Hiruk Pikuk – ku

Oleh :  Ilham* 

            Tak tahu darimana harus memulainya. Mungkin terlalu lama tak menulis atau bahkan baru sadar ternyata aku belum pernah menulis? Tak tahu aku. Yang ingin kubagi disini hanya secuil peristiwa yang pernah hadir dalam hidupku.

Aku bukan penulis ulung, layaknya Pramoedya dengan Tetralogi Buru nya ataupun Dewi Lestari dengan Supernova nya. Aku tertarik untuk menulis karena mereka inilah yang memberiku sepercik inspirasi  bahwa dengan menulis kita bisa mengungkapkan, meluapkan ataupun menggambarkan apapun yang ingin kita sampaikan. Aku masih ingat kata teman ku bahwa dalam tulisan lah seseorang dapat dikatakan ada atau hidup. Apabila orang tersebut dapat di gambarkan sebagai suatu sosok di dalam tulisan. Dengan kata lain, seorang itu bisa meng “ada” kalau ia menulis, ditulis atau tertulis.

Sekarang, ijinkan aku mencoba, ijinkan aku menulis, dalam huruf…

Ini cerita tentang sepenggal hidup. Hidupku. Jangan bayangkan kisah, jangan harapkan sepenuhnya. Ini hanya penggalan, yang mungkin tak berarti. Tapi tetaplah hidupku, isi otakku, meski dalam penggalan cerita.

Aku mahasiswa semester 2, Fakultas FISIP Universitas Swasta di Surabaya. Ibuku pedagang kue, dan ayahku sudah pensiun dari kerjanya di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang obat-obatan dan minuman energy. Sekarang ayahku menjadi supir, dari karyawan-karyawan di sebuah perusahaan pakan ternak. Orang tuaku punya 3 anak , salah satu di antaranya adalah aku. Kakakku sekarang semester 4, dan adikku kelas 1 SMK. “Membanting tulang” untuk bertahan hidup, harfiah maupun metafora dalam makna, adalah kami dalam setiap hari. Itulah potret aku dan keluargaku. Jangan terharu, kami sudah terbiasa, dan kami bahagia.

Suatu sore ayahku bertanya “ Nak , sudah yakin kau dengan jurusan yang saat ini kau pilih ? Kujawab “ Dengan ijin Tuhan, saya masih yakin dengan jurusan yang saya pilih Yah”. Kembali beliau bertanya “Jika lulus nanti, jadi apa? Aku pun menjawab “ Dengan ijin Tuhan pula, sesuai dengan yang tertulis di brosur penerimaan mahasiswa baru ”. Lalu aku balik bertanya kepada beliau ”Emang kenapa Yah , apa ada yang salah?”. Kata Ayahku, “ Tidak nak , tapi setahu ayah biasanya mahasiswa FISIP itu selalu bersikap aneh dan  terkenal aktif  berdemonstrasi. Entah itu demo tertib maupun demo anarkis, seperti yang tiap hari tersiar di televisi”. Lalu kujelaskan pada beliau, “ Tidak semuanya kok demo itu berakhir anarkis, tapi demo itu bisa menjadi anarkis apabila apa yang hendak mereka suarakan tidak digubris oleh mereka yang duduk di kursi pemerintahan, entah itu DPR , DPRD , maupun instansi pemerintahan yang lainya. Apa harus menunggu kaca kantor mereka pecah, mobil mereka disandera, atau pos maupun kantor polisi dibakar baru mereka mau keluar mengajak para demostran untuk berunding? Dan apabila saat berunding pun mungkin itu hanya strategi untuk meredam kemarahan para demonstran saat itu. Dan apabila anak FISIP kelihatannya aneh, mungkin itu interpretasi ayah saja. Setiap orang memiliki intepretasi yang berbeda terhadap suatu objek itu sendiri.” Ayah mendengar penjelasanku, entah setuju atau tidak, aku tak tahu karena beliau hanya bergumam pelan “Oh begitu …”.

Nah tuh kan? Entah apa yang aku tulis barusan, sepertinya aku tidak sadar dengan apa yang kutulis,  tapi setidaknya aku ingin menyampaikan apa yang aku ketahui. Sebenarnya ingin mengutip kata-kata si Bilem yang entah dari mana ia dapat “ biar para petani, dengan cangkul mereka, mengubur hidup-hidup para pengkhianat rakyat itu, untuk jadi rabuk, yang dengannya akan tumbuh tanaman dan tumbuhan, yang kelak menghasilkan bunga yang indah” untuk menggambarkan soal demonstrasi tadi, tapi aku bukanlah si Bilem, jadi ya itu tadi yang kusampaikan. Beda bahasa tapi kukira maksudnya sama (setidaknya bagiku, entah bagi dia).

Belum selesai…

Ganti cerita, tak apa mumpung semangat… ^_^

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 25 April 2012 (aku ingat hari itu karena hari itu ada pertandingan Semifinal Liga Champions Eropa antara Chelsea vs Barcelona), doa dan pengharapanku terkabul juga. Chelsea bisa mengakhiri rezim Barcelona di Liga Champions Eropa. sekaligus berpeluang untuk menjuarai Liga Champions Eropa tahun ini. Sori coy, aku fans Chelsea. Nah, dari laga malam itu,  aku mendapat pesan moral yang menarik. Bahwa dengan kerja keras yang tak kenal kata menyerah, kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan. Kalau katanya anak Gontor “ Man Jadda Wa Jadda”. Siapa bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkannya.

Nah, kalau ditarik mundur lagi ke peristiwa yang terjadi pada akhir Maret lalu, saat sebagian besar mahasiswa dan buruh berdemontrasi menolak kenaikan harga BBM kupikir ada yang sama.

Waktu itu kan sebagian besar rakyat Indonesia juga berharap harga BBM tidak jadi naik. Dan hasilnya, BBM  memang tidak jadi naik. Tapi kita harus ingat teman, bahwa perjuangan tidak boleh hanya berhenti di situ saja, karena meski harga BBM tidak jadi naik (bulan ini?) pemerintahan SBY tampaknya tak menyerah begitu saja. Mereka  telah menambah kekuatan mereka dengan menyusupkan pasal siluman dalam RUU migas yaitu pasal 7 ayat 6a  yang berbunyi “Pemerintah berhak menaikan harga BBM bersubsidi apabila harga minyak dunia naik 15% dalam kurun waktu 6 bulan setelah keputusan ini di buat”. Hal ini berlawanan dengan pasal 7 ayat 6 yang berbunyi “Pemerintah dilarang menaikan harga BBM bersubsidi”.

Nah, sekarang kita tinggal menunggu keputusan MK mengenai RUU migas tersebut.  Orang miskin mesti siap hiruk pikuk lagi …(berdemo lagi atau tambah miskin maksudku)…

 

*Mahasiswa Semester 2 Jurusan Ilmu Politik Univ. Wijaya Kusuma Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: