Mengapa Menulis?

April 20, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Entah dengan kalian, aku menulis karena kesedihan saat mengenang-ngenang ayahku.

Dia meninggal waktu aku kelas 3 SMP, itu berarti saat itu umurku sekitar 15 tahun.

Apa yang bisa kau kenang untuk seumur itu?

Bagimu tentu ah 15 tahun tentu sudah dewasa, tentu banyak kenangan yang terekam dibenak anak 15tahun, apakah itu yang menyenangkan apakah itu yang tak menyenangkan.

Bukan itu yang kumaksud dengan sedih tadi, untuk seumurku sekarang (31 thn), aku ingin berbicara dengannya selayaknya orang dewasa.

Selain bentuk fisikku, yang kulihat hari ini adalah dia mewariskan tumpukan buku,foto dia dengan kacamatanya, cerita-cerita orang tentang dirinya, ibuku, kakak dan adikku, rumah ini, teman-temannya, keponakannya,

saudara-saudaranya, beberapa potong baju dan celananya di lemari ibuku.

Tapi aku tak mengenalnya.

Aku tak bisa mengenalinya sebagai sebuah pribadi.

Aku tak mengetahui apa yang dipikirkannya.

Dia pernah kecil, remaja, dewasa sebelum mati.

Dan tiga tahap itu pasti berisi satu : PIKIRAN dan PERASAAN!!!

Dan itu aku tak mengenalnya.

Selain apa kabar, jika dia hari ini dia hadir, ingin kutanyakan padanya

apa yang kau pikirkan? bagaimana perasaanmu? apakah hidup bagimu? menurutmu kenapa kita ada? Mengapa engkau menikah? Cintakah engkau pada istrimu? Bagaimana kalian bertemu? Saat aku lahir apa yang kau

pikirkan? Saat kau tak memiliki uang untuk membeli beras buat makan keluargamu, apa yang ada dalam pikiranmu? Bagaimana masa mudamu? Apa yang paling menyedihkanmu? Apa yang kau rasakan saat melihat

ayahmu? Bagaimana ibumu, apa yang paling kau sukai dari dia? Berapa uang sakumu saat sekolah dulu? Apakah engkau pernah berkelahi? Buku apa yang kau suka? Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: