Merdeka 100%

March 11, 2011

Oleh : Iwan Soebakree*

Selain Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), salah satu karya besar Datuk Seri Tan Malaka yang lain adalah Merdeka 100%. Merdeka 100% ini, ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945 setelah sebelumnya Tan Malaka berkeliling Jawa. Pertempuran Surabaya ini memberikan inspirasi untuk menulis tiga buah brosur: Politik, Rencana Ekonomi, dan Muslihat. Peredaran brosur ini hanya terbatas sekali, oleh sebab itu tidak pernah bisa menjadi alternatif untuk menggantikan Perjuangan Kita, karya Sjahrir yang sebenarnya jauh di bawah brosur Tan Malaka (Harry A. Poeze, KITLV Belanda)

Buku ini barangkali merupakan karya Tan Malaka yang paling imajinatif. Brosur ekonomi-politik yang dituturkan dalam gaya naskah drama, percakapan antara kelima tokoh yang oleh Tan Malaka dijuluki “para pendakwa modern”, yakni: Godam (wakil kaum buruh), Pacul (wakil kaum tani), Denmas (wakil priyayi), Toke (wakil kelas pedagang), Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Disini Tan Malaka merumuskan perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya untuk meraih kemerdekaan, namun lebih jauh kedepan yaitu bentuk Negara Indonesia Merdeka. Melalui dialog ketiga tokoh tersebut, kita dapat menelaah dan merenungkan kembali maksud dari Merdeka 100% yang di tulis Tan Malaka. Read the rest of this entry »


Metamorfosis Kapitalisme : Tantangan bagi Gerakan Sosial

February 21, 2011

Judul Buku                      : Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis

Pengarang                       : David Harvey

Penerbit                           : Penerbit Resist, Yogyakarta

Tahun terbit                   : Januari 2009

 

 

 

Oleh : Tri Guntur Narwaya, M.Si

Mitos tentang Negara yang semakin melemah adalah
sebuah konsep yang mengaburkan analisis secara ilmiah…
Pentingnya tindakan negara dalam memungkinkan sistem kekuasaan modal
dari negara-negara industri untuk berfungsi justru meningkat,
bukannnya berkurang sejalan dengan semakin menyebarnya
sistem ini secara internasional.
(Peter Marcuse)

Banyak telaah tentang teori-teori kapitalisme kontemporer melihat Neoliberalisme pada prinsipnya sebagai wujud dari perkembangan baru dari praktik imperialisme. Fase ini dimulai ketika terjadi kegagalan atas penerapan ekonomi neo klasik yang masih menerapkan intervensi “regulasi pemerintah” Memberikan titik tekan pada ”regulasi pemerintah” untuk menghidari kekeliruan asumsi bahwa dengan praktik neoliberalisme maka peran negara dihabisi. Negara sekiranya pada posisi tertentu sebenarnya justru tetap eksis dan mengambil langkah yang lebih meningkat dalam sistem neolibalisme. Teori menghilangnya negara dalam sistem neoliberilme sebenarnya justru banyak hal dipakai oleh kaum imperialisme untuk mendorong keyakinan ideologis bahwa negara memang sangat penting bagi perlindungan rakyat sehingga pasar tidak harus dilepas secara bebas. Bagi penggagas neoliberalisme pasar seyogyanya harus dikeluarkan dari jerat regulasi apapun yang menghambat dinamika pasar. Melalui tokohnya August von Hayek dan Milton Friedman mereka menentang apa yang digagas oleh ekonom klasik seperti John M. Keynes yang mengatakan bahwa pemerintah mempunyai tugas untuk mengontrol seluruh aktifitas kehidupan ekonomi. Bagi Friedman, kebijakan semacam ini justu akan membangkrutkan masyarat. Barangkali alur argumentasi secara umum terhadap problem Neoliberalisme tertangkap demikian. Bagaimana selanjutnya kita membaca dalil-dalil justifikasi dan juga diskursus yang dibawa neoliberalisme beserta alat angkutnya menjadi sangat penting dilihat.

Buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalisme karya David Haevey merupakan sekian khasanah buku yang cukup kritis untuk membaca pola transformasi dan berbagai selubung tersembunyi dari motif kapiralisme muktahir. Tahun 1970-an sianggap sebagai lompatan konfigurasu ekonomi politik sangat penting. Neoliberalisme dianggap sebuah resep yang ampuh untuk membangun sistem ekonomi politik baru yang bisa keluar dari situasi krisis. Karya David Harvey ini berusaha mengisi kekosongon telaah kajian tentang Neoliberalisme yang cenderung masih bersifat umum. David Harvey meyakini bahwa sangat penting untuk membaca keseluruhan situasi dan polemik dan dalam istilah harvey disebut sebagai “drama ekonomi politik” yang melatarbekangi mengapa gagasan dan ide Neoliberalisme cukup berkembang pesat. Read the rest of this entry »


%d bloggers like this: