Catatan Gila Soal Cinta (Bag. 2 – Habis)

Oleh : Kyand Cavalera*)

Cinta, aku suka kata itu. Bukan begitu kawan? Kau tahu, sudah beberapa hari ini aku tak bertemu dengannya. Padahal ingin sekali diri ini. kau tahu lah orang yang dilanda rindu berkepanjangan. Sudah lama sekali tak bersua dengannya. Ah, romantisme belaka. Kenyataannya aku terlalu pengecut. Sudahlah biarkan saja tetap jadi bebek liar. Kebebasan dia yang punya. Yah, kukira cinta hanyalah sebuah bahasa dari system kerja otak bersama hormon tubuh. Bisa juga dibilang Libido, peninggalan masa purba, atau hasil dari Evolusi jutaan tahun.

Bicara soal kebebasan yang dasarnya milik semua orang, bagaimana dengan cinta apakah juga membebaskan? Ya,ya,ya aku tahu cinta yang itu pilihan masing – masing orang. Mau apapun itu pilihan mereka, tak ada hak untuk melarang. Toh ending nya juga sama hubungan antar kelamin. Petani juga berhubungan dengan sawah, meski tak melibatkan kelamin. Tentulah Adam akan patah hati bila Hawa direbut orang. Kupikir petani juga akan rela sawahnya di ambil. Jangankan petani, tentara pun akan gundah.

Baru – baru ini petani tembakau berdemo ke gedung DPR di Jakarta. Mereka menolak dengan semua aturan yang menghalangi hubungan antara mereka dengan sawahnya. Tentu saja aturan itu bernama Undang – Undang. Dengan alasan kesahatan pembuat undang – undang menyalahkan tembakau dan menyakiti petani. Polusi dari pabrik tak pernah dijamah. He, kota ini apa masih ada udara bersih?  Petani hanya punya “ Amuk “, sedangkan undang – undang punya peluru dan perwira. Sedikit gambaran soal cinta di negeri ini. Seperti kata Dr.Martinet di buku Bumi Manusia “Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bendungan bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang”. Indah bukan, cinta dalam bentuknya yang lain.

Cukup sederhana cinta para petani, mengolah tanah, menanam bibit, merawat, memetik hasilnya. Melihat anak dan sawahnya tumbuh adalah bahagianya petani. Tapi berkali – kali juga bahagia itu direbut, direnggut dari mereka. Kawanku Bilem pernah berkata “ Tak ada dalam sejarah umat manusia petani menyakiti siapapun, merekalah yang seringkali disakiti siapapun “. Yah, seolah – olah tubuh kita ini tak pernah mengalir darah dan keringat petani lewat beras atau hasil bumi yang mereka tanam. Tak mudah untuk mencangkul, pernah mecoba pinggul nyeri tak terkira. Atau kalau kau seorang pesolek takkan rela panas matari membelai kulitmu. Cinta mereka tak muluk – muluk, tak memerlukan sayap, atau asesoris lainnya. Menanam, memelihara, dan berbagi itulah cinta mereka.

Maafkan aku diskusi kita melebar bak sayap perkutut. Aku harap kau masih mau menemani. Tak marah ataupun ngambek. Cukup itu saja aku sudah bersyukur. Lain kali kita pasti bisa berdiskusi bersama dalam waktu yang panjang, sampai pagi kalau perlu. Aku ingin tidur, selamat pagi.

*Penulis adalah pengurus Perpustakaan Bersama Gresik, mahasiswa Univ. Muhammadiyah Gresik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: