Manjali dan Cakrabirawa

May 9, 2011

Judul Buku : Manjali dan Cakrabirawa

Penulis          : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Oleh : Iwan Soebakree*

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel Bilangan Fu yang terangkai dalam satu seri. Apabila novel Bilangan Fu lebih bernuansa filosofis, maka seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Seri Bilangan Fu sendiri adalah serangakaian novel dengan tiga tokoh utama Marja, Yuda dan Parang Jati. Kali ini, si gadis kota, Marja dititipkan oleh Yuda kekasihnya kepada Parang Jati sewaktu libur kuliah. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi disana, perlahan namun pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya itu. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur dibalik hutan : kisah cinta, sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Salah satunya adalah hantu Cakrabirawa atau Bhairawa Cakra.

Tema mengenai percandian dari masa Indonesia klasik, mitos calon arang serta misteri arca Bhairawa Cakra, yang kemudian dipakai oleh pasukan elit penajaga presiden pada masa Orde Lama dengan nama Cakrabirawa. Semua berhasil dirangkaikan dalan sebuah teka-teki yang cantik dan menarik oleh Ayu Utami. Ditambah dengan adanya tokoh Jacques-seorang arkolog dari Prancis- turut memberikan warna pada pola-pola pemikiran dalam novel ini. Antara pemikiran irasional yang spiritualis dan klenik dengan pola pikir rasional khas ilmuwan. Rentetan kebetulan-kebetulan dalam novel ini seakan-akan memberikan pilihan pada kita. Memilih berpikir irasional dan berkata bahwa ini adalah rencana Tuhan ataukah berpikir rasional dengan berusaha mencari pola-pola dari kejadian-kejadian tersebut. Read the rest of this entry »


Mereka Yang Dilumpuhkan – Pramoedya Ananta Toer

March 25, 2011


Oleh : Kyand Cavalera*

Mengisahkan tentang Abas dan penjara Bukit Duri. Penjara bagi anak – anak Indonesia yang dipenjarakan oleh Belanda karena sebab dianggap berbahaya. Manusia – manusia Belanda sendiri yang ditipu pemerintahannya. Tempat yang tak seharusnya dihuni manusia yang sesuai kodratnya bebas. Tekanan batin dan fisik yang ditumpahkan kepada tubuh – tubuh mereka yang dilayakkan seekor kuda. Dan pemilik tubuh tak punya kuasa atas tubuhnya, dengan kata lain hak nya sebagai manusia hilang oleh kekuasaan penjajah ( baca: Belanda ). Dan mau tak mau harus diterima. Yang dengan tertutupnya pintu penjara, mereka ini meninggalkan dunia bebas dan tak tahu kapan akan menghirup udara bebas diluar.

Tentu saja tak ada beda dengan lingkungan dunia luar yang menciptakan watak dan karakter manusia, lingkungan penjara juga menciptkannya. Dengan tekanan fisik dan batin yang dibebankan, dikungkungkan  pada tiap – tiap penghuninya. Luas penjara yang hanya tak seberapa tak mampu membendung kuatnya luapan kebebasan penghuninya. Sehingga manusia bui ini lebih memilih menyembunyikan wajah asli mereka dalam sel tahanan sempit. Gambaran kekangan rantai penjajahan. Read the rest of this entry »


Sang Pemimpi dan Inspirasi

March 14, 2011

Judul Buku       : Sang Pemimpi
Penulis              : Andrea Hirata
Penerbit            : Bentang Pustaka

Oleh : Iwan Soebakree*

Buku ini merupakan sequel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan buku ini, semua pembaca novel ini menyepakati bahwa Sang Pemimpi sangat inspiratif. Buku ini seakan meneruskan kesukesan Laskar Pelangi yang terbit sebelumnya. Sesuai dengan judulnya “Sang Pemimpi” yang menceritakan kisah para perajut Mimpi dari Tanah Belitong. Mereka adalah Ikal (dewasa), Arai dan Jimbron. Tetap menampilkan sebuah kesederhanaan seperti halnya Laskar Pelangi, namun penuh semangat juang dalam meraih mimpi-mimpi mereka.

Pada saat anda membaca awal dari buku ini, mungkin anda akan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala membaca kekonyolan dan kenakalan dari tokoh-tokoh didalamnya. Sampai-sampai sebutan “berandal” disematkan kepada mereka. Keanggunan bahasa dan segala daya tariknya mampu menyedot anda kedalam dunia mereka, sehingga seakan-akan anda dapat merasakan menjadi bagian dari cerita. Sempat saya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah jimbron yang tergila-gila dengan kuda, trenyuh melihat kepedulian seorang Arai terhadap sesamanya. Sesuatu hal yang jarang terjadi dalam kehidupan sekarang.

Potret-potret kecil perjalanan mereka yang memiliki efek filosofis dan sarat akan pesan moral, akan langsung menusuk kedalam sanubari anda. Selingan humor yang kadangkala muncul, dibalut dengan keadaan yang serba tidak berdaya, terasa halus, sehingga tanpa terasa anda akan tertawa sekaligus menangis. Namun, arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun Anda melihat ke dalam diri sendiri, memantik semangat anda, sehingga akhirnya anda berani berkata “Tidak” pada semua keputusasaan dan tak akan menyerah pada segala ketakberdayaan karena keadaan. Read the rest of this entry »


Laskar Pelangi

March 11, 2011

Judul buku/novel : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka •

Laskar Pelangi mengisahkan anak-anak Belitung yang masih memiliki impian, harapan, dan cinta. Sekolah mereka, SD Muhammadiyah, merupakan sekolah yang terancam bubar jika jumlah murid tahun ajaran baru tidak mencapai sepuluh orang. Kehadiran anak kesepuluh disambut suka cita oleh semua orang. Ini merupakan awal mencapai mimpi-mimpi mereka.

SD Muhammadiyah mengajarkan banyak hal kepada anak-anak Laskar Pelangi. Tiadanya fasilitas sekolah yang memadai, tak membuat mereka kehilangan kreativitas. Mereka terus belajar, berkembang, dan semakin dewasa. Hari-hari yang mereka lalui pun membuat persahabatan mereka semaikn erat. Read the rest of this entry »


Supernova Petir

March 5, 2011

Judul buku         : Supernova : Petir

Penulis                 : Dewi “DEE” Lestari
Penerbit              : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)

Dewi Lestari atau yang akrab disapa Dee, lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Alumnus FISIP Universitas Parahyangan dengan gelar Sarjana Politik. Petir merupakan kelanjutan dari dua serial Supernova pendahulunya. Dua buku pendahulunya, “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang”, dan “Supernova: Akar” masing-masing dinominasikan dalam Kharulistiwa Literary Award tahun 2002 dan tahun 2003. melalui kiprah kepenulisannnya Dee juga dianugrahi A Playful Mind Award (2003) dan dinobatkan menjadi salah satu Generasi Biang Extra Joss (2004). Dee terlebih dahulu dikenal sebagai penyanyi rekaman dan penulis lagu.

Kata-kata awal di luar cerita dimulai dengan bahasa tingkat tinggi yang sangat sulit dimengerti dan penih metafora, membuat kening berkerut untuk memahami dan membayangkan makna dari tulisannya, padahal hanya kata pengantar, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Cerita awal yang ditampilkan pada bab pertama berkisah tentang dua orang laki-laki, Ruben dan Dhimas yang terlibat hubungan homoseksual. Cerita yang merupakan lanjutan dari “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang” tidak perlu diceritakan karena sama sekali tidak mempengaruhi cerita “Supernova: Petir” . Jadi cerita ini hanya seperti mengingatkan pada serial Supernova sebelumnya. Read the rest of this entry »


Max Havelaar

February 21, 2011

 

Judul asli: Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi  (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)

Penulis: Multatuli

Penerjemah: H. B, Jassin

Penerbit: DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991

 

 

Saya sungguh sangat sulit untuk memulai membuat resensi buku ini. Karena apabila saya harus mengikuti kaidah penyajian resensi buku yang baik dan benar, maka waktu saya untuk membuat postingan baru di blog ini tidaklah cukup. Sama halnya saat ketika saya membaca buku ini, menyajikan kembali inti dari cerita ini sangat lah sulit dan sukar. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk menyajikan resensi menurut hemat saya sendiri, yang semoga saja dapat dicerna oleh pembaca dengan baik (begitu juga saya lakukan pada resensi buku-buku yang lain pada postingan saya yang telah lalu).

“Ya, saya bakal dibaca!” begitulah kutipan kata-kata Multatuli yang membuat saya semangat dan berusaha untuk menuntaskan buku yang paling sulit yang pernah saya baca selama ini. Dan sampai sekarang, kata-kata itu masih melekat dihati saya sebagai kalimat yang mengandung unsur “hero” seorang penulis.

Siapa yang tidak tahu Multatuli? Bahkan sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah diberitahu bahwa ada seorang Belanda yang baik hati, yang menaruh simpati dan empati kepada rakyat Indonesia, yang bernama Eduard Douwes Dekker, yang kemudian memiliki nama samaran Multatuli.

Dalam pengantar dan pendahuluan buku ini, banyak informasi tentang kehidupan Multatuli, mulai dari dia dicampakkan dari jabatannya, kemudian menyewa sebuah losmen di Belgia, dan akhirnya dalam kurun waktu sebulan dia menulis buku berjudul Max Havelaar dalam musim dingin tahun 1859. Kemudian tulisan ini terbit pertama kali pada tahun 1860 sebagai buku dan diakui sebagai karya sastra penting dan menjadi bahan pembicaraan para sejarawan, kritkus, dan pengamat kesusastraan dunia. Read the rest of this entry »


Bilangan Fu

February 20, 2011

Judul       : Bilangan Fu

Penulis    : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit     : 2008

 

 

 

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: