Siluet Sepuluh Menitan (Kisah di Stasiun Gubeng)

 

Oleh : Kyand Cavalera*

Tak ada yang bisa kubilang selain panas dan sesak dari kota Surabaya. Meski musim sedang tak tentu, tetap saja Surabaya panas dan sesak. Tapi aku lihat mendung sedang berjalan perlahan dan mulai menutupi sebagian selatan. Aku yang sedari tadi hany bisa menunggu dan menunggu akhirnya bosan juga. He’, bukankah menunggu adalah hal yang paling dibosankan oleh manusia, sebagian mungkin. Tapi terasa juga olehku, bosannya menunggu.

Kupandang juga akhirnya sawah dan ikan – ikan kecil yang berkecibak dari tadi. Melihat – lihatsekitar dan menunggu apakah dia akan datang dan acara yang sudah terjanji akan terlaksana. Dia belum datang juga. Padahal, bangsa katanya sudah merdeka tapi masih membudaya yang seperti beginian. Aku sadar kadangkala aku juga ikut membudayakan jam karet. Dia belum datang juga. Terpaksa juga akhirnya pena dan notebook kecil ini kukeluarkan. Mencoba menuliskan apa yang terjadi hari ini. Dia belum datang juga. Perempuan yang akan kembali pulang yang hanya bertemu dan bercakap dalam durasi total satu sampai satu setengah jam di dua hari aku bertatap muka dengan dia. Ingin berlama – lama namun dia tak berkenan sepertinya. Dia, sepupunya dan temannya datang akhirnya.

“ Sudah lama nunggu “. Basa – basi yang biasa. Tersenyum. Lalu berangkat. Tak banyak yang kubicarakan dalam perjalanan selain hal yang biasa saja. Bercerita membanggakan diri. Bercerita tentang rencana kedepan, hal yang biasa bagi para penarik minat hati perempuan. Yang ingin kuubah. Proses kata kawanku. Meski susah. Kumulai perbincangan saat saling diam.

“ Kereta jadwalnya berangkat jam berapa ? “, tanyaku.

“ Jam setengah lima “, jawabnya. Aku tertawa dalm hati. Benarkah akan berangkat jam segitu. Paling juga mundur beberapa detik, menit, atau bahkan jam. Aku tertawa dalm hati, hanya dalm hati. Jadi teringat lagu Iwan fals yang judulnya “ Kereta tiba pukul berapa “, ….. Biasanya kereta terlambat dua jam itu biasa…..cerita lama…. Sekali lagi aku tertawa dalm hati, dalm hati saja. Ah, terlalu. Sedari tadi kami hanya berputar dijalur yang jauh dari tujuan yakni stasiun Gubeng. Setelah hampir dekat kami terpencar saat mendung gelap memayungi Surabaya yang panas. Terpaksa dan terpaksa aku dan dia menunggu.

Arsitektur jaman Belanda menyambut kami di gerbang masuk. Masih terawat. Atau mungkin juga ini bikinan pemerintah. Menunggu sekali lagi diluar lalu pindah kedalam. Kumulai lagi perbincangan.

“ berapa lam perjalanan Surabaya – Bandung ? “ tanyaku.

“ paling kira – kira 12 jam “ jawabnya. Lumayan juga, apa tak bosan kau di kereta ? tanyaku lagi. Bosan, tapi aku paling tidur saat bosan datang. Jujur saja ini awal aku masuk merasakan suasana stasiun. Maklum, tak pernah naik kereta. Keadaan yang buat aku belum merasakan stasiun. Lumyan senang meski dengan menunggu. Harus kuulangi percakapan basa – basi yang biasa sembari menunggu. Dan hujanpun turunlah dengan derasnya.

“ mau kemana mas ? “, tanya seorang opsir penjaga stasiun.

“ Bandung “, kujawab singkat.

“ Naik kereta apa mas ? “, tanyanya. Aku yang tak tahu nama kereta jurusan terpaksa menunjuk kearah dia yang dari tadi diam mencari sepupunya di dalam. “ Entah, bapak tanya dia saja saya hanya mengantar “, dengan jari telunjukku kuarahkan padanya. Mungkin karena sikap tak ramahku opsir itu pergi setelah memuaskan diri dengan jawaban soal nama kereta.

Lambaian tangan perempuan di seberang tepatnya di jalur empat membuat perhatian kami tertuju. Sepupunya dan kawannya telah menanti kami di sebrang ternyata. Kami menhampiri melalui jalan yang disediakan. Lalu lalang manusia yang ingin atau hendak bepergian jauh maupun dekat seakan seperti saling tak peduli. Saling tak mengenal. Sebentar saja kami sudah di seberang. Menuju tempat duduk yang tersedia. Dan kami semua duduklah dan mulai menanti kereta tetunya.

Waktu masih menunjukan pukul 14.30, masih juga kami saling berbincang satu sama lain. Sesaat setelah duduk, kuperhatikan disebelah telah terisi oeleh orang lain. Seoarng gadis. Sedari tadi kulihat dia hany terdiam tak melukan apa – apa selain diam. Ada rasa ingin berbincang namun kuurungkan.

“ Kamu tahu tentang sejarah kota Surabaya ? “.

He’ tumben dia bertanya tentang sejarah. Selama yang aku tahu dia tak pernah suka dengan hal tentang sejarah, kecuali tentang hal – hal yang  umum. Pertanyaannya membuatku tertarik menjawab. “ Sejarah yang mana ? “, kutanya balik.

“ Ya, awal mula kota Surabaya kenapa dinamakan Surabaya ”. Dan kuceritakan.

Awalnya Surabaya hanyalah sebuah daratan yang belum bernama, namun daratan yang tak bernama ini dikuasai oleh raja lelembut yang berwujud Baya ( buaya ; indonesia ). Sedangkan di laut Utara daratan dikuasai oleh raj lelmbut pula yang berwujud Sura (ikan hiu ; indonesia ). Kedua raja lelembut ini sama kuat dan keduanya bermusuahan karena saling ingin menguasai wilayah masing – masing. Akhirnya pada suatu hari kedua lelembut ini saling berperang dan bertarung memperebutkan wilayah kuasanya. Dan tempat berperangnya dinamakan Surabaya. Dia mendengarkan hingga akhir dan bertanya, “ lantas kemana raja para lelembut itu sekarang ? “.

“ Tak bergeming, kaku ditaman Kota SuraBaya “ jawabku. Dia tertawa.

Saat dia tertawa bersamaan dengan datangnya kereta dari arah selatan, atau utara atau selatan atau entahlah aku tak tahu arah saat itu. Kuperhatikan kereta yang berhenti itu turun peneumpangnya, satu – satu , dua – dua, berbarengan tak teratur. Kuprhatikan sosok wanita, dua sosok wanita turun bersama. Wanita atau pria aku tak tahu. Atau pria seperti wanita seperti itulah sososknya. Turun dan jalan bersama.

“ Kau perhatikan itu “ sambil menunjuk pada pria bersosok wanita itu.

“ Menurutmu bagaimana ? “ tanyaku.

“ Dia sebetulnya pria berbusana wanita dan biasa saja sepertinya “.

“ Apa yang akan kamu lakukan bila dia duduk disampingmu ? “ tanyaku kembali.

“ Entah, aku belum bisa membayangkan “.

Setelah dijawabnya pertanyaanku, aku berpaling dan mulai memperhatikan mereka berjalan. Kuperhatikan terus. “ Sampai segitunya ngelihatin banci jalan, suka ya ? “ tanyanya sambil tersenyum dengan manis. Mereka adalah manusia, hak mereka buat memperlihatkan diri dan kita punya hak buat melihat dan kau tahu hanya beberapa pasang mata saja yang melihat dengan kepala, sedang lainnya hanya mencecar. Kubalas senyumnya yang manis dan terdiam.

*Mahasiswa Univ. Muhammadiyah Gresik, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Univ. Muhammadiyah Gresik

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: