) pudarnya masyarakat komunal, (3) kelahiran kelas-kelas dalam sistem kepemilikan budak, (4)feodalisme, dan (5) kapitalisme. Read the rest of this entry »


Masih di Arus Bawah

March 11, 2013

Arus bawah #2

Oleh : Kyand Cavalera*

            Suasana ini hari terik memang, tapi paling sebentar lagi hujan. Memang cuaca saat ini tak bisa diramal seperti masa lalu. Jikalau dahulu setiap enam bulan sekali panas, maka berikutnya pasti hujan. Tak pernah telat dan benar pasti. Sehingga nenek moyangku membikin hitungan cuaca yang dinamai Pranata Mangsa. Sehingga pula dijadikan patokan masa hidup buat bercocok tanam. Namun itu semua teraji dahulu kala sekarang penanggalan itu jadi usang tak

terpakai lagi. Sebab masa atau waktu bumi telah berubah, bertambah tua. Bertambah rusak.

Sekarang semua–mua telah laku jadi barang dagangan. Apapun laku dijual. Mulai yang dari alam, hingga pikiran dan manusia itu sendiripun laku dijual. Berapa harganya tentulah bersaing antara penjual satu dengan lainnya. Itulah hukum pedagang. Pedagang akan selalu cari untung, meski yang dijual lumpuh dan buntung. Meski yang dijual manusia
juga. Pedagang akan selalu cari cara, biar si manusia yang dijual tidak merasa dijual belikan. Aku juga salah satu dari manusia yang diperjual belikan itu. Namaku Budi. Yang saban harinya bekerja juga kuliah. Bekerjaku buat kuliah. Kuliahku buat bekerja juga nantinya. Read the rest of this entry »


Suwandi di Surabaya, Suwandiisme di Malang Raya

February 20, 2013

ijazah

Oleh : Yusuf Al Esvaram*

Walau agak provokatif judul status di atas, tapi ini yang saya tangkap selama kuliah satu semester di IKIP Budi Utomo Malang. Kampus swasta, sederhana, lebih banyak “fitur” manual daripada “fitur-fitu firtual”, krs-san model lawas gak pakai online-nan segala, gedung kampusnya ada 3 walau 1 diantaraya milik “bersama” dengan kampus lain, hanya satu yang saya bisa pastikan, disini justru saya bertemu dengan sosok-sosok Suwandi baru, dengan ragam toleransi terhadap keadaan mahasiswanya.

Siapa Suwandi? Apa itu Suwandiisme?

Suwandi adalah sosok dosen saya ketika berada dikampus Unesa Jurusan Pendidikan Sejarah FIS dulu. Sosok yang banyak berkoar “josss..!!!” ketika mengajar, cenderung toleran-walau kadang agak tidak mudah ditebak isi pikiran beliau apa. Sosok doktorandes dalam gelar, namun saat bertemu mahasiswanya selalu berbicara “saya ini cocoknya dipanggil doktorambles rek!” dan suka menuliskan nama pena “Cak Wandi” daripada nama dan gelar akademis resminya sendiri-yang kalau “pak dan bu dosen” yang lain akan marah luar biasa bila mahasiswanya salah menulis gelar akademisnya dengan sentakan, “gelarku iku suwi olehe rek!”. Read the rest of this entry »


Lelaki Dalam Tubuh

January 7, 2013

1216179910976832476czara1_couple.svg.svg.hi

Oleh : Medi Bilem*

            Ini jam 11 malam dan besok hari Senin, tugas kuliah mesti selesai, tapi duduk bersamamu senantiasa lebih menyenangkan dari mengisap ganja dan meminum bir Singha.

Jadi biar tugas itu menunggu, hingga subuh, hingga pagi, biar saja. Mari bercinta..

*****

Malam ini, dalam cangkir kopi, satu meja, dan kau pun berbicara ..

            “Ada lelaki dalam tubuhku, Med.”

(Tentu sayang, ada lelaki, ada perempuan, ada tuhan, ada setan, ada darah, alkohol, kopi, teh, nasi goreng, kebab, onde-onde, wajik, semuanya ada sayang) Read the rest of this entry »


NEGARA MARITIM: Hanyalah Puing Sejarah

December 22, 2012

79perahu cadik di didnding borobudur

 

Oleh: Musthofa Ghulayayni

Ada hal penting yang tidak lagi menjadi perhatian publik bahkan ketersediaan literatur sejarah yang juga minim mengenai cerita maritim negeri ini mengakibatkan isu tentang maritim seakan sudah punah dan tidak lagi menjadi penting dalam kajian sejarah dan kajian ilmiah. Terakhir kali isu maritim yang berkembang yaitu soal konflik “ambalat” antara perairan perbatasan Indonesia dengan Malaysia, itu pun tidak mampu membangkitkan etos bangsa ini untuk mengkaji kembali tentang sejarah maritimnya kecuali sikap reaksioner dengan semangat nasionalisme yang setengah matang.

Sementara kelatahan media televisi, internet dan koran menggiring masyarakat pada sebuah isu-isu fiktif yang cenderung provokatif misalnya, terorisme (terakhir tentang ancaman bom Solo), penistaan sebuah agama (munculnya film innocent of muslim), dan masih banyak tayangan-tayangan cabul lainnya yang menjebak pada sikap heroisme semata. Maksud penulis bukan berarti semua itu tidak penting akan tetapi akan memunculkan sentimen masyarakat ketika memandang kelompok atau golongan lain yang tidak sealiran dengannya. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: