seputar buku

Manjali dan Cakrabirawa

May 9, 2011

Judul Buku : Manjali dan Cakrabirawa

Penulis          : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Oleh : Iwan Soebakree*

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel Bilangan Fu yang terangkai dalam satu seri. Apabila novel Bilangan Fu lebih bernuansa filosofis, maka seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Seri Bilangan Fu sendiri adalah serangakaian novel dengan tiga tokoh utama Marja, Yuda dan Parang Jati. Kali ini, si gadis kota, Marja dititipkan oleh Yuda kekasihnya kepada Parang Jati sewaktu libur kuliah. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi disana, perlahan namun pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya itu. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur dibalik hutan : kisah cinta, sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Salah satunya adalah hantu Cakrabirawa atau Bhairawa Cakra.

Tema mengenai percandian dari masa Indonesia klasik, mitos calon arang serta misteri arca Bhairawa Cakra, yang kemudian dipakai oleh pasukan elit penajaga presiden pada masa Orde Lama dengan nama Cakrabirawa. Semua berhasil dirangkaikan dalan sebuah teka-teki yang cantik dan menarik oleh Ayu Utami. Ditambah dengan adanya tokoh Jacques-seorang arkolog dari Prancis- turut memberikan warna pada pola-pola pemikiran dalam novel ini. Antara pemikiran irasional yang spiritualis dan klenik dengan pola pikir rasional khas ilmuwan. Rentetan kebetulan-kebetulan dalam novel ini seakan-akan memberikan pilihan pada kita. Memilih berpikir irasional dan berkata bahwa ini adalah rencana Tuhan ataukah berpikir rasional dengan berusaha mencari pola-pola dari kejadian-kejadian tersebut. Read the rest of this entry »

_________________________________________________________

Pengantar Umum Psikoanalisis – Sigmund Freud

April 5, 2011

Judul Buku       : Pengantar Umum Psikoanalisis

Penulis               : Sigmund Freud

Penerbit            : Pustaka Pelajar (2006)

Oleh : Iwan Soebakree*

Seorang kawan, menyarankan padaku untuk membaca buku ini ketika untuk pertama kalinya aku menyandang status sebagai seorang ayah. “Untuk membantu kau dalam memahami si kecil,”katanya. Ketika aku buka lembar demi lembar buku yang lumayan tebal ini, aku masih mereka-reka apa maksud dari Sigmund Freud dengan istilah psikoanalisanya. Dari judulnya saja, otakku yang hanya sekelas otak kambing sudah berkata,”Beraaatt…..!”. asumsiku awalku mengatakan bahwa mungkin kawanku ini ingin aku belajar memahami faktor-faktor psikologi anakku yang masih bayi. Namun, setelah aku baca ternyata psikoanalisa tidak hanya membahas tentang psikologi anak kecil (bayi) semata. Dalam karyanya ini, Freud menyusun sebuah model sifat manusia untuk memahami manusia (human qu human) dan masa kanak-kanak inilah awal dari konsep dasar pemikirannya.

Dalam pandangan Freud, perkembangan individu adalah sebuah bentuk dari evolusi perkembangan manusia. Dorongan utama dalam diri manusia (energi seksual) merupakan sebuah proses evolusi sejak kelahiran hingga masa puber dan dewasa yang kemudian membentuk mentalitas yang berbeda-beda dalam kehidupan masing-masing individu. Segala gangguan psikologis yang dialami manusia dari awal pertumbuhan hingga dewasa jelas berpengaruh terhadap kesehatan mental dari seorang individu. Pendeknya dengan psikoanalisis, Freud ingin membantu manusia untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahannya dari pendekatan psikologi dan mencapai sesuatu hal yang dikatakannya sebagai manusia “Sehat”. Read the rest of this entry »

__________________________________

Mereka Yang Dilumpuhkan – Pramoedya Ananta Toer

March 25, 2011


Oleh : Kyand Cavalera*

Mengisahkan tentang Abas dan penjara Bukit Duri. Penjara bagi anak – anak Indonesia yang dipenjarakan oleh Belanda karena sebab dianggap berbahaya. Manusia – manusia Belanda sendiri yang ditipu pemerintahannya. Tempat yang tak seharusnya dihuni manusia yang sesuai kodratnya bebas. Tekanan batin dan fisik yang ditumpahkan kepada tubuh – tubuh mereka yang dilayakkan seekor kuda. Dan pemilik tubuh tak punya kuasa atas tubuhnya, dengan kata lain hak nya sebagai manusia hilang oleh kekuasaan penjajah ( baca: Belanda ). Dan mau tak mau harus diterima. Yang dengan tertutupnya pintu penjara, mereka ini meninggalkan dunia bebas dan tak tahu kapan akan menghirup udara bebas diluar.

Tentu saja tak ada beda dengan lingkungan dunia luar yang menciptakan watak dan karakter manusia, lingkungan penjara juga menciptkannya. Dengan tekanan fisik dan batin yang dibebankan, dikungkungkan  pada tiap – tiap penghuninya. Luas penjara yang hanya tak seberapa tak mampu membendung kuatnya luapan kebebasan penghuninya. Sehingga manusia bui ini lebih memilih menyembunyikan wajah asli mereka dalam sel tahanan sempit. Gambaran kekangan rantai penjajahan. Read the rest of this entry »

——————————————————————————————————————————————————————

Sang Pemimpi dan Inspirasi

March 14, 2011

Judul Buku       : Sang Pemimpi
Penulis              : Andrea Hirata
Penerbit            : Bentang Pustaka

Oleh : Iwan Soebakree*

Buku ini merupakan sequel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan buku ini, semua pembaca novel ini menyepakati bahwa Sang Pemimpi sangat inspiratif. Buku ini seakan meneruskan kesukesan Laskar Pelangi yang terbit sebelumnya. Sesuai dengan judulnya “Sang Pemimpi” yang menceritakan kisah para perajut Mimpi dari Tanah Belitong. Mereka adalah Ikal (dewasa), Arai dan Jimbron. Tetap menampilkan sebuah kesederhanaan seperti halnya Laskar Pelangi, namun penuh semangat juang dalam meraih mimpi-mimpi mereka.

Pada saat anda membaca awal dari buku ini, mungkin anda akan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala membaca kekonyolan dan kenakalan dari tokoh-tokoh didalamnya. Sampai-sampai sebutan “berandal” disematkan kepada mereka. Keanggunan bahasa dan segala daya tariknya mampu menyedot anda kedalam dunia mereka, sehingga seakan-akan anda dapat merasakan menjadi bagian dari cerita. Sempat saya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah jimbron yang tergila-gila dengan kuda, trenyuh melihat kepedulian seorang Arai terhadap sesamanya. Sesuatu hal yang jarang terjadi dalam kehidupan sekarang.

Potret-potret kecil perjalanan mereka yang memiliki efek filosofis dan sarat akan pesan moral, akan langsung menusuk kedalam sanubari anda. Selingan humor yang kadangkala muncul, dibalut dengan keadaan yang serba tidak berdaya, terasa halus, sehingga tanpa terasa anda akan tertawa sekaligus menangis. Namun, arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun Anda melihat ke dalam diri sendiri, memantik semangat anda, sehingga akhirnya anda berani berkata “Tidak” pada semua keputusasaan dan tak akan menyerah pada segala ketakberdayaan karena keadaan.

Read the rest of this entry »

————————————————————————————————————————————————-

Laskar Pelangi

March 11, 2011

Laskar Pelangi mengisahkan anak-anak Belitung yang masih memiliki impian, harapan, dan cinta. Sekolah mereka, SD Muhammadiyah, merupakan sekolah yang terancam bubar jika jumlah murid tahun ajaran baru tidak mencapai sepuluh orang. Kehadiran anak kesepuluh disambut suka cita oleh semua orang. Ini merupakan awal mencapai mimpi-mimpi mereka.

SD Muhammadiyah mengajarkan banyak hal kepada anak-anak Laskar Pelangi. Tiadanya fasilitas sekolah yang memadai, tak membuat mereka kehilangan kreativitas. Mereka terus belajar, berkembang, dan semakin dewasa. Hari-hari yang mereka lalui pun membuat persahabatan mereka semaikn erat. Read the rest of this entry »

————————————————————————————-

Merdeka 100%

March 11, 2011

Oleh : Iwan Soebakree*

Selain Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), salah satu karya besar Datuk Seri Tan Malaka yang lain adalah Merdeka 100%. Merdeka 100% ini, ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945 setelah sebelumnya Tan Malaka berkeliling Jawa. Pertempuran Surabaya ini memberikan inspirasi untuk menulis tiga buah brosur: Politik, Rencana Ekonomi, dan Muslihat. Peredaran brosur ini hanya terbatas sekali, oleh sebab itu tidak pernah bisa menjadi alternatif untuk menggantikan Perjuangan Kita, karya Sjahrir yang sebenarnya jauh di bawah brosur Tan Malaka (Harry A. Poeze, KITLV Belanda)

Buku ini barangkali merupakan karya Tan Malaka yang paling imajinatif. Brosur ekonomi-politik yang dituturkan dalam gaya naskah drama, percakapan antara kelima tokoh yang oleh Tan Malaka dijuluki “para pendakwa modern”, yakni: Godam (wakil kaum buruh), Pacul (wakil kaum tani), Denmas (wakil priyayi), Toke (wakil kelas pedagang), Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Disini Tan Malaka merumuskan perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya untuk meraih kemerdekaan, namun lebih jauh kedepan yaitu bentuk Negara Indonesia Merdeka. Melalui dialog ketiga tokoh tersebut, kita dapat menelaah dan merenungkan kembali maksud dari Merdeka 100% yang di tulis Tan Malaka. Read the rest of this entry »

————————————————————

Supernova Petir

Judul buku         : Supernova : Petir

Penulis                 : Dewi “DEE” Lestari

Penerbit              : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)

Dewi Lestari atau yang akrab disapa Dee, lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Alumnus FISIP Universitas Parahyangan dengan gelar Sarjana Politik. Petir merupakan kelanjutan dari dua serial Supernova pendahulunya. Dua buku pendahulunya, “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang”, dan “Supernova: Akar” masing-masing dinominasikan dalam Kharulistiwa Literary Award tahun 2002 dan tahun 2003. melalui kiprah kepenulisannnya Dee juga dianugrahi A Playful Mind Award(2003) dan dinobatkan menjadi salah satu Generasi Biang Extra Joss (2004). Dee terlebih dahulu dikenal sebagai penyanyi rekaman dan penulis lagu.

Kata-kata awal di luar cerita dimulai dengan bahasa tingkat tinggi yang sangat sulit dimengerti dan penih metafora, membuat kening berkerut untuk memahami dan membayangkan makna dari tulisannya, padahal hanya kata pengantar, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Cerita awal yang ditampilkan pada bab pertama berkisah tentang dua orang laki-laki, Ruben dan Dhimas yang terlibat hubungan homoseksual. Cerita yang merupakan lanjutan dari “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang” tidak perlu diceritakan karena sama sekali tidak mempengaruhi cerita “Supernova: Petir” . Jadi cerita ini hanya seperti mengingatkan pada serial Supernova sebelumnya. Read the rest of this entry »

———————————————————–

Gie: Catatan Seorang Demonstran

Catatan harian milik Soe Hok Gie, aktivis yang menempa populariti pada zaman kemahasiswaannya, menjadi inspirasi kepada ramai pembaca yang gemar meneropong sudut-sudut fikir orang.

Catatan harian beliau sejak 4 Mac 1957, seawal umurnya pada 14 tahun, sehingga 8 Disember 1969 telah dibukukan dalam judul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran.

Catatan Gie adalah berkisarkan tentang pengalaman dan pemikirannya terhadap sastera, sejarah, politik, cinta, kehidupan dan kematian.

Lahirnya sang aktivis

Soe Hok Gie atau popular dikenali sebagai Gie, lahir di Indonesia pada 17 Disember 1942.

Seawal umur 15 tahun, Gie sudah melahap karya sastera Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Spengler, malah pernah berdebat dengan gurunya berkenaan Chairil Anwar dan Rivai Apin. Read the rest of this entry »

——————————————————————————————————————————————————-

FILOSOFI KOPI

 
(Manis, Pahitnya Kisah Dalam Satu Dekade)

Dewi lestari atau Dee, siapa yang tak kenal dia. Lewat karyanya yang berjudul SUPERNOVA, telah menorehkan dia dalam sejarah sastra Indonesia. Namun aku tak akan panjang lebar menceritakan dia dan karya – karyanya, sebab aku rasa lewat mbah Google lebih lengkap. ^_^
 Filosofi Kopi, adalah kumpulan cerpen dan prosa Dee yang ditulis dalam satu dekade antara 1995 – 2005. Dan tetap saja mengangkat tema tentang cinta, cinta dan cinta. Hal yang universal katanya, tapi entahlah aku tak tahu. Don’t judge the book, by its cover right. Baca dulu baru komentar.
Aku belum pernah baca karya Dee, jadi ini yang pertama. Tapi dari awal aku buka buku ini, nuansa cinta yang berbeda yang kurasa. Mulai dari Filosofi Kopi sampai Rico de Coro, kita akan disuguhi cerita yang manis, pahit, lembut, persis rasa kopi Luwak di Excelso café. Bukan promosi, tapi itu yang dirasa. Cocok buat teman malam mingguan, hehe.

:P

Seperti dalam judul Filosofi Kopi, yang berkisah tentang Ben yang ambisius. Seorang peramu kopi handal atau barista, yang kalah dan tersadarkan oleh secangkir kopi Tiwus ( baca, tubruk ). Atau kisah Indi dalam Sepotong Kue Kuning, seorang guru les biola yang jadi alas kaki yang dipakai saat dibutuhkan. Namun ada juga karya yang menurutku membingungkan, sebab dikemas dalam prosa yang berbentuk puisi, atau sebaliknya.

Kalau di awal aku bilang tema yang diangkat soal cinta, maka tak pas rasanya kalau tak disebutkan juga. Mungkin ini juga yang dinanti. Seperti dalam judul Selagi kau Lelap, yang penuh dengan rayuan logis dan matematis. “…Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini :4.354.560.000. itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada disitu. Ditiap inti detik, dan didalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…” Read the rest of this entry »

——————————————————————————————————————————————————-

Max Havelaar

Judul asli: Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)

Penulis: Multatuli

Penerjemah: H. B, Jassin

Penerbit: DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991

Saya sungguh sangat sulit untuk memulai membuat resensi buku ini. Karena apabila saya harus mengikuti kaidah penyajian resensi buku yang baik dan benar, maka waktu saya untuk membuat postingan baru di blog ini tidaklah cukup. Sama halnya saat ketika saya membaca buku ini, menyajikan kembali inti dari cerita ini sangat lah sulit dan sukar. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk menyajikan resensi menurut hemat saya sendiri, yang semoga saja dapat dicerna oleh pembaca dengan baik (begitu juga saya lakukan pada resensi buku-buku yang lain pada postingan saya yang telah lalu).

“Ya, saya bakal dibaca!” begitulah kutipan kata-kata Multatuli yang membuat saya semangat dan berusaha untuk menuntaskan buku yang paling sulit yang pernah saya baca selama ini. Dan sampai sekarang, kata-kata itu masih melekat dihati saya sebagai kalimat yang mengandung unsur “hero” seorang penulis.

Siapa yang tidak tahu Multatuli? Bahkan sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah diberitahu bahwa ada seorang Belanda yang baik hati, yang menaruh simpati dan empati kepada rakyat Indonesia, yang bernama Eduard Douwes Dekker, yang kemudian memiliki nama samaran Multatuli.

Dalam pengantar dan pendahuluan buku ini, banyak informasi tentang kehidupan Multatuli, mulai dari dia dicampakkan dari jabatannya, kemudian menyewa sebuah losmen di Belgia, dan akhirnya dalam kurun waktu sebulan dia menulis buku berjudul Max Havelaar dalam musim dingin tahun 1859. Kemudian tulisan ini terbit pertama kali pada tahun 1860 sebagai buku dan diakui sebagai karya sastra penting dan menjadi bahan pembicaraan para sejarawan, kritkus, dan pengamat kesusastraan dunia. Read the rest of this entry »

——————————————————————————————————————————————

Metamorfosis Kapitalisme : Tantangan bagi Gerakan Sosial

February 21, 2011

Judul Buku                      : Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis

Pengarang                       : David Harvey

Penerbit                           : Penerbit Resist, Yogyakarta

Tahun terbit                   : Januari 2009

Oleh : Tri Guntur Narwaya, M.Si

Mitos tentang Negara yang semakin melemah adalah

sebuah konsep yang mengaburkan analisis secara ilmiah…

Pentingnya tindakan negara dalam memungkinkan sistem kekuasaan modal

dari negara-negara industri untuk berfungsi justru meningkat,

bukannnya berkurang sejalan dengan semakin menyebarnya

sistem ini secara internasional.

(Peter Marcuse)

Banyak telaah tentang teori-teori kapitalisme kontemporer melihat Neoliberalisme pada prinsipnya sebagai wujud dari perkembangan baru dari praktik imperialisme. Fase ini dimulai ketika terjadi kegagalan atas penerapan ekonomi neo klasik yang masih menerapkan intervensi “regulasi pemerintah” Memberikan titik tekan pada ”regulasi pemerintah” untuk menghidari kekeliruan asumsi bahwa dengan praktik neoliberalisme maka peran negara dihabisi. Negara sekiranya pada posisi tertentu sebenarnya justru tetap eksis dan mengambil langkah yang lebih meningkat dalam sistem neolibalisme. Teori menghilangnya negara dalam sistem neoliberilme sebenarnya justru banyak hal dipakai oleh kaum imperialisme untuk mendorong keyakinan ideologis bahwa negara memang sangat penting bagi perlindungan rakyat sehingga pasar tidak harus dilepas secara bebas. Bagi penggagas neoliberalisme pasar seyogyanya harus dikeluarkan dari jerat regulasi apapun yang menghambat dinamika pasar. Melalui tokohnya August von Hayek dan Milton Friedman mereka menentang apa yang digagas oleh ekonom klasik seperti John M. Keynes yang mengatakan bahwa pemerintah mempunyai tugas untuk mengontrol seluruh aktifitas kehidupan ekonomi. Bagi Friedman, kebijakan semacam ini justu akan membangkrutkan masyarat. Barangkali alur argumentasi secara umum terhadap problem Neoliberalisme tertangkap demikian. Bagaimana selanjutnya kita membaca dalil-dalil justifikasi dan juga diskursus yang dibawa neoliberalisme beserta alat angkutnya menjadi sangat penting dilihat.

Buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalisme karya David Haevey merupakan sekian khasanah buku yang cukup kritis untuk membaca pola transformasi dan berbagai selubung tersembunyi dari motif kapiralisme muktahir. Tahun 1970-an sianggap sebagai lompatan konfigurasu ekonomi politik sangat penting. Neoliberalisme dianggap sebuah resep yang ampuh untuk membangun sistem ekonomi politik baru yang bisa keluar dari situasi krisis. Karya David Harvey ini berusaha mengisi kekosongon telaah kajian tentang Neoliberalisme yang cenderung masih bersifat umum. David Harvey meyakini bahwa sangat penting untuk membaca keseluruhan situasi dan polemik dan dalam istilah harvey disebut sebagai “drama ekonomi politik” yang melatarbekangi mengapa gagasan dan ide Neoliberalisme cukup berkembang pesat. Read the rest of this entry »

———————————————————————————————————————————————–

Bilangan Fu

Judul       : Bilangan Fu

Penulis    : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit     : 2008

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar. Read the rest of this entry »

————————————————————————————————

“Madilog” Manifesto Sang Revolusioner

February 17, 2011

Judul buku    : Madilog (materialisme, dialektika logika)

Penulis            : Tan Malaka

Penerbit          : Teplok Press

Cetakan            : 2000

Bagaimana Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika lahir, satu-satunya sumber tertulis tampaknya cuma apa yang dicatat sendiri oleh pengarangnya.

“Ditulis di Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta. Di sini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilogialah lebih kurang 8 bulan, dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari,” tulis Tan Malaka.

Berarti Tan Malaka menulis naskah itu di tengah-tengah masa pendudukan represif Jepang. Dia mengenang bagaimana dia menulis “di bawah pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya” dan membawa naskah Madilogbersembunyi ke Bayah Banten dan ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa Tengah.

Bahkan, menurut Tan Malaka, naskah itu turut bersamanya ketika dia ditangkap di Surabaya gara-gara masalah Tan Malaka palsu. “Bahkan hampir saja Madilog hilang,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut duduk perkaranya.

Tapi, dapatlah disimpulkan bahwa penulisan Madilog di bawah keadaan darurat, bahkan semua referensinya hanya mengandalkan ingatan, yang tampaknya juga memanfaatkan teknik “jembatan keledai”. Hal ini tentu jauh dari umumnya kemewahan para ilmuwan yang menulis di perpustakaan kampus yang sangat lengkap. Read the rest of this entry »

———————————————————————————————–

Long March di samping ketua Mao Tse Tung

February 16, 2011

Judul buku : Long March di samping ketua Mao Tse Tung

Penulis  : Tjen Tjan Feng

Penerbit : Guci Media Surabaya (2001)

Buku ini diterbitkan berdasarkan sebuah catatan perjalanan seorang tentara Merah China bernama Tjen tjan Feng, ajudan setia Mao Tse Tung selama Long March Revolusi Tiongkok pada tahun 1930-1936, sejauh 12.500 km, yang melewati 11 propinsi mulai dari Fu Cien, Ciang Si, Kuang Tung, Hu Nan, Kuang Si, Kui Chou, Si Kang, Se Cuan, Kan Su, dan yang terakhir menuju Sansi utara.

Setelah membaca buku ini, memang benar seperti yang telah dipesankan oleh sang kata pengantar di awal-awal, buku ini tidak memaparkan muluk-muluk tentang ideology dan pemikiran ataupun strategi politik dan militer ala Mao Tse Tung, melainkan sebuah kisah sikap dan perilaku sehari-hari dari seorang Mao Tse Tung dalam Long March tersebut.

Layaknya sebuah biografi, buku ini ringan untuk dicerna namun tidak mengurangi berbagai pesan moral yang dibawanya. Paling tidak kita bisa melihat gambaran sosok Mao Tse Tung dari perspektif subjektif lain, yaitu dari ajudan setianya, Tjen Tjan Feng yang kemudian diangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai panglima sub teritorium Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok atau yang lazim disebut dengan Tentara Merah, yang kadang kala jauh berbeda dari yang pernah kita lihat, dengar dan baca dari referensi-referensi orde baru yang mana Komunis itu identik dengan kekejaman dan tidak berperikemanusiaan. Read the rest of this entry »


Arus Balik (Sebuah Novel Sejarah)

February 13, 2011

Judul buku         : Arus Balik (Sebuah Novel Sejarah)

Pengarang          : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit              : Hasta Mitra

Tahun Terbit      : 2002

Jumlah halaman    : 795 hlm.

Sebagai penulis yang pada tempat pertamanya adalah novelis, Pram sengaja memilih menuangkannya hasil penelitiannya dalam bentuk novel daripada suatu karya ilmiah. Bukan tidak  ada maksud kawan, tapi hal inilah yang justru merupakan keistimewaan dari seorang Pramoedya Ananta Toer dibanding novelis-novelis lain. Pram ingin mempresentasikan pesan yang dikandung sejarah bagi semua segmen masyarakat, mulai dari pembaca paling awam sampai pada lingkungan yang paling terpelajar. Lingkaran pembaca seluas-luasnya itulah yag ingin dia jangkau, bukan hanya sejumput intelektual dari lingkaran masyarakat ilmiah, melainkan semua lapisan masyarakat diharapkan dapat mencerna dan memahaminya.

Seperti halnya “Arus Balik” yang sebenarnya adalah suatu bagian dari proyek besar studi sejarah nusantara yang dilakukan Pram sebelum dia ditahan pada tahun 1965, dia tuangkan dalam sebuah novel sejarah dan bukan thesis sejarah. berisi tentang sebuah epos pasca kejayaan nusantara pada awal abad 16, pram ingin kita mencerna dan memahami kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh pendahulu bangsa ini, agar dapat dapat menjadi cerminan dan pelajaran bagi generasi berikutnya. Read the rest of this entry »


Dunia Sophie : Sebuah Novel Filsafat

February 9, 2011

Judul           : Dunia Sophie

Pengarang: Jostein Gaarder

Penerbit : Mizan

Tahun Terbit :1996

Alkisah berputar di sekitar seoran gadis kecil berusia 14 tahun bernama Sophie Amundsen. Dia adalah seorang gadis yang hidup bersama ibunya sementara ayahnya yang seorang kapten kapal tidak dapat menemaninya di rumah. Awalnya, kehidupannya terbilang wajar seperti kebanyakan anak seumurannya yang pada umumnya lebih senang bermain. Kehidupan Sophie mendadak berubah semenjak ia mendapatkan sebuah surat misterius dari orang yang mengaku namanya sebagai Alberto Knox. Entah siapa orang itu, namun setiap hari surat-surat berisi pelajaran filsafat datang padanya. Selama berkala, Sophie memperoleh pendidikan filsafat dengan cara yang unik dari seorang yang sebelumnya sama sekali tidak di kenalnya. Dan seiring dengan bertambahnya pelajaran filsafat yang diperoleh, Sophie pun semakin penasaran dengan guru filsafatnya. Terlebih lagi, nama Sophie berada dalam percakapan kartu-kartu pos aneh yang dikirim oleh Albert Knag kepada Hilde Knag di kediaman Alberto Knox. Entah kenapa, dua orang tersebut seperti sangat mengenal Sophie sementaa tidak bagi Sophie untuk mengenal keduanya. Apakah ini ada kaitannya dengan pelajaran filsafat aneh yang diterimanya dari oang bernama Alberto Knox? Ataukah jangan-jangan ada rencana terselubung di balik pelajaran filsafatnya yang aneh? Semua misteri tersebut akan terjawab pada akhir cerita bertumpuk yang tak terduga alurnya. Read the rest of this entry »


Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang

February 9, 2011

Penulis: Bertrand Russell

Penerjemah: Sigit Jatmiko dan kawan-kawan

Penerbit: Pustaka Pelajar

Tahun: Januari 2004

Ketebalan: 110 halaman

Ukuran dan ISBN: 14×21 cm/ 979-3237-34-1

Sinopsis Buku

Dalam buku ini, penulis berusaha memaparkan sebuah tinjauan sejarah filsafat Barat yang dimulai sejak zaman pra-Socrates. Zaman pra-Socrates menandai permulaan manusia dalam memikirkan asas-asas fundamental alam semesta. Dalam bahasa lain adalah filsafat alam kuno. Kemudian, kosmologi kuno ini mengalami pergeseran menuju filsafat yang berpusat pada manusia. Socrates berdiri paling depan dalam menjelaskan antropologi manusia yang didasari kebijakan-kebijakan filosofis. Setelah babak Socrates, Platodan Aristoteles, sejarah filsafat berlabuh dalam pemikiran kontemplatif teologis, yaitu dalam wujud filsafat Plotinus. Read the rest of this entry »

d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: