Jakarta, Yang Bodoh,…Yang Tertawa

Oleh : Medi Bilem*

Selamat ulang tahun Medi…selamat ulang tahun Jakarta….

22 Juni tak penting, kecuali bagi orang tua Medi, tepatnya ketika tahun 1980 saat anak ini lahir, dan beberapa manusia yang di KTP atau Paspornya tertera sebagai warga Jakarta, Warga Negara Indonesia. Tentu tak semua, maksudku kadar pentingnya bagi semua warga Indonesia (bahkan sepengetahuanku sampai hari ini tak bakalan ada acara kenduri yang meriah di provinsi ujung barat sekaligus ujung timur Negara ini, yang kumaksud Aceh dan Papua (mungkin karena belum pernah aku temui tulisan atau lagu orang Aceh dan Papua yang manis tentang Jakarta) ketika kota Jakarta memperingati ulang tahunnya yang kesekian ratus sekian…

Sebenarnya males nulis ini, karena mesti buka internet, baca buku A buku B, agar tulisan ini tidak jadi bualan yang menyedihkan, atau pemancing kerusuhan tanpa dibekali landasan material yang valid sebagai bahan, tetapi sebagaimana kata yang kusematkan sebagai judul tulisanku, tentu bukan tanpa alasan. Yup, yang bodoh yang tertawa. Lalu jika kukembangkan tentu saja menjadi, yang terbodoh yang paling keras tertawanya, yang paling ngotot jelas paling keras kemarahannya, dan yang mengerti ( dan ini semoga, meski pesimis) yang akan membandingkan dengan literature-literatur yang ada dalam pustakanya untuk meluruskan tawa-tawa konyol Indonesia.

Ada yang suka nonton acara teve Opera Van Java? Pernah dengar kata-kata sang dalang di akhir tanyangan itu? Dia selalu ngomong “disini gunung disana gunung, ditengah-tengah pulau jawa. Yang nonton bingung, yang ndalang juga bingung, yang penting semua tertawa”. Nah kawan, mari coba bermain opera. Karena yang ndalang saya, ya aku ganti itu bait terakhirnya jadi “yang sini bingung yang sana bingung, klo semua mengerti, ga bakal ada yang tertawa”, eits belum selesai, mesti ditambah “apalagi orang Jakarta “

22 Juni, hari lahir Jakarta katanya, televisi pada ramai menayangkan acara perayaan hari ulang tahun Jakarta klo tanggal itu, nah hari itu, yaitu 22 Juni 2011 sekitar jam 8an malam, aku pas lagi ngeliat Metro TV sedang menayangkan acara rutinnya yaitu Mata Najwa. Aku lupa judul temanya kalimat tepatnya apa, yang jelas tentang kontroversi hari ulang tahun Jakarta. Kenapa 22 Juni? Siapa yang memutuskan tanggal itu? Sejak kapan tanggal itu ditetapkan jadi hari jadi kota Jakarta? Perbincangan awalnya biasa saja, tetapi kemudia aku pun jadi serius ngeliatnya, karena apa yang disampaikan oleh narasumber belum pernah kudengar melalui teliga, hanya dalam rabaan otak setelah membaca beberapa buah buku. Tetapi sayang bahwa aku tidak bisa mengingat secuilpun dari nama sang nara sumber, tetapi aku masih bisa mengingat beberapa potong kalimat-kalimat yang dilontarkannya saat menjawab pertanyaan Najwa sebagai pembawa acara disitu. Penampakan sang narasumber ini biasa saja, hanya orang yang sudah berumur yang biasa, berambut putih agak sedikit gondrong, memakai kopyah hitam, berpakaian yang setiap orang akan mafhum bahwa itu adalah cara berpakaian orang Betawi, dan saat ditampilkan namanya, dibawahnya ada tertulis kalimat keterangan Budayawan Betawi.

Nah disini apa yang akan saya tulis adalah ingatan samar belaka atas tayangan itu, yang tak kuingat sama sekali kutulis bla bla bla tak ada bukti valid untuk setiap sanggahan atas tulisanku ini, tetapi jika kita punya rekam tayangan itu, tentu akan lebih obyektif untuk dijadikan sebagai bahan diskusi bersama.

Saat Najwa menanyakan “menurut anda, apakah tepat bahwa 22 Juni dikatakan sebagai hari lahir kota Jakarta?”, beliau menjawab “ sebenarnya tanggal 22 Juni itu ditetapkan oleh Gubernur Jakarta Bapak bla bla sejak tahun bla bla melihat dari bla bla bla…?”

“Jadi tidak tepat menurut anda?” lanjut Najwa. Dijawab sang narasumber “lha ulang tahun atau hari jadi itu pada dasarnya merayakan apa sih? Jika katakanlah 17 Agustus 1945 dikatakan hari lahirnya Indonesia itu tepat, karena bangsa Indonesia hari itu memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa lain, kan tidak mungkin misalnya hari kekalahan dan kematian pahlawan-pahlawan kita saat mempertahankan tanah airnya dijadikan hari jadi? Hari penaklukan Aceh oleh Belanda boleh jadi menjadi hari besar perayaan di Nederland sana, tetapi tidak mungkin akan dijadikan hari ulang tahun Banda Aceh misalnya, rakyat Aceh tidak akan mau hari kekalahan mereka menjadi hari jadinya, hari terusirnya Belanda dari Aceh masih relevan jadi hari jadinya Aceh, betul tidak? Lha, untuk Jakarta, yang adalah tempatnya orang Betawi, hari dimana Fatahillah menaklukkan Pelabuhan Kelapa sebagai pelabuhannya orang Betawi apa ya bisa dijadikan hari jadi untuk orang Betawi? Itu Fatahillah memerangi siapa? Membebaskan siapa? Kalau kita mau meneliti literature-literatur sejarah yang ada, yang tertulis dari catatan baik itu yang masih tersimpan di Penang Malaysia, Portugis maupun catatan sejarah di Cina tentang Pelabuhan Kelapa di Betawi, itu Fatahillah tidak melakukan perbuatan berperang disana, Fatahillah itu seorang aggressor, seorang pembunuh, kan yang dinamakan perang itu ada syarat-syaratnya, misalnya tentang kesepakatan kefahaman tentang bahwa dua fihak memang berseteru bermusuhan, tentang siapa-siapa yang berperang dll. Jika yang satu fihak berisikan prajurit berperlengkapan dan bertujuan perang sedang difihak lain adalah golongan sipil yang terdiri dari pedagang, pekerja pelabuhan serta nelayan dengan ketidaktahuan akan ide peperangan, tentu tak bisa dikatakan itu perang, tapi penyerangan. Dan jika jumlah penduduk sipil disitu hanya berjumlah ratusan sementara prajurit penyerang jumlahnya ribuan, maka tak bisa pula itu kita sebut perang, tetapi itu adalah pembantaian missal!”

Waduh,…..dalam kepalaku, terbayang betapa orang-orang di kampungku termasuk didalamnya ibuku, yang begitu bahagia jika pulang dari ZIARAH WALI 9. Betapa mereka merasa seakan baru saja melakukan sebuah perjalanan suci, perjalanan penebusan penyucian dosa, bahkan saat aku kecil dulu entah dari ulama gila mana, katanya jika sudah berziarah wali songo sebanyak sekian kali adalah sama dengan naik haji!! (hari ini aku percaya jika melihat nominal rupiahnya, mulai dari ongkos, biaya akomodasi makan di restaurant dan tidur di hotel hingga acara belanja(ini dimana unsur religinya belanja oleh-oleh ???? kelewatan goblok!) ke Mangga Dua Jakarta, Malioboro Jogja dan Pasar Klewer Solo).

Kubayangkan, jika ada orang yang pengen jadi humanis kok pergi ziarahnya ke makam Hitler, makam Stalin, makam Djengis Khan hanya karena dizaman edan dimana sejarah dipuntir, buku-buku mengatakan bahwa kamp konsentrasi Austwich adalah tempat Hitler untuk bermeditasi mencari petunjuk Tuhan untuk menuntun bangsa Austria ke surga…sementara monument Mahatma Gandhi, buku-buku Aristoteles dimusnahkan karena mereka itu tidak bersarung, memakai peci dan gak bisa bahasa gurun pasir?

Ah, ibuku…jauh-jauh berlelah-lelah naik bus, mendaki gunung jati yang bagi seumur beliau tentulah bukan hal yang mudah, menabung rupiah demi rupiah agar bisa mengunjungi makam sang wali (wali adalah sebuah gelar bagi manusia yang dianggap suci dalam agama Islam, semacam Saint dalam Nasrani) nah gelar wali bagi Fatahillah adalah gelar dari orang-orang yang pengetahuan sejarahnya terbatas pada telinga dan buku-buku yang kertasnya berwana tidak putih dengan tulisan bukan tulisan bangsa ini, dan yang tentu saja harus ditambahi dengan cerita-cerita kesaktian-kesaktian diluar kemampuan mahasiswa ITB atau bahkan MIT Amrik sana untuk mengaplikasikannya di bumi hari ini), ah ibu, tak tega daku…

Sang narasumber dalam Mata Najwa, sang Budayawan Betawi itu boleh jadi cuman membual seenak perutnya, atau boleh jadi otakku yang sedang sempal hari itu sehingga tidak bisa mengingat dengan baik apakah memang begitu yang tertayang di Metro TV hari itu. Atau mungkin aku yang mengarang sinetron mencari sensasi untuk diriku sendiri. Tetapi jika kita bisa memiliki rekam tayangan itu, tayangan Mata Najwa di Metro TV 22 Juni 2011, atau ada diantara kalian meluangkan waktu membaca buku setebal 760 halaman berjudul Arus Balik yang bercerita epos periode masa keruntuhan Majapahit hingga kedatangan Portugis ke Nusantara, ada sedikit remah-remah yang ingin disampaikan oleh sang Budayawan Betawi itu maupun Pramoedya Ananta Toer sang pengarang buku Arus Balik pada kita generasi hari ini untuk mencoba merunut sejarah, membedahnya secara obyektif tanpa prasangka. Mereka mungkin salah, dan aku yakin mereka bisa saja salah, tetapi jika sanggahan kita atas penyelidikan mereka itu obyektif, dilandasi dengan data-data yang bisa dipertanggung jawabkan, dituliskan, dibuka dengan seterbuka-terbukanya pada masyarakat luas, maka mereka-mereka yang telah berusaha untuk membuat jalan itu, yang telah mendahului kita kebalik cermin, tidak akan marah, tidak terima ataupun kecewa, akan tetapi bangga karena kita telah melangkah menjadi sebuah generasi yang mengenal sejarah bangsanya, belajar darinya lalu sadar kelemahan dan kekuatan bangsanya, tidak hanya terlena oleh dongeng-dongeng bahwa ini adalah sebuah bangsa besar penuh keluhuran dan kebijakan tanpa mau menerima bahwa bangsa ini juga adalah sebuah bangsa yang lemah dan mudah dihancurkan oleh luar karena sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini begitu biasa untuk bermandikan darah saudaranya karena kekerdilan watak dan kerakusannya.

Nah kawan, ini jam 3 malam, aku sudah ngantuk, sebagaimana janjiku di awal, untuk mereka yang mengerti, di Indonesia, di Jakarta, 22 Juni ternyata bukan saat yang pas menyalakan kembang api, memotong kue Tart, dan menyanyi menari berpuas hati, entah yang mana yang benar yang mana yang salah, cukup bagiku jika memang dalam sejarah bangsaku ada ribuan nyawa manusia yang melayang, dan ada yang tertawa atas itu, maka sudah saatnya bangsa ini tidak usah membangun apapun kecuali sebanyak-banyaknya RUMAH SAKIT JIWA karena sudah tidak ada lagi yang waras di negri ini.

Untuk seorang kawan di Jakarta, taburkan secuik bunga di Laut Jakarta, dari kami untuk mereka yang telah dilupakan dalam sejarah…

*Ketua Perpustakaan Bersama, Gresik berdomisili di Gresik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: