Merdeka 100%

March 11, 2011

Oleh : Iwan Soebakree*

Selain Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), salah satu karya besar Datuk Seri Tan Malaka yang lain adalah Merdeka 100%. Merdeka 100% ini, ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945 setelah sebelumnya Tan Malaka berkeliling Jawa. Pertempuran Surabaya ini memberikan inspirasi untuk menulis tiga buah brosur: Politik, Rencana Ekonomi, dan Muslihat. Peredaran brosur ini hanya terbatas sekali, oleh sebab itu tidak pernah bisa menjadi alternatif untuk menggantikan Perjuangan Kita, karya Sjahrir yang sebenarnya jauh di bawah brosur Tan Malaka (Harry A. Poeze, KITLV Belanda)

Buku ini barangkali merupakan karya Tan Malaka yang paling imajinatif. Brosur ekonomi-politik yang dituturkan dalam gaya naskah drama, percakapan antara kelima tokoh yang oleh Tan Malaka dijuluki “para pendakwa modern”, yakni: Godam (wakil kaum buruh), Pacul (wakil kaum tani), Denmas (wakil priyayi), Toke (wakil kelas pedagang), Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Disini Tan Malaka merumuskan perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya untuk meraih kemerdekaan, namun lebih jauh kedepan yaitu bentuk Negara Indonesia Merdeka. Melalui dialog ketiga tokoh tersebut, kita dapat menelaah dan merenungkan kembali maksud dari Merdeka 100% yang di tulis Tan Malaka. Read the rest of this entry »

Advertisements

“Madilog” Manifesto Sang Revolusioner

February 17, 2011

Judul buku    : Madilog (materialisme, dialektika logika)

Penulis            : Tan Malaka

Penerbit          : Widjaya Djakarta

Cetakan            : 1951

 

 

 

 

Bagaimana Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika lahir, satu-satunya sumber tertulis tampaknya cuma apa yang dicatat sendiri oleh pengarangnya.

“Ditulis di Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta. Di sini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog ialah lebih kurang 8 bulan, dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari,” tulis Tan Malaka.

Berarti Tan Malaka menulis naskah itu di tengah-tengah masa pendudukan represif Jepang. Dia mengenang bagaimana dia menulis “di bawah pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya” dan membawa naskah Madilog bersembunyi ke Bayah Banten dan ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa Tengah.

Bahkan, menurut Tan Malaka, naskah itu turut bersamanya ketika dia ditangkap di Surabaya gara-gara masalah Tan Malaka palsu. “Bahkan hampir saja Madilog hilang,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut duduk perkaranya.

Tapi, dapatlah disimpulkan bahwa penulisan Madilog di bawah keadaan darurat, bahkan semua referensinya hanya mengandalkan ingatan, yang tampaknya juga memanfaatkan teknik “jembatan keledai”. Hal ini tentu jauh dari umumnya kemewahan para ilmuwan yang menulis di perpustakaan kampus yang sangat lengkap. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: