Yang Hilang, Yang Kurindukan

July 3, 2011
By: Shinta Dianatalia*

Buku, buku dan buku. Dari sanalah aku mulai menulis. Berawal dari note-note kecil yang aku tulis untuk mengomentari sebuah buku yang aku baca hingga catatan personal yang kutulis untuk kepuasan pribadiku, aku mulai suka menuliskan apapun yang kurasakan. Dari kecil oleh kedua orang tuaku yang paling kusayang, aku hanya dikenalkan pada komik. Ya…apapun itu aku masih bisa menghargai, dari sana aku bisa mengerti gambar chibi-chibi walaupun sampai sekarang aku masih belum bisa (dan tak yakin bakal ada talent!!) untuk bisa mengambar sebuah manga.

 Namun semuanya berubah ketika aku mulai masuk SMP. Disekolahku yang baru ini, memiliki sebuah perputakaan TERBESAR yang pernah aku lihat. Sebentar teman, jangan kau sewot dulu, jangan kau bayangkan perpustakaan itu seperti Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Konggres di Amrik sana yang memang pantas mendapat gelar terbesar, biar kuceritai kalian. Pada saat itu, saat itu aku baru melihat satu perpustakaan saja seumur hidupku yaitu saat aku duduk di Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, perpustakaan di sekolah dasarku hanyalah sebuah ruangan berukuran 2 x 4 meter yang cuma bisa menampung sekitar 10 orang saja. Itu pun harus rela sesekali kakiku terinjak. maklumlah saat itu aku tinggal didesa dengan tingkat minat baca yang rendah (tetapi bahkan saat aku udah gede n kuliah gini, di kota ternyata meski beda skala dan model, minat bangsaku atas bacaan kurasa tak beranjak jauh dari mengharukan…), mungkin itulah alasan kenapa sekolahku membangun ruangan seperti itu, sebuah ruang yang berbentuk seperti gudang menaruh buku, hanya karena diatasnya ada plang kecil bertuliskan PERPUSTAKAAN maka kami semua mesti menyebutnya itu…ah, betapa masa kecil sekolahku, betapa mengenaskan mengenal untuk pertama kalinya bagi seorang anak, sebuah kata “perpustakaan” dan disodorkan sebuah gambaran seperti itu? Ah, bangsaku, bangsa besar, tetapi hanya mampu untuk menyediakan ruangan 2×4 meter untuk memaknai sebuah kata mentereng bernama PERPUSTAKAAN…. Namun bagaimanapun keadaannya, itu merupakan sekolah pertamaku, tempat dimana aku mengenal huruf dan kemudian menulisnya. Mulai dari yang bulat bergelombang (huruf “o” yang pada saat kelas satu aku masih belum bisa membuatnya belum sempurna sehinga terlihat seperti telur dadar) atau tulisan tegak namun bergoyang seperti rumput alang –alang yang tubuh tinggi menjulang (ini saat belajar menulis latin) hingga bisa mendekati sempurna yang layak dikatakan sebagai tulisan bukan chiken track… Read the rest of this entry »

Advertisements

%d bloggers like this: