Max Havelaar

February 21, 2011

 

Judul asli: Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi  (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)

Penulis: Multatuli

Penerjemah: H. B, Jassin

Penerbit: DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991

 

 

Saya sungguh sangat sulit untuk memulai membuat resensi buku ini. Karena apabila saya harus mengikuti kaidah penyajian resensi buku yang baik dan benar, maka waktu saya untuk membuat postingan baru di blog ini tidaklah cukup. Sama halnya saat ketika saya membaca buku ini, menyajikan kembali inti dari cerita ini sangat lah sulit dan sukar. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk menyajikan resensi menurut hemat saya sendiri, yang semoga saja dapat dicerna oleh pembaca dengan baik (begitu juga saya lakukan pada resensi buku-buku yang lain pada postingan saya yang telah lalu).

“Ya, saya bakal dibaca!” begitulah kutipan kata-kata Multatuli yang membuat saya semangat dan berusaha untuk menuntaskan buku yang paling sulit yang pernah saya baca selama ini. Dan sampai sekarang, kata-kata itu masih melekat dihati saya sebagai kalimat yang mengandung unsur “hero” seorang penulis.

Siapa yang tidak tahu Multatuli? Bahkan sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah diberitahu bahwa ada seorang Belanda yang baik hati, yang menaruh simpati dan empati kepada rakyat Indonesia, yang bernama Eduard Douwes Dekker, yang kemudian memiliki nama samaran Multatuli.

Dalam pengantar dan pendahuluan buku ini, banyak informasi tentang kehidupan Multatuli, mulai dari dia dicampakkan dari jabatannya, kemudian menyewa sebuah losmen di Belgia, dan akhirnya dalam kurun waktu sebulan dia menulis buku berjudul Max Havelaar dalam musim dingin tahun 1859. Kemudian tulisan ini terbit pertama kali pada tahun 1860 sebagai buku dan diakui sebagai karya sastra penting dan menjadi bahan pembicaraan para sejarawan, kritkus, dan pengamat kesusastraan dunia. Read the rest of this entry »

Advertisements

Perempuan dan Islam

January 31, 2011

Penulis                       : Nawal el Saadawi

Penerbit                    : Yayasan Obor Indonesia

Jumlah Halaman   : 156 halaman

Tahun terbit            : 2002

Sebuah Inspirasi

Seorang temanku kemarin bertanya kepadaku “ cak Medi, kata dosenku Islam adalah agama yang memuliakan perempuan, benar ta cak? Padahal di Islam poligami dibolehkan, lalu perbuatan poligami apa yo bisa dikategorikan masuk ke memuliakan perempuan?”

Sebentar aku diam, lalu kujawab “ bukannya tak bisa kujawab pertanyaanmu itu dengan jawaban ya benar atau tidak itu salah, tapi mari kita berkeliling berputar-putar di banyak sudut lalu mungkin kau bisa memilih jawaban atas pertanyaanmu itu sendiri.”

Nah, inilah jawabanku…

Apakah Islam memuliakan perempuan? Akan banyak perdebatan disini jika kujawab langsung, dan karena ada sebuah agama kau bawa maka kemungkinan perdebatan ini menjadi “menyakitkan” adalah sebuah kemungkinan yang besar karena perbincangan untuk menilai satu hal dari agama (terlebih di Indonesia) adalah termasuk sensitif.

Gimana kalo kujawab Islam memuliakan sosok ibu. Ada perdebatan disini? Mungkin tidak, tapi mungkin juga ada tapi lebih minimal bukan? Aku tak perlu menuliskan ayat-ayat dalam Alqur’an maupun hadist-hadist umat islam tentang hal ini, tapi kukira sepanjang yang kuketahui, tak ada satu butir dalam ajaran islam yang memperbolehkan menghinakan ibu. Bahkan saat berselisih pendapat di titik yang paling fundamental pun (aqidah), paling jauh yang diijinkan oleh islam adalah meninggalkannya dengan ma’ruf atau dengan cara yang baik dalam arti tidak menyakiti baik secara fisik, verbal maupun bentuk yang lain. Apakah jawabanku ini mencukupi untukmu kawan? Ataukah belum? Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: