NEGARA MARITIM: Hanyalah Puing Sejarah

December 22, 2012

79perahu cadik di didnding borobudur

 

Oleh: Musthofa Ghulayayni

Ada hal penting yang tidak lagi menjadi perhatian publik bahkan ketersediaan literatur sejarah yang juga minim mengenai cerita maritim negeri ini mengakibatkan isu tentang maritim seakan sudah punah dan tidak lagi menjadi penting dalam kajian sejarah dan kajian ilmiah. Terakhir kali isu maritim yang berkembang yaitu soal konflik “ambalat” antara perairan perbatasan Indonesia dengan Malaysia, itu pun tidak mampu membangkitkan etos bangsa ini untuk mengkaji kembali tentang sejarah maritimnya kecuali sikap reaksioner dengan semangat nasionalisme yang setengah matang.

Sementara kelatahan media televisi, internet dan koran menggiring masyarakat pada sebuah isu-isu fiktif yang cenderung provokatif misalnya, terorisme (terakhir tentang ancaman bom Solo), penistaan sebuah agama (munculnya film innocent of muslim), dan masih banyak tayangan-tayangan cabul lainnya yang menjebak pada sikap heroisme semata. Maksud penulis bukan berarti semua itu tidak penting akan tetapi akan memunculkan sentimen masyarakat ketika memandang kelompok atau golongan lain yang tidak sealiran dengannya. Read the rest of this entry »

Advertisements

Annelies

August 10, 2012

  Sebuah Refleksi Kekinian atas

  Novel Bumi Manusia

  Oleh : Iskandar La Ngali*

            Sebuah kisah trauma tragis seorang pejuang hak dan martabat manusia, bahwa manusia bukanlah untuk dijajah dan direndahkan secara terus-menerus, menjadi sosok penginspirasi pada generasi selanjutnya. Perjalanan kisah kehidupan yang liku-liku membawanya pada sebuah kehidupan yang mapan tapi dirasa masih kurang. Kebahagiaan yang menjadi milik banyak orang tidaklah berlaku pada mereka. Pada Annelies, Nyai Ontosoroh, dan Minke.

Annelies adalah gadis belia yang terlahir dari rahim kolonialisme. Perkawinan seorang ibu pribumi yang bernama Sanikem dengan Herman Malemma, seorang tuan Belanda. Minke adalah anak seorang priyayi yang disekolahkan dengan harapan untuk bisa menjadi pewaris tahta feodalis dari tingkat pribumi hingga kolonialis, tetapi tercerahkan lewat didikan penjajah. Nyai Ontosoroh adalah Sanikem yang berubah nama setelah menjadi nyai sang tuan Belanda. Terbuka hatinya setelah merasakan derita pribumi dalam cengkraman penjajah, memaksanya melakukan pembelaan atas hak dari pribumi. Annelies dalam “Bumi Manusia” adalah simbol perjuangan pribumi yang mewarisi darah penjajah sehingga membuatnya harus sadar akan siapa dan dimana dia harus berpihak.

Keseharian mereka hanya membangun kehidupan yang lebih baik, membayar hutang kepada penjajah untuk bisa mandiri. Para pekerja dibuat menjadi raja diatas tanah dan pundak masing-masing. Sehingga tidak teralienasi dengan kondisi yang ada. Alienasi dalam pengertiannya adalah keterasingan individu dari diri mereka sendiri dan orang lain. Menurut Marx dalam Economic And Philosophical Manuscripts of 1844, keterasingan berakar dalam struktur sosial yang menyangkal sifat esensi manusia. Sebuah keadilan terhadapan buruh yang coba diangkat untuk diterima sebagai kebenaran oleh pribumi dan kaum kolonialis. Usaha yang membuat banyak orang mulai melirik. Ada yang sinis dan tersenyum, ada yang merasa disaingi, sehingga harus membangun kekuatan untuk melawan, mempertahankan dominasi kekuasaan dalam warna “Bumi Manusia”. Ada pribumi, priyayi, dan murni penjajah. Read the rest of this entry »


Mereka Yang Dilumpuhkan – Pramoedya Ananta Toer

March 25, 2011


Oleh : Kyand Cavalera*

Mengisahkan tentang Abas dan penjara Bukit Duri. Penjara bagi anak – anak Indonesia yang dipenjarakan oleh Belanda karena sebab dianggap berbahaya. Manusia – manusia Belanda sendiri yang ditipu pemerintahannya. Tempat yang tak seharusnya dihuni manusia yang sesuai kodratnya bebas. Tekanan batin dan fisik yang ditumpahkan kepada tubuh – tubuh mereka yang dilayakkan seekor kuda. Dan pemilik tubuh tak punya kuasa atas tubuhnya, dengan kata lain hak nya sebagai manusia hilang oleh kekuasaan penjajah ( baca: Belanda ). Dan mau tak mau harus diterima. Yang dengan tertutupnya pintu penjara, mereka ini meninggalkan dunia bebas dan tak tahu kapan akan menghirup udara bebas diluar.

Tentu saja tak ada beda dengan lingkungan dunia luar yang menciptakan watak dan karakter manusia, lingkungan penjara juga menciptkannya. Dengan tekanan fisik dan batin yang dibebankan, dikungkungkan  pada tiap – tiap penghuninya. Luas penjara yang hanya tak seberapa tak mampu membendung kuatnya luapan kebebasan penghuninya. Sehingga manusia bui ini lebih memilih menyembunyikan wajah asli mereka dalam sel tahanan sempit. Gambaran kekangan rantai penjajahan. Read the rest of this entry »


Percikan Revolusi Subuh

January 30, 2011

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit          : Hasta Mitra

Tahun Terbit : 2002

Pengalaman mengajar kita,bahwa kita harus berpikir sebelum menceburkan diri dalam medan pengalaman itu sendiri. Berpikir mendahului pengalaman!Dan berpikir itu sendiri sudah suatu pengalaman pendahuluan. Apabila orang menceburkan diri ke dalam pengalaman sebelum menyiapakan diri dalam berpikir akan menumbuk kiri-kanan. Kemudian orang merasa alangkah pahit. Dan kepahitan hidup menuakan orang dan memendekkan umur, Begitu kata orang.

Dari pengalaman-pengalaman manusia, orang belajar mengetahui dan mengenali diri sendiri. Dan tak adalah suatu kesenangan yang begitu sempurna daripada mengenal diri sendiri. Sayangnya,untuk mengenal diri sendiri umur kita terlalu pendek. Jadi sejak bumi ini masih lumpur panas hingga sekarang ini tak seorangpun kenal dirinya sendiri. Tak ada orang yang pernah merasai kesenangan yang sempurna.
Kadang-kadang kita tersandung pada batu, sakit dan mengaduh. Kadang-kadang dengan mendadak saja darah kita meluap mendengar perkataan orang. Atau dengan tidak sadar tiba-tiba kita ingin menonton bioskop, ingin bersanding dengan kekasih. Kita tak pernah mengerti kenapa jadi begitu. Dan hal-hal kecil itu menunjukkan manusia tak kenal dirinya sendiri. Hanya sebentar saja manusia berpikir dengan otaknya sendiri.Ini pula sebabnya mengapa orang banyak mengalami kepahitan dalam hidupnya.

Tulisan ini adalah pengalaman yang terserak-serak. Pengalaman yang tumbuh dari jiwa manusia yang kerdil-suatu campur aduk yang tak berencana. Kesenangan, kesedihan, gambaran dari jiwa kecil yang tak dituntun oleh pikiran yang sehat. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: