KILAS BALIK SEJARAH KELAS DALAM PERSEMAIAN KAPITALISME

April 11, 2013

KELAS

Musthofa Ghulayayni*

Tekanan arus “kapitalisme” dalam wacana ekonomi-politik melahirkan penindasan gaya baru yang membuat bangsa-bangsa jatuh pada titik kemiskinan. Ketidakberdayaan dan kerentanan merupakan unsur dari perangkap kemiskinan yang sengaja dikondisikan tanpa disadari oleh masyarakat pada umumnya. Hal demikian ini lahir dari sebuah perselingkuhan antara pemilik modal dan penguasa. Akhirnya, penderitaan akibat jerat kemiskinan tersebut menjerumuskan manusia pada penistaan dan berujung pada kepunahan sebuah peradaban yang tidak bermartabat, berkeadilan dan terasingkan dari kata dan makna sejahtera.

Perbincangan etika politik tanpa memperhitungkan wacana ekonomi dalam sebuah nilai dan makna berperan dalam tindakan rasional yang direduksi menjadi rasionalitas ekonomi, dimana semua tindakan rasional harus memperhitungkan keuntungan dan ongkos. Rasionalitas ini membentuk hubungan kekuasaan yang peran utamanya dipegang oleh mereka yang menguasai operasi-operasi pasar.

Kalau dalam analisa Michel Foucault, kekuasaan dimengerti pertama-tama tidak dalam hubungannya dengan negara, tetapi dengan subyek dan dilihat dalam hubungannya dengan ekonomi. Orang diajak melihat apa yang sebenarnya berlangsung ialah bahwa wacana ekonomi sangat dominan di dalam politik kekuasaan. Orang hanya mengagungkan peran cara produksi dalam perkembangan masyarakat. Lalu kemalangan hidup ditimpakan pada masalah eksploitasi kerja dalam perspektif mencari keuntungan dan akumulasi modal (kapitalisme).

Akan muncul pertanyaan di otak kita, apakah sistem kapitalisme ini muncul begitu saja dan dari mana asal mulanya terlebih pengaruhnya di Indonesia? Maka sebagai jawaban perlu kiranya kita kaji dialektika history umat manusia dalam pembagian kelas. Menurut analisa Marxis mengenai sejarah umat manusia terdapat lima formasi utama sosio-ekonomi: (1) sistem primitif-komunal, (2) pudarnya masyarakat komunal, (3) kelahiran kelas-kelas dalam sistem kepemilikan budak, (4)feodalisme, dan (5) kapitalisme. Read the rest of this entry »


Bangsaku Bangsa Budak

August 7, 2011


Oleh : Kyand Cavalera*

Zaman komunal primitive..

Zaman perbudakan…

Zaman tuan tanah dan para raja… permodalan….

Lalu..

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal – hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain – lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya “.

Jakarta 17 – 08 – 1945.

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno – Hatta.

Di tiap – tiap periode ada hari, bulan, tahun, yang silih berganti. Begitu banyak perjalanan dari negeri ini, baik yang tercatat dan yang hilang diterpa masa. Manusia dari tiap – tiap periode lah yang membikinnya. Dan sejarah terbentuk. Dikumpulkan dari putaran masa, dan dari situ generasi belajar mengenal akar dan asalnya.

. Indonesia tanggal 19 juli 2011. Disebuah desa…

Masih cerah seperti biasanya. Kadang – kadang saja turun hujan dengan tak terduga. Cuma hujan biasa, cukup untuk memberikan efek sejuk kepada tanah. Angin juga masih berhembus seperti biasa menggerakkan batang pohon, dedaunan, debu, hingga rok para murid perempuan di sekolah itupun bila angin berbaik hati mau sedikit kencang. Read the rest of this entry »


Gie: Catatan Seorang Demonstran

March 1, 2011

Catatan harian milik Soe Hok Gie, aktivis yang menempa populariti pada zaman kemahasiswaannya, menjadi inspirasi kepada ramai pembaca yang gemar meneropong sudut-sudut fikir orang.

Catatan harian beliau sejak 4 Mac 1957, seawal umurnya pada 14 tahun, sehingga 8 Disember 1969 telah dibukukan dalam judul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran.

Catatan Gie adalah berkisarkan tentang pengalaman dan pemikirannya terhadap sastera, sejarah, politik, cinta, kehidupan dan kematian.

Lahirnya sang aktivis

Soe Hok Gie atau popular dikenali sebagai Gie, lahir di Indonesia pada 17 Disember 1942.

Seawal umur 15 tahun, Gie sudah melahap karya sastera Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Spengler, malah pernah berdebat dengan gurunya berkenaan Chairil Anwar dan Rivai Apin. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: