Mengapa Menulis?

Oleh : Medi Bilem*

Entah dengan kalian, aku menulis karena kesedihan saat mengenang-ngenang ayahku.

Dia meninggal waktu aku kelas 3 SMP, itu berarti saat itu umurku sekitar 15 tahun.

Apa yang bisa kau kenang untuk seumur itu?

Bagimu tentu ah 15 tahun tentu sudah dewasa, tentu banyak kenangan yang terekam dibenak anak 15tahun, apakah itu yang menyenangkan apakah itu yang tak menyenangkan.

Bukan itu yang kumaksud dengan sedih tadi, untuk seumurku sekarang (31 thn), aku ingin berbicara dengannya selayaknya orang dewasa.

Selain bentuk fisikku, yang kulihat hari ini adalah dia mewariskan tumpukan buku,foto dia dengan kacamatanya, cerita-cerita orang tentang dirinya, ibuku, kakak dan adikku, rumah ini, teman-temannya, keponakannya,

saudara-saudaranya, beberapa potong baju dan celananya di lemari ibuku.

Tapi aku tak mengenalnya.

Aku tak bisa mengenalinya sebagai sebuah pribadi.

Aku tak mengetahui apa yang dipikirkannya.

Dia pernah kecil, remaja, dewasa sebelum mati.

Dan tiga tahap itu pasti berisi satu : PIKIRAN dan PERASAAN!!!

Dan itu aku tak mengenalnya.

Selain apa kabar, jika dia hari ini dia hadir, ingin kutanyakan padanya

apa yang kau pikirkan? bagaimana perasaanmu? apakah hidup bagimu? menurutmu kenapa kita ada? Mengapa engkau menikah? Cintakah engkau pada istrimu? Bagaimana kalian bertemu? Saat aku lahir apa yang kau

pikirkan? Saat kau tak memiliki uang untuk membeli beras buat makan keluargamu, apa yang ada dalam pikiranmu? Bagaimana masa mudamu? Apa yang paling menyedihkanmu? Apa yang kau rasakan saat melihat

ayahmu? Bagaimana ibumu, apa yang paling kau sukai dari dia? Berapa uang sakumu saat sekolah dulu? Apakah engkau pernah berkelahi? Buku apa yang kau suka?

Semua itu tak terjawab

semua itu menggantung

karena engkau tiada untuk menjawabnya

kubayangkan, jika engkau tinggalkan untukku

anak-anakmu

sebuah buku lusuh

kumal berdebu

dengan tinta yang rembes tak tentu

tulisan tanganmu

betapa aku menginkan itu

engkau seorang manusia

engkau punya sejarah dan rasa

aku ingin melihatmu

utuh sebagai dirimu

bukan seorang ayah atau warga negara

hanya manusia

dengan pikiran dan rasa

aku ingin mengenalmu, ingin berbicara denganmu, bersitegang denganmu, mendebatkan pemikiran denganmu, minum kopi bersamamu, kita akan bicara tanpa dusta, tanpa rasa bersalah, kita semua berharga, ungkapkan

kesedihan dan kegembiraanmu, dan demikian pula aku.

Hilangkan rasa ayahmu, dan kubuang rasa anakku, mari bicara, mari merasa, engkau bagiku berharga, dan aku bagimu berharga, tak usah berlebih, cukup sebagai manusia biasa, kita punya sejuta rasa

tanggal ini telah kutinggalkan untuk engkau yang kelak menyebutku ayah.

Engkau telah tahu, bahwa hari ini aku menginginkan bicara dengan dia yang kusebut ayah.

Terima kasih telah membantuku hadir didunia

hidup, lalu tentu akan mati pula

hari ini, besok, lusa ataupun kemarin

mati itu biasa, tak susah, tak payah

hidup inilah yang membikin payah, saat ingin menjadi berguna, bermakna

jika tak ada dua kata itu, tak akan begini payah

terima kasih untukmu yang telah menjadikanku merasa hidup itu hak dan kewajiban

jika kata wajib itu sudah tak ada bagiku

jangan kuatir, aku tak ada berat tinggalkan ini dunia

mengangkang dengan hak itu ponggah, aku tak ada minat

untuk engkau yang kelak menyebutku ayah

inilah setetes tinta tentang rasa, rasaku

semoga engkau tak sepertiku, merasa lalu berteriak menggugatku..

*Ketua Perpustakaan Bersama Gresik – Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: