Annelies

  Sebuah Refleksi Kekinian atas

  Novel Bumi Manusia

  Oleh : Iskandar La Ngali*

            Sebuah kisah trauma tragis seorang pejuang hak dan martabat manusia, bahwa manusia bukanlah untuk dijajah dan direndahkan secara terus-menerus, menjadi sosok penginspirasi pada generasi selanjutnya. Perjalanan kisah kehidupan yang liku-liku membawanya pada sebuah kehidupan yang mapan tapi dirasa masih kurang. Kebahagiaan yang menjadi milik banyak orang tidaklah berlaku pada mereka. Pada Annelies, Nyai Ontosoroh, dan Minke.

Annelies adalah gadis belia yang terlahir dari rahim kolonialisme. Perkawinan seorang ibu pribumi yang bernama Sanikem dengan Herman Malemma, seorang tuan Belanda. Minke adalah anak seorang priyayi yang disekolahkan dengan harapan untuk bisa menjadi pewaris tahta feodalis dari tingkat pribumi hingga kolonialis, tetapi tercerahkan lewat didikan penjajah. Nyai Ontosoroh adalah Sanikem yang berubah nama setelah menjadi nyai sang tuan Belanda. Terbuka hatinya setelah merasakan derita pribumi dalam cengkraman penjajah, memaksanya melakukan pembelaan atas hak dari pribumi. Annelies dalam “Bumi Manusia” adalah simbol perjuangan pribumi yang mewarisi darah penjajah sehingga membuatnya harus sadar akan siapa dan dimana dia harus berpihak.

Keseharian mereka hanya membangun kehidupan yang lebih baik, membayar hutang kepada penjajah untuk bisa mandiri. Para pekerja dibuat menjadi raja diatas tanah dan pundak masing-masing. Sehingga tidak teralienasi dengan kondisi yang ada. Alienasi dalam pengertiannya adalah keterasingan individu dari diri mereka sendiri dan orang lain. Menurut Marx dalam Economic And Philosophical Manuscripts of 1844, keterasingan berakar dalam struktur sosial yang menyangkal sifat esensi manusia. Sebuah keadilan terhadapan buruh yang coba diangkat untuk diterima sebagai kebenaran oleh pribumi dan kaum kolonialis. Usaha yang membuat banyak orang mulai melirik. Ada yang sinis dan tersenyum, ada yang merasa disaingi, sehingga harus membangun kekuatan untuk melawan, mempertahankan dominasi kekuasaan dalam warna “Bumi Manusia”. Ada pribumi, priyayi, dan murni penjajah.

Pribumi adalah mereka penduduk asli yang seyogyanya menjadi pewaris atas tanah dan air. Priyayi pada gilirannya adalah hasil perkawinan politik kolonialisme dengan feodalisme sehingga merasa terus terasing, bising atas tindak tanduk yang dilakukan. Bagaimana tidak demikian? Hati nurani yang dilahirkan ditanah leluhur harus direlakan untuk dibagi dalam pembagian yang tidak adil, kadang mereka diusik oleh suara batinnya untuk berhenti menjadi “Inlander goblok yang hanya baik untuk diludahi” kata Belanda. Walau bagaimanapun hatinya tetaplah pribumi. Sesuatu yang munafik kalau harus dibohongi.

Kisah bagaimana Minke digambarkan harus melawan dominasi orang tua atas asas yang dinilai tidak adil terhadap penghambaan pada seorang manusia adalah bukti bahwa jiwa priyayi yang ada dalam dirinya terus diusik untuk segera dilepaskan. Walau tahta kehormatan yang bernama priyayi itu, diwarisan dalam rahim yang dia sendiripun tidak mengharapkan.

Indo adalah mereka yang lahir dalam perkawinan pribumi dengan murni penjajah sehingga terjadi percampuran darah yang ganda, tapi merekapun tetap terusik dengan ulah penjajah yang terus meludahi dan menjadikan simbol “goblok” bagi mereka yang sawo matang ataupun hitam pekat.

Usaha pantang menyerah dalam diri Annelies bersama ibunya Nyai Ontosoroh untuk bisa menjadi bagian dari pribumi harus berakhir dalam warna kekalahan dan air mata. Berdiri diatas pundak negeri yang menjajah dan dijajah, membuat priyayi yang bernama Minke harus berkata kasar dalam ilmu penjajah yang diajarkan dalam bangku HBS (Hoogere Burger School). Dipuja dan menjadi kiblat untuk berbuat, serta membangun perdaban, membuat miris mereka yang rasional. Sejauh pandangan rasional itu ada pada pribumi tetaplah kalah dimeja keadilan atas kebenaran panjajah. Ketidak berdayaan inilah yang mebuat Nyai Ontosoroh harus bangkit untuk tetap melawan walau pada batas harga diri yang tidak ingin direndahkan.

Dalam sejarah dunia, bangsa yang dijajah tidak akan pernah dibuat adil oleh penjajah. Penjajah memandang keadilan adalah pembagian kekuasaan atas dominasi, sedangkan yang dijajah memandang keadilan adalah sebuah kemerdekaan (freedom), bisa berbicara lantang, berdiri diatas tanah, air, dan pundak sendiri, sehingga segala usaha tidak akan jauh dari perubahan mentalitas (change of mentality).

Menarik bagi penulis untuk membawa fakta yang terjadi pada puluhan tahun silam ini untuk dibicarakan pada dekade kekinian, walau dalam warna bumi manusia yang tidak sama. Ensensi nilai ketidakadilan yang ditawarkan oleh penjajah terhadap yang dijajah, tetap melekat kuat dalam urat nadi generasi yang lahir setelah tidak dijajah, atau pantasnya disebut merdeka. Sehingga tetap relevan untuk dibicarakan. Warisan nilai luhur serta perjuangan pahit seperti yang dikisahkan dalam “Bumi Manusia” adalah warisan yang seharusnya mempertajam nalar kritis untuk tidak terus berusaha menjadi inlander atau kelas terjajah.

Penulis dalam hal ini memandang Bung Karno sebagai tokoh yang sangat paham akan usaha apa yang diharus dilakukan pasca dilepas oleh penjajajah. Dia tidak mewariskan kekayaan berlimpah kepada anak cucunya. Hanya semangat perjuangan yang diteruskannya kepada generasi muda. Kepada mereka ia menaruh harapan. Karena “seribu orang tua hanya dapat bermimpi; satu anak muda dapat mengubah dunia” katanya.

Apa yang dikatakan memang itulah kebenaran dalam Bung Karno. Hal ini seperti terlihat ketika pelepasan kekuasan kepresidenan kepada Soeharto. Soekarno keluar istana hanya dengan membawa baju dalam bungkusan kain menuju rumah kecil disekitar Ibu Kota, semua harta benda ditinggalkan dalam rumah rakyat di Istana Negara. Ini artinya apa? Bahwa sebuah usaha yang dilandasan dengan pengetahuan sejarah maka akan sulit dikalahkan. Begitu pula dengan Bung Karno, karena dia sadar hanyalah sebagai penyambung lidah rakyat maka tak patut untuk dia membawa pulang harta rakyat untuk jadikan warisan kepada anak cucunya. Semua ini akan menjadi panutan untuk dijadikan landasan, membuka dinamika serta kematangan dalam berpijak pada realitas sesungguhnya.

Usaha perlawanan yang dilakukan Nyai Ontosoroh terhadap hak Annelies dimata penjajah, akan lebih menarik lagi, tak kalah objek kajian diarahkan pada mereka yang disebut terpelajar. Terpelajar dalam pandangan Seokarno adalah “ mereka yang masih lurus dalam melihat kondisi kikinian, belum tercampur aduk dengan kepetingan manapun, sehingga murni berjuang pada garis kemanusian”. Berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer yang menurutnya “terpelajar itu adalah mereka yang bisa adil sejak berada dalam pikiran” apalagi perbuatan. Tatkala dua pedapat ini dijadikan referensi untuk merujuk siapa kalangan terpelajar, maka pertanyaannya adalah apakah kalangan terpelajar itu adalah mereka yang merubah budaya baca menjadi blackberry? Merubah budaya diskusi menjadi kartu remi? Atau yang betul-betul antipati terhadap kritikan ketika dia melakukan kesalahan?

Penulis kira para pembaca sangat paham akan siapa yang pantas disebut terpelajar. Banyak orang bertopeng memaksakan diri untuk masuk dalam golongan terpelajar agar bisa berbangga dan dipuja kerena yang dikejar adalah eksistensi.

Penyakit inilah yang menjadi wabah yang paling memilukan dalam realitas mahasiswa kekinian, yang penulis pun tidak akan munafik untuk tidak mengatakan bahwa mahasiswa adalah golongan terpelajar. Asalkan selama standar diatas tetap menjadi acuan.    Memaksa orang untuk jujur adalah sebuah kedikatatoran, bagi penulis. Tapi bagi seorang Soe Hok Gie yang berkata “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, penulis kira ungkapan ini adalah sesuatu yang ideal kalau kita tarik garis koordinatnya pada kondisi kekinian. Dimana semuanya telah bersatu padu dalam mewahnya lautan hedonisme, individualisme, serta yang paling menyakitkan adalah pragmatisme, sehingga kejujuran menjadi barang antik dalam realitas ini..

Perjuangan Annelis, Sanikem, dan Minke hanya akan menjadi penghibur diri ditengah muaknya hati akan kebisingan yang tanpa ada arti dan tak bernilai. Ketika semuanya tetap kita sandarkan pada kemunafikan atas pantas atau tidaknya kita disebut terpelajar. Mahasiswa apa bukan, tukang becak apa direktur perusahaan, atau malah yang lebih hina dari semua itu? Dalam hal ini, esensi pelajar adalah untuk menjadi peletak dasar untuk berbicara seperti dalam “Bumi Manusia” walau dijaman yang berbeda.

 

*Iskandar La Ngali : Mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan Univ. Wijaya Kusuma Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: