Yang Hilang, Yang Kurindukan

By: Shinta Dianatalia*

Buku, buku dan buku. Dari sanalah aku mulai menulis. Berawal dari note-note kecil yang aku tulis untuk mengomentari sebuah buku yang aku baca hingga catatan personal yang kutulis untuk kepuasan pribadiku, aku mulai suka menuliskan apapun yang kurasakan. Dari kecil oleh kedua orang tuaku yang paling kusayang, aku hanya dikenalkan pada komik. Ya…apapun itu aku masih bisa menghargai, dari sana aku bisa mengerti gambar chibi-chibi walaupun sampai sekarang aku masih belum bisa (dan tak yakin bakal ada talent!!) untuk bisa mengambar sebuah manga.

 Namun semuanya berubah ketika aku mulai masuk SMP. Disekolahku yang baru ini, memiliki sebuah perputakaan TERBESAR yang pernah aku lihat. Sebentar teman, jangan kau sewot dulu, jangan kau bayangkan perpustakaan itu seperti Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Konggres di Amrik sana yang memang pantas mendapat gelar terbesar, biar kuceritai kalian. Pada saat itu, saat itu aku baru melihat satu perpustakaan saja seumur hidupku yaitu saat aku duduk di Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, perpustakaan di sekolah dasarku hanyalah sebuah ruangan berukuran 2 x 4 meter yang cuma bisa menampung sekitar 10 orang saja. Itu pun harus rela sesekali kakiku terinjak. maklumlah saat itu aku tinggal didesa dengan tingkat minat baca yang rendah (tetapi bahkan saat aku udah gede n kuliah gini, di kota ternyata meski beda skala dan model, minat bangsaku atas bacaan kurasa tak beranjak jauh dari mengharukan…), mungkin itulah alasan kenapa sekolahku membangun ruangan seperti itu, sebuah ruang yang berbentuk seperti gudang menaruh buku, hanya karena diatasnya ada plang kecil bertuliskan PERPUSTAKAAN maka kami semua mesti menyebutnya itu…ah, betapa masa kecil sekolahku, betapa mengenaskan mengenal untuk pertama kalinya bagi seorang anak, sebuah kata “perpustakaan” dan disodorkan sebuah gambaran seperti itu? Ah, bangsaku, bangsa besar, tetapi hanya mampu untuk menyediakan ruangan 2×4 meter untuk memaknai sebuah kata mentereng bernama PERPUSTAKAAN…. Namun bagaimanapun keadaannya, itu merupakan sekolah pertamaku, tempat dimana aku mengenal huruf dan kemudian menulisnya. Mulai dari yang bulat bergelombang (huruf “o” yang pada saat kelas satu aku masih belum bisa membuatnya belum sempurna sehinga terlihat seperti telur dadar) atau tulisan tegak namun bergoyang seperti rumput alang –alang yang tubuh tinggi menjulang (ini saat belajar menulis latin) hingga bisa mendekati sempurna yang layak dikatakan sebagai tulisan bukan chiken track…

 Buku pertama yang aku lihat dan aku baca adalah NY. TALIS karya Budi Dharma, buku setebal kamus yang menarik perhatianku, bukan apa-apa warna cover bukunya itu yang membuatku ingin membacanya. Tapi pada kenyataannya sering aku buat sebagai bantal saat dikelas. Maklumlah..baru saat itu aku membaca buku tanpa gambar selain buku pelajaran. Meski sering aku jadikan sebagai bantal dan tak bisa dipungkiri juga bahwa akupun membacanya meski membutuhkan waktu berhari-hari namun pada ujungnya aku tak pernah menyelesaikan buku itu sampai saat ini.

 Setelah itu aku mulai membaca tulisan-tulisan ringan seperti teenlit, cerpen, artikel remaja atau apapunlah yang bisa aku baca. Seiring berjalannya waktu aku mulai meninggalkan kebiasaanku membaca komik. bahkan saat aku mulai masuk SMA, aku sudah bisa meninggalkannya. Dari buku-buku itulah aku mulai menemukan duniaku sendiri. Aku bisa berimajinasi tanpa dibatasi siapapun, itulah yang membuatku selalu ketagihan dalam membaca..

 Dari membaca aku mulai menulis, yaaa..masih tetap dengan cerpen tak ber ending ku. Tetapi itulah goresan tinta pertama yang berasal dari dalam diriku. Meski tak ber ending aku tetap bangga setidaknya aku bisa berkarya. Aku bisa menghasilkan sesuatu (setidaknya bagiku). Saat SMA aku mulai giat menulis, aku mulai mengirimkan karya-karyaku meski sering ditolak dan jarang diterbitkan (untuk tidak menyakiti diriku sendiri, tak kutulis kalimat TIDAK PERNAH DITERBITKAN) ..hohoho ^^

Dan pada suatu hari aku mengikuti sebuah challenge, meski hanya antar sekolah. Saat itu lomba menulis artikel dan finally aku mendapat juara 2. Sejak saat itu aku mulai bertekad bahwa aku ingin jadi penulis. (disini pas banget rasanya jika kalimat tadi kukasih soundtrack lagu-lagu perjuangan kemerdekaan 1945 semacam Maju Tak Gentar atau Halo-halo Bandung!) he he.

Aku pulang dengan bangga dengan piagam ditangan kananku dan selembar keterangan perolehan beasiswaku yang aku tenteng sampai rumah, namun ketika sampai bukan ekspresi wajah senang yang aku peroleh saat disambut pulang. Memang ibuku senang tapi tidak untuk ayahku…Ya, memang sulit sekali untuk membuat ayahhandaku ini tersenyum, saat aku mencoba menjelaskan agar ayahku bangga dengan prestasiku, namun tetap saja ia membuang muka dan berkomentar ”jadi selama ini kamu hanya membuang-buang waktu hanya untuk itu? Mau jadi apa kamu dengan itu semua?”

Seketika itu sekujur tubuhku lemas seperti tak bertulang (metafora coy). Semalaman aku menangis dan mengutuki diriku sendiri. Disitu aku merasa karakterku mulai mati, sejak saat itu aku berhenti menulis, mengubur semua anganku…tentang “bahwa aku kelak akan jadi penulis hebat”

Aku menguburnya dalam-dalam, entah sedalam apa…terlalu berlebihan jika aku mengatakan sedalam samudra (dan tak ada minat untuk memakai bahasa samudra disini, alay banget rasanya), karena dalamnya aku pun tak tahu…mungkin sedalam sumur yang dibangun sang calon wakil rakyat itu…yang berdalih alih-alih kepentingan warga saat ada pemilu, namun saat gagal dalam pemilihan sekarang, ternyata sumur yang pada awalnya untuk warga kini ditutup dengan alasan yang tak pernah masuk diakal (kecuali akalnya dia yang memang sudah tidak lagi bisa dikategorikan akal manusia kukira). Sehingga kini dari atas ketika dibuka dan dilihat bukan air yang terlihat tapi lumut…seperti lumut yang ada dihatinya…entahlah…

 But, one day setelah aku kuliah aku dikenalkan seorang teman tentang sebuah komunitas (thanks to all of you guys….you just the best deh!!!). Yang bagiku dari merekalah keinginan untuk menulis itu kembali bersemi. Seiring berjalannya waktu dan aku mulai mengenal dan tahu tentang mereka… aku telah disadarkan bahwa menulis bukanlah sebuah dosa yang harus ditutup-tutupi dan dimusnahkan atau dimatikan..(bagaimana mungkin menulis itu dosa? lha bukankah semua kitab suci itu tertulis dan dibaca?)

 Dan kini setelah aku menulis beberapa hal, menulis atas karyaku sendiri. Aku mulai merindukan coretan pertamaku. Cerita yang tak ber ending itu…Ah, andai dahulu flashdisk didesa sudah menjamur seperti sekarang…mungkin aku kini masih menyimpannya….sayang waktu itu flashdisk belum menjamur tapi aku ragu tentang itu bukannya belum menjamur, tetapi flashdisk bahkan belum ada…

 

*Mahasiswa dan aktif di Lembaga Pers Kampus Univ. Muhammadiyah Gresik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: