Percikan Revolusi Subuh

January 30, 2011

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit          : Hasta Mitra

Tahun Terbit : 2002

Pengalaman mengajar kita,bahwa kita harus berpikir sebelum menceburkan diri dalam medan pengalaman itu sendiri. Berpikir mendahului pengalaman!Dan berpikir itu sendiri sudah suatu pengalaman pendahuluan. Apabila orang menceburkan diri ke dalam pengalaman sebelum menyiapakan diri dalam berpikir akan menumbuk kiri-kanan. Kemudian orang merasa alangkah pahit. Dan kepahitan hidup menuakan orang dan memendekkan umur, Begitu kata orang.

Dari pengalaman-pengalaman manusia, orang belajar mengetahui dan mengenali diri sendiri. Dan tak adalah suatu kesenangan yang begitu sempurna daripada mengenal diri sendiri. Sayangnya,untuk mengenal diri sendiri umur kita terlalu pendek. Jadi sejak bumi ini masih lumpur panas hingga sekarang ini tak seorangpun kenal dirinya sendiri. Tak ada orang yang pernah merasai kesenangan yang sempurna.
Kadang-kadang kita tersandung pada batu, sakit dan mengaduh. Kadang-kadang dengan mendadak saja darah kita meluap mendengar perkataan orang. Atau dengan tidak sadar tiba-tiba kita ingin menonton bioskop, ingin bersanding dengan kekasih. Kita tak pernah mengerti kenapa jadi begitu. Dan hal-hal kecil itu menunjukkan manusia tak kenal dirinya sendiri. Hanya sebentar saja manusia berpikir dengan otaknya sendiri.Ini pula sebabnya mengapa orang banyak mengalami kepahitan dalam hidupnya.

Tulisan ini adalah pengalaman yang terserak-serak. Pengalaman yang tumbuh dari jiwa manusia yang kerdil-suatu campur aduk yang tak berencana. Kesenangan, kesedihan, gambaran dari jiwa kecil yang tak dituntun oleh pikiran yang sehat. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: