TKI ILEGAL KOK DILINDUNGI ??

July 22, 2011

Oleh : Hana Lidiana*

Masih ingat dengan berita tentang para TKI / TKW di Arab Saudi yang terlantar sehingga membentuk “komunitas” sendiri di bawah jembatan tol ?

Kalau masih ingat.. pasti kamu ngikutin berita kelanjutan yang ini dong .. kalau nggak salah itu.. kabarnya pemerintah RI akan memulangkan mereka dengan dana khusus untuk para TKI tersebut. Bener nggak sih tuh gosip ? *nggosip mode : on*

Iyes ! lo bener ! pemerintah RI berencana akan memulangkan para TKI yang terlantar tersebut menggunakan dana / anggaran khusus untuk para TKI sebesar xxx Milyar !! eh.. apa xxx Triliyun ya? Ah, whatever lah ! yang penting dua gelar duit itu sama – sama gede !

Kalau ada yang bertanya, “siapa yang tidak setuju dengan rencana ini?” … sayalah yng akan menjadi orang pertama yang pamer ketiak (baca: angkat tangan) ! mau tau kenapa ? heelllloooooo ?? lo semua gak liat lebih lanjut beritanya ? omaigot … capek dweeh .

Coba kalian telusuri lebih dalam *kalau perlu sampai dibawah alam sadar anda* background ke-TKW-an mereka ! mereka itu ILEGAL ! nggak resmi ! nggak sesuai dengan prosedur !

Mereka itu berangkat ke Arab Saudi dengan cara instan. Mereka berangkat dengan paspor turis, padahal kan kalo yang ilegal pake paspor kerja. Mereka kok pake paspor turis ya ? mau kemana buk ? melancong ? titip oleh – oleh boleh ? nggak banyak kok .. kurma satu kontainer aja … *ngaco!* Read the rest of this entry »


Apresiasi

July 17, 2011

 

Apresiasi dan Terima kasih kami ucapkan, atas sumbangan buku yang telah diberikan untuk jadi tambahan koleksi perpustakaan kami, seluruh koleksi buku kami dapat diakses siapapun/rakyat umum secara gratis ( peminjaman buku tidak dipungut biaya) karena komitmen kami adalah untuk memberikan sumbangan kecil bagi rakyat miskin di negri ini agar terbebas dari belenggu ketidaktahuan serta pembodohan dari mereka yang sedang berkuasa dan tidak menginginkan rakyat

menjadi pandai, kritis lalu mulai mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat miskin ini.

 

Terima kasih sekali lagi pada mereka yang telah menyumbangkan sebagian buku dari koleksi pribadi mereka untuk dapat dibaca secara cuma-cuma melalui perpustakaan kami, pemberian  ini adalah wujud nyata kontribusi mereka terhadap rakyat negri ini, dari kami bukanlah sematan bintang di dada seperti para pahlawan besar, tapi hanya ucapan kecil dalam kalimat-kalimat ini, serta jabat tangan erat penuh ketulusan penghargaan.

 

Terima Kasih…..

 

 

 

Daftar Sumbangan Buku di PERPUSTAKAAN BERSAMA 

selengkapnya dapat di lihat di sini.


Jakarta, Yang Bodoh,…Yang Tertawa

July 10, 2011

Oleh : Medi Bilem*

Selamat ulang tahun Medi…selamat ulang tahun Jakarta….

22 Juni tak penting, kecuali bagi orang tua Medi, tepatnya ketika tahun 1980 saat anak ini lahir, dan beberapa manusia yang di KTP atau Paspornya tertera sebagai warga Jakarta, Warga Negara Indonesia. Tentu tak semua, maksudku kadar pentingnya bagi semua warga Indonesia (bahkan sepengetahuanku sampai hari ini tak bakalan ada acara kenduri yang meriah di provinsi ujung barat sekaligus ujung timur Negara ini, yang kumaksud Aceh dan Papua (mungkin karena belum pernah aku temui tulisan atau lagu orang Aceh dan Papua yang manis tentang Jakarta) ketika kota Jakarta memperingati ulang tahunnya yang kesekian ratus sekian…

Sebenarnya males nulis ini, karena mesti buka internet, baca buku A buku B, agar tulisan ini tidak jadi bualan yang menyedihkan, atau pemancing kerusuhan tanpa dibekali landasan material yang valid sebagai bahan, tetapi sebagaimana kata yang kusematkan sebagai judul tulisanku, tentu bukan tanpa alasan. Yup, yang bodoh yang tertawa. Lalu jika kukembangkan tentu saja menjadi, yang terbodoh yang paling keras tertawanya, yang paling ngotot jelas paling keras kemarahannya, dan yang mengerti ( dan ini semoga, meski pesimis) yang akan membandingkan dengan literature-literatur yang ada dalam pustakanya untuk meluruskan tawa-tawa konyol Indonesia. Read the rest of this entry »


Yang Hilang, Yang Kurindukan

July 3, 2011
By: Shinta Dianatalia*

Buku, buku dan buku. Dari sanalah aku mulai menulis. Berawal dari note-note kecil yang aku tulis untuk mengomentari sebuah buku yang aku baca hingga catatan personal yang kutulis untuk kepuasan pribadiku, aku mulai suka menuliskan apapun yang kurasakan. Dari kecil oleh kedua orang tuaku yang paling kusayang, aku hanya dikenalkan pada komik. Ya…apapun itu aku masih bisa menghargai, dari sana aku bisa mengerti gambar chibi-chibi walaupun sampai sekarang aku masih belum bisa (dan tak yakin bakal ada talent!!) untuk bisa mengambar sebuah manga.

 Namun semuanya berubah ketika aku mulai masuk SMP. Disekolahku yang baru ini, memiliki sebuah perputakaan TERBESAR yang pernah aku lihat. Sebentar teman, jangan kau sewot dulu, jangan kau bayangkan perpustakaan itu seperti Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Konggres di Amrik sana yang memang pantas mendapat gelar terbesar, biar kuceritai kalian. Pada saat itu, saat itu aku baru melihat satu perpustakaan saja seumur hidupku yaitu saat aku duduk di Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, perpustakaan di sekolah dasarku hanyalah sebuah ruangan berukuran 2 x 4 meter yang cuma bisa menampung sekitar 10 orang saja. Itu pun harus rela sesekali kakiku terinjak. maklumlah saat itu aku tinggal didesa dengan tingkat minat baca yang rendah (tetapi bahkan saat aku udah gede n kuliah gini, di kota ternyata meski beda skala dan model, minat bangsaku atas bacaan kurasa tak beranjak jauh dari mengharukan…), mungkin itulah alasan kenapa sekolahku membangun ruangan seperti itu, sebuah ruang yang berbentuk seperti gudang menaruh buku, hanya karena diatasnya ada plang kecil bertuliskan PERPUSTAKAAN maka kami semua mesti menyebutnya itu…ah, betapa masa kecil sekolahku, betapa mengenaskan mengenal untuk pertama kalinya bagi seorang anak, sebuah kata “perpustakaan” dan disodorkan sebuah gambaran seperti itu? Ah, bangsaku, bangsa besar, tetapi hanya mampu untuk menyediakan ruangan 2×4 meter untuk memaknai sebuah kata mentereng bernama PERPUSTAKAAN…. Namun bagaimanapun keadaannya, itu merupakan sekolah pertamaku, tempat dimana aku mengenal huruf dan kemudian menulisnya. Mulai dari yang bulat bergelombang (huruf “o” yang pada saat kelas satu aku masih belum bisa membuatnya belum sempurna sehinga terlihat seperti telur dadar) atau tulisan tegak namun bergoyang seperti rumput alang –alang yang tubuh tinggi menjulang (ini saat belajar menulis latin) hingga bisa mendekati sempurna yang layak dikatakan sebagai tulisan bukan chiken track… Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: