Melankolis

Oleh : Iwan Soebakree*

Gak tau kenapa hari ini, aku rasakan sedikit melankolis. Semua orang pasti tahu apa itu melankolis. Sebuah kondisi dimana keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu, sedih, dan  muram. Soe Hok Gie pun pernah mengalaminya. Dalam catatan hariannya dia pernah rasakan situasi itu. Saat itu dia frustasi dengan kondisi sekitarnya. Dia terbuang tapi tetap konsisten dalam memegang idealisme. “Lebih baik terasing daripada harus mengalah pada kemunafikan”. Itulah kata-kata yang yang menjadi jawaban atas realita tersebut. Dalam kesendiriannya dia tulis sebuah sajak untuk orang yang di cintainya. Rangkaian kata yang romantis, untuk orang yang dia kasihi. Harapan terakhir Soe Hok Gie untuk bersandar karena kelelahan pisikis yang amat berat saat itu.

Ngomong-ngomong soal melankolis, tak sengaja kemaren aku lihat cuplikan sebuah video klip dari Addele. Seorang artis yang melambung namanya dari sebuah ajang pencarian bakat di Inggris sono. Merinding rasanya aku dengar liriknya. Penasaran aku cari lagi video klip nya di internet. Begitu dapat aku dengarkan lagu itu berkali-kali. Aku resapi apa artinya sebuah duka apapun itu penyebabnya.

Waktu meresapi terpotong dengan kewajiban untuk mengajar kembali. Mulai dari situ satu persatu-persatu peristiwa membuat aku teringat kembali dengan yang namanya duka dari lagu yang aku dengarkan tadi. Siswa banyak yang gak ngerjakan tugas. Aku kecewa. Aku sedih dan tentunya berduka dengan kondisi seperti ini. tapi ya sudahlah. Aku pun berlalu.

Rasa sedih membuat aku gak mampu untuk pulang. Aku sempatkan untuk ngopi untuk mehilangkan kesedihan. Tiba-tiba terbersit pikiran tentang anakku yang semalam sakit. “Bagaimana kabarnya sekarang ya si kecil”. Aku ambil HP dan aku SMS istriku untuk nanya keadaan si kecil. Sebuah berita yang memunculkan rasa kuatir pun muncul. “Adik batuknya makin menjadi, malah sempat muntah”. Ah… aku harus pulang.

Sampai rumah, aku liat keadaan dia. Batuk dan rewel. Iba dan kasihan melihat si kecil seperti itu. Aku gendong dia dan aku peluk dia. Semakin aku peluk dia semakin aku terbawa rasa melankolis dari lagu tadi dalam situasi yang lebih nyata. Ah,… maafin Ayah ya dik..! sekarang ayah udah ma kamu. Ayah akan peluk kamu supaya kamu merasa nyaman dan hangat. Berdoa semoga Tuhan segera memberimu kesembuhan, sehingga terbit kembali senyummu dan semua ocehan kecilmu yang menggemaskan itu. Mungkin karena hanya itu kompensasi yang bisa aku lakukan.

Dan sekarang si kecil sudah tidur. Aku buka lagi laptop dan aku dengarkan dan resapi lagi lagu-lagu itu. Yang pasti ada hal yang berbeda dari dari melankolis karena lagu itu dengan situasi sore tadi. Lagu itu lebih condong yang berbau romantisme, tentang hubungan wanita dengan pria. Namun melankolisku karena kehidupan yang aku jalani ini. Melakukan pekerjaan yang belum sepenuhnya membawa kebahagiaan, dan melihat si kecil yang kemudian sakit dan memanggil-manggil ayahnya. Ah… apabila tak kuat pastilah frustasi yang aku rasakan.

Ada orang bilang romantisme berakibat pada mental cengeng yang kental dengan dramatisasi. Namun dalam kasusku bukan dramatisasi yang terjadi. Tapi karena memang kondisi yang ada sudah dramatis. Karena itu, ijinkan hari ini aku kawan… ijinkan aku sedikit melow. Melihat si kecil yang terbatuk-batuk di sela-sela tidurnya, dengan perasaan hati yang perih dan dengan mata berkaca-kaca, terbersit sebuah doa…”Ya Tuhan sembuhkanlah anakku..! Amin.

*Guru SMA Swasta di Surabaya dan Pengurus Perpustakaan Bersama, Gresik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: