NEGARA MARITIM: Hanyalah Puing Sejarah

December 22, 2012

79perahu cadik di didnding borobudur

 

Oleh: Musthofa Ghulayayni

Ada hal penting yang tidak lagi menjadi perhatian publik bahkan ketersediaan literatur sejarah yang juga minim mengenai cerita maritim negeri ini mengakibatkan isu tentang maritim seakan sudah punah dan tidak lagi menjadi penting dalam kajian sejarah dan kajian ilmiah. Terakhir kali isu maritim yang berkembang yaitu soal konflik “ambalat” antara perairan perbatasan Indonesia dengan Malaysia, itu pun tidak mampu membangkitkan etos bangsa ini untuk mengkaji kembali tentang sejarah maritimnya kecuali sikap reaksioner dengan semangat nasionalisme yang setengah matang.

Sementara kelatahan media televisi, internet dan koran menggiring masyarakat pada sebuah isu-isu fiktif yang cenderung provokatif misalnya, terorisme (terakhir tentang ancaman bom Solo), penistaan sebuah agama (munculnya film innocent of muslim), dan masih banyak tayangan-tayangan cabul lainnya yang menjebak pada sikap heroisme semata. Maksud penulis bukan berarti semua itu tidak penting akan tetapi akan memunculkan sentimen masyarakat ketika memandang kelompok atau golongan lain yang tidak sealiran dengannya. Read the rest of this entry »

Advertisements

Melankolis

December 6, 2012

Oleh : Iwan Soebakree*

Gak tau kenapa hari ini, aku rasakan sedikit melankolis. Semua orang pasti tahu apa itu melankolis. Sebuah kondisi dimana keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu, sedih, dan  muram. Soe Hok Gie pun pernah mengalaminya. Dalam catatan hariannya dia pernah rasakan situasi itu. Saat itu dia frustasi dengan kondisi sekitarnya. Dia terbuang tapi tetap konsisten dalam memegang idealisme. “Lebih baik terasing daripada harus mengalah pada kemunafikan”. Itulah kata-kata yang yang menjadi jawaban atas realita tersebut. Dalam kesendiriannya dia tulis sebuah sajak untuk orang yang di cintainya. Rangkaian kata yang romantis, untuk orang yang dia kasihi. Harapan terakhir Soe Hok Gie untuk bersandar karena kelelahan pisikis yang amat berat saat itu. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: