Indonesia? Mari Mabuk, Bakar Dupa, Kita ke Surga

Oleh : Medi

Med, menurutmu gimana sih Indonesia dahulu dan Indonesia hari ini?

Uwah…

Tolong ambilkan Smirnoff di kulkas dan putarkan lagu Rage Against The Machine volume maximal. Jangan ganja di tumpukan koran koleksiku, karena aku tak hendak relax dan tertawa berbicara tema ini. Jangan putar Bob Marley apalagi yang Don’t Worry Be Happy…tak pas buat bincang tema kita kali ini. Tinggal setengah botol? Tak apa, itu sudah cukup. 3 gelas kecil aku sudah mabuk, 5 gelas tak terdengar normal bicaraku di telinga, dan 10 gelas maka kamu akan terlihat seperti  bidadari bagiku dan pagi-pagi tentu engkau tak akan perawan lagi.

Tak apa, bawa setengah botol itu. Hadiah kawan baik ku dari jalan-jalan di negeri utara katanya. Setengah botolnya habis di tahun-tahun lampau, di tahun 66, tahun 74, tahun 96, tahun 98 di Pulau Jawa. Sebelum itu berbotol-botol arak dan tuak telah menjadi darah, dari 1227 hingga 1965. Kubuang jadi urea, darah, nanah, tahi, ludah, ingus juga di Jawa. Dan bukankah Jawa itu Indonesia juga kan? Entahlah, lama aku tak membuka peta.

Afrizal Malna, sang penyair cerdas itu, pernah ditanya pendapatnya soal Negeri Swiss saat memberi kuliah disana, dia bilang “oh, Swiss? Seperti kamar mandi yang bersih, cocok untuk bunuh diri”. Pada Agustus 1996 di Chiapas Mexico, Marcos, sang Sub Comandante Zapatista pernah juga ngomong ngawur saat ditanya pendapatnya tentang dunia dan negara-negara. ”Oh globalisasi? Neoliberalisme? Itu ide kaum kanan hendak membangun sebuah toko besar untuk jual dan beli anak-anak dan perempuan Indian disana, budak berkulit coklat, kuning, hitam disebelahnya”. Jika dikasih waktu lebih tentu dia akan berlanjut ngelantur “Emas Papua, kayu Borneo, ganja Aceh, ikan-ikan Laut Banda dan semua kekayaan Indonesia. Tentu juga agama-agama, disamping gerai seni dan sex, yang dijual dalam paket menurut undang-undang dan dikuasai oleh negara” jika kau tanya soal ekonomi Indonesia.

Kini kau tanyakan Indonesia padaku?

Well, tentu harus ada garuda, harus ada pita Bhineka Tunggal Ika, harus ada bendera dua warna, harus kau tulis angka 45, harus tersematkan pula gambar beringin, bintang, kapas, padi dan kepala banteng (atau sapi?), dan tentu pakaian serta rumah adat. Jangan lupa Borobudur dan batik. Jangan ganti itu semua, meski hanya dalam kepalamu, apalagi kau lukis dan kau tampilkan di pameran di Gedung Pancasila, nanti masuk penjara!!!

Jangan kau bayangkan garuda akan kau rubah jadi burung kenari warna kuning cerah yang imut itu. Jangan tambahkan bintang warna apapun pada warna merah bendera hanya karena engkau fanatik musik punk. Jangan rubah 45 jadi 95 karena Kurt Cobain mati tahun itu. Jangan ganti beringin jadi kelapa, itu untuk anak-anak pramuka, bukan anak pancasila. Bintang, kapas, padi jangan pula hendak kau rubah jadi apel, stiletto atau potret artis korea hanya karena kau menyukai itu semua, jangan. Sekali-kali jangan, karena dahulu Aidit, Nyoto dan jutaan orang dikubur dalam tanah karena angan-angan yang ngawur, hendak menempelkan gambar palu dan cangkul dibikin silang.

Hei, berapa gelas yang sudah ku tenggak ini? Masih dua, untunglah.. Masih bisa kau dengar suaraku? Dan untunglah wajahmu masih tetap belum berubah jadi Agnes Monica. Mari kita lanjutkan cerita…

Sebentar sayang, saat mengucap Indonesia tadi mendadak aku ingin kencing ke kebun belakang rumah. Ada tanaman melati disana, yang 3 buah bunganya tertempel di bahu ayahmu dalam sepuh emas itu. Liatlah besok, lusa, atau minggu depan, itu melati pasti akan pucat dan berbau tak wangi lagi karena tanah ini telah kami kencingi dengan nanah dan darah, hadiah bertahun mengidap raja singa tanpa obat memadai di puskesmas desa.

Oh ya, sampai dimana tadi? Ah iya, Indonesia. Dari mana hendak mulai? dari The History of Java karangan Raffless atau Max Havelaar karya Multatuli? Pake apa kita, Sejarah Nasional Indonesia karangan Nugroho Notosusanto dan Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai nya Soegiarso Soerojo atau Zaman Bergerak tulisan Takashi Shiraisi dan Pergulatan Menuju Republik nya Tan Malaka karya Harry A. Poeze? Atau yang lain? Arus Balik? Ah matamu menoleh ke buku Saskia Wieringga, Profesor Belanda itu. Ambil apa saja yang kau suka dalam lemari buku ku yang dalam kotak kategori sejarah. Baca, lalu mungkin kita bisa berdiskusi tentang “masa lalu” Indonesia..

Banyak temanku yang awalnya dulu hanya suka-suka, mendadak jadi tergila-gila membaca sejarah. Kulihat mereka hari ini dengan tatap tak percaya. Teman-temanku dahulu waktu SMA yang kalau ketemu acaranya bertukar film porno, cewek mana yang bisa dibawa dan ditiduri, karburator berapa yang dipasang, serta berapa duit berhasil dicuri dari dompet ibu. Tapi, saat terakhir kali kami berbincang di Warung Goenoeng, betapa sekarang mereka menyumpah-nyumpah marah karena bualan Sumpah Palapa yang jadi jawaban kenapa Majapahit berjaya di pelajaran sejarah sekolah. Mereka sudah mulai membahas materi-materi sejarah yang harus dijelaskan untuk dapat logis dalam dialektika nya, mulai dari perjalanan Laksamana Cheng Ho ke selatan, soal jalur penyebaran mesiu yang kata mereka jalur barat arah Eropa oleh Marcopolo dan Selatan ke arah Nusantara oleh armada perang Tiongkok, soal kayu Sulawesi untuk bahan utama pembuatan kapal-kapal perang Majapahit, soal orang Bajo yang jadi kapten dalam armada laut karena orang Jawa bukanlah manusia kebudayaan samudra dan seterusnya. Bergelas-gelas kopi, asbak yang penuh, laptop-laptop terbuka, berserak buku.

Mereka deretkan buku bergambar aneka rupa, bicara tentang masyarakat-masyarakat, tahun sekian-sekian, corak produksi, tenaga produktif, kapitalisme, komunisme, neoliberalisme, postmodern, perjuangan kelas, perang di negeri ini di negara itu, restorasi, nasionalisasi, militer, perbudakan, pelacuran, hegemoni, kopi, internet, dan segala macam yang dahulu waktu sekolah tak ada dalam kepala. Tentu saja mereka sedang bicara tentang Indonesia. Iya.. Indonesiamu, Indonesiaku, Indonesia kita, Indonesia mereka, Indonesia yang Indonesia, Indonesia yang kata perempuanku  dalam pembuka novelnya “yang dengan sedih aku cinta..”

Indonesia, Indonesia itu, betapa dia suka bersimbah mandi darah dan air mata saudara sendiri. Darah air mata dari jaman Arok, hingga jaman Lapindo yang merajalela depan mata..

Indonesia, Indonesia itu. Negeri penuh dengan beragam satwa yang hari ini bermutasi menjadi penguasa-penguasa dari kampung hingga istana. Dari babi yang suka berkubang, mahluk dengan perut tak pernah penuh. Rakus menyantap hutan, melahap tambang, kemaluan, minyak, garam, gula, merica, tembakau, dan segala. Hingga mahluk berupa anjing dan serigala. Anjing serigala penjaga modal yang terus menyalak, menyantap daging manusia pribumi, daging petani, daging buruh, daging kuli, daging pedagang kaki lima, daging banci, daging pengemis, daging lonte, daging seniman jalanan..

Tapi, Indonesia, Indonesia itu, juga punya jutaan wajah disamping ribuan pulaunya. Wajah-wajah mulia manusia selain perut babi dan congor anjing.    Wajahmu, wajahku, wajah ibuku, wajah ibumu, wajah ibu mereka, wajah anak-anak sekolah, wajah bayi-bayi merah, wajah penarik becak, wajah-wajah dalam bangsal Rumah Sakit Umum Daerah, wajah-wajah dengan kaleng ditangan di terminal stasiun, masjid gereja, wajah-wajah temanku yang aku tahu mereka lapar hari ini dalam kamar kos karena kiriman telat, wajah guru yang gembira melihat kita bersemangat belajar, wajah-wajah dengan mata yang enak dilihat kata Ahmad Tohari dalam cerpennya, wajah yang tak mengandung kebencian dan amarah, wajah yang welas asih, wajah yang penuh toleransi dan senyum tak mengharap pamrih..

Wajah-wajah itu pun Indonesia, wajah yang memberimu alasan untuk hidup dan tak memperbolehkan patah arang dan putus asa.

Indonesia, Indonesia itu, memang disesaki dengan manusia babi, manusia anjing serigala yang membawa petaka dan  kematian. Tapi Indonesia juga punya wajah-wajah ibu dan bayi yang memberi kehidupan.

Indonesia yang dulu, Indonesia sekarang, ataupun Indonesia yang masa depan..Hanya perlu sebanyak mungkin, pemberani-pemberani.

Yang menembak, menggantung, mengubur, membakar, melemparkan para babi para anjing berbentuk manusia itu. Lalu barulah bisa kita teruskan pada para ibu dan bayi, apa yang dahulu Soekarno dan kawan-kawannya pernah teriakkan,  “ Merdeka!! ”.

Itu pendapatku, jangan kau tempel di koran sekolah, cukup dalam kepalamu. Sudah selesai? Ah engkau tertawa, ha ha, mari bakar dupa dan pergi ke surga….

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: