Borok Pelaku Jaman

Masih berpuasa hari ini. Kira – kira hari ke empat belas dan baru setengah perjalanan menuju fitri. Dan aku masih tak peduli dan terus tak makan minum sejak bedug subuh sampai bedug magrib tiba. Budaya berpuasa. Aku heran, kenapa orang lebih muak melihat orang lain tak puasa ketimbang solat. Padahal solat jadi tiangnya sedang puasa tak tahu apanya. Dan aku masih tak peduli karena sama saja dengan hari biasa. Sama saja karena aku masih berpikir bagaimana cara memperoleh duit buat bayar sekolah. Sama saja si pembecak masih mengayuh, masih jadi kuda bapak haji. Sama saja, karena si penyapu jalan, tukang di pabrik, tukang jahit, dan tukang lainnya sama denganku, masih mikir cari duit. Masih sama saja. Yang bikin beda dalam bulan ini aku jalani siangku tanpa makan atau minum. Yang bikin beda setiap dini hari aku bangun buat makan sahur, entah yang lain bisa sahur atau tidak.  Selain itu masih sama saja.

Kudengar sayup – sayup imam melantunkan alfatihah dengan cepat. Sedang tarawih rupanya. Dan kami sedang tak ikut. Ada hal penting yang sedang kami rembug bersama. Tempat kami berembug tak luas hanya beberapa meter saja panjang dan lebarnya. Berdinding papan triplek coklat yang usang dan tua. Entah pula sudah berapa umurnya. Ampas kopi tumbukan kasar berceceran dimana – mana, dibawah kami bekas pengunjung lalu. Puntung rokok, kulit telur, dan ludah juga ikut serta. Punya sahabatku dan mungkin juga pengunjung lalu. Kami masuk dibarengi sapaan dan pertanyaan seorang perempuan tua dalam logat akrab Madura “ Mesen apa cong ? “ tanyanya. Dan kami biasa memanggil ia ebok, buk, mak, yang artinya ibu.

Kopi ireng 2, kopi poteh 2, es teh 1 “ jawabku dalam bahasa madura. Setelah itu kami duduk dan menunggu sembari merokok.

***

Asap putih mulai memenuhi ruangan dengan harum tembakau. Kami yang merokok suka akan hal itu. Sebab punya sensasi nikmat bagi kami para perokok meski sebetulnya buruk. Kami tahu akan itu tapi kami masa bodoh dan terus mengepulkan asapnya. Kami duduk berhadap – hadapan  dan membicarakan hal yang dianggap darurat oleh Ketua kami dan para kawan yang menganggapnya prinsip. Namun bagiku adalah sebaliknya. Ini kuanggap sebagai borok yang pernah mengidapku sebab aku menyepakatinya waktu itu. Hal terbodoh yang kuambil sebagai jalan. Atas dasar pengalaman ini, karena ke tak beranianku buat menolak, menyanggah, ataupun menghapuskannya maka aku menuliskannya di otakku sebagai cacat manusia.

“ Sudah tak bisa dibiarkan, ini melanggar kesepakatan kita bersama sebagai sebuah keluarga di organisasi. Kita sudah menyepakti bahwa dia Khafid diloloskan sebagai ketua pelaksana dan dia melanggar apa yang sudah kita sepakati dalam forum lalu “ ketua Ipul berkata dengan nada tinggi dan benar.

Ketua Ipul tak terima sebab si Khafid keluar dari rencana yang sudah dierncanakan sebelumnya. Rencana bagaimana mendapatkan rumah kontrakan yang akan dipergunakan sebagai markas besar Organisasi Mahasiswa Islam. Tentunya sebuah rencana tak akan berjalan tanpa usaha. Dan dengan menjabatnya Khafid sebagai ketua pelaksana dalam agenda Ospek inilah usahanya. Aku sendiri sudah masuk sebagai koordinator perlengkapan, posisi yang membutuhkan kerja ekstra karena lahannya begitu luasnya. Demi melestarikan tradisi yang sudah – sudah.

“ Tanya Iyan saja bagaimana sikap Khafid itu “, sambi menunjuk padaku. Aku yang sedari tadi melamun mendengarkan sontak dan menjawab “ Ya, benar apa kata Ipul “.

“ Coba ceritakan sahabat “  perintah senior Ibenu.

“ Sebagai koordinator perlengkapan aku dapat rencana kerja sebagaimana yang sudah di bicarakan. Turun ke lapangan pun sudah dilakukan. Dan hasilnya dilaporkan. Namun setelah laporan kuserahkan, si Khafid turun tangan sendiri dan ini sudah keluar dari rencana kerja masing – masing. Karena ke tak profesionalan ini aku terpaksa keluar “ ceritaku.

“ Sudah tak bisa dibiarkan, kita bubarkan saja acaranya “  sahut Ipul dengan nada marah. Belum keluar kesepakatan dan kami hanya berbicara seputar dan tentang masalah ini. Dalam perembugan yang melingkar ini datang sahabat Rosadi.

“ Brengsek Khafid ini sudah cari perkara dia rupanya “ dengan nada marah pula. Setelah kami mendengarkan dengan seksama kemarahan dia lalu, dimulailah lagi rembug panas itu.

Aku hanya mendengarkan rembugan atau lebih tepatnya dongeng penuh caci maki ini. Aku terdiam, dan sesekali menanggapi. Mereka tak pernah tahu ketakutanku yamg sebenarnya. Ketakutan setelah melihat laporan yang disodorkan padaku. Rupiah dalam bentuk proposal itu yang membuatku takut. Takut pada resiko atau lebih tepatnya takut pada kenyataan bahwa ini salah, bahwa rupiah tak mudah dan murah memperolehnya. Bapak dan Mamak mereka sama saja,  juga susah payah sudah mengusahakan rupiah. Miskin juga toh asalnya.Namun teriakan ini hanya dalam batin, dan aku malu. Cacat ini tak bisa kuhilangkan dan sudah jadi sejarah di otakku. Juga jadi sejarah diluar otakku. Dan dulu aku menerima rencana itu dan tanpa malu pula aku ikut mencaci. Sekarang  tanpa malu pula aku diam. Cacat ini tak bisa kuhilangkan dan telah jadi sejarah.

Sejarah ini tak bisa kuhilangkan dan hanya bisa kusimpan. Suatu saatpun bau busuknya keluar dan tercium. Aku ingin keluar. Aku, kami, mereka, semua telah bersejarah dan sejarah tak hanya cerita tentang cinta dan kepahlawanan, didalamnya ada darah, peluh, dan air mata. Aku sudah muak dengan cerita kepahlawanan ini karena aku sudah ikut jadi penjahat lakon dan lakon penjahat di gelapnya cerita. Aku telah muak.

*Mahasiswa Univ. Muhammadiyah Gresik, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: