Annelies

August 10, 2012

  Sebuah Refleksi Kekinian atas

  Novel Bumi Manusia

  Oleh : Iskandar La Ngali*

            Sebuah kisah trauma tragis seorang pejuang hak dan martabat manusia, bahwa manusia bukanlah untuk dijajah dan direndahkan secara terus-menerus, menjadi sosok penginspirasi pada generasi selanjutnya. Perjalanan kisah kehidupan yang liku-liku membawanya pada sebuah kehidupan yang mapan tapi dirasa masih kurang. Kebahagiaan yang menjadi milik banyak orang tidaklah berlaku pada mereka. Pada Annelies, Nyai Ontosoroh, dan Minke.

Annelies adalah gadis belia yang terlahir dari rahim kolonialisme. Perkawinan seorang ibu pribumi yang bernama Sanikem dengan Herman Malemma, seorang tuan Belanda. Minke adalah anak seorang priyayi yang disekolahkan dengan harapan untuk bisa menjadi pewaris tahta feodalis dari tingkat pribumi hingga kolonialis, tetapi tercerahkan lewat didikan penjajah. Nyai Ontosoroh adalah Sanikem yang berubah nama setelah menjadi nyai sang tuan Belanda. Terbuka hatinya setelah merasakan derita pribumi dalam cengkraman penjajah, memaksanya melakukan pembelaan atas hak dari pribumi. Annelies dalam “Bumi Manusia” adalah simbol perjuangan pribumi yang mewarisi darah penjajah sehingga membuatnya harus sadar akan siapa dan dimana dia harus berpihak.

Keseharian mereka hanya membangun kehidupan yang lebih baik, membayar hutang kepada penjajah untuk bisa mandiri. Para pekerja dibuat menjadi raja diatas tanah dan pundak masing-masing. Sehingga tidak teralienasi dengan kondisi yang ada. Alienasi dalam pengertiannya adalah keterasingan individu dari diri mereka sendiri dan orang lain. Menurut Marx dalam Economic And Philosophical Manuscripts of 1844, keterasingan berakar dalam struktur sosial yang menyangkal sifat esensi manusia. Sebuah keadilan terhadapan buruh yang coba diangkat untuk diterima sebagai kebenaran oleh pribumi dan kaum kolonialis. Usaha yang membuat banyak orang mulai melirik. Ada yang sinis dan tersenyum, ada yang merasa disaingi, sehingga harus membangun kekuatan untuk melawan, mempertahankan dominasi kekuasaan dalam warna “Bumi Manusia”. Ada pribumi, priyayi, dan murni penjajah. Read the rest of this entry »

Advertisements

Manjali dan Cakrabirawa

May 9, 2011

Judul Buku : Manjali dan Cakrabirawa

Penulis          : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Oleh : Iwan Soebakree*

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel Bilangan Fu yang terangkai dalam satu seri. Apabila novel Bilangan Fu lebih bernuansa filosofis, maka seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Seri Bilangan Fu sendiri adalah serangakaian novel dengan tiga tokoh utama Marja, Yuda dan Parang Jati. Kali ini, si gadis kota, Marja dititipkan oleh Yuda kekasihnya kepada Parang Jati sewaktu libur kuliah. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi disana, perlahan namun pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya itu. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur dibalik hutan : kisah cinta, sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Salah satunya adalah hantu Cakrabirawa atau Bhairawa Cakra.

Tema mengenai percandian dari masa Indonesia klasik, mitos calon arang serta misteri arca Bhairawa Cakra, yang kemudian dipakai oleh pasukan elit penajaga presiden pada masa Orde Lama dengan nama Cakrabirawa. Semua berhasil dirangkaikan dalan sebuah teka-teki yang cantik dan menarik oleh Ayu Utami. Ditambah dengan adanya tokoh Jacques-seorang arkolog dari Prancis- turut memberikan warna pada pola-pola pemikiran dalam novel ini. Antara pemikiran irasional yang spiritualis dan klenik dengan pola pikir rasional khas ilmuwan. Rentetan kebetulan-kebetulan dalam novel ini seakan-akan memberikan pilihan pada kita. Memilih berpikir irasional dan berkata bahwa ini adalah rencana Tuhan ataukah berpikir rasional dengan berusaha mencari pola-pola dari kejadian-kejadian tersebut. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: