FILOSOFI KOPI


(Manis, Pahitnya Kisah Dalam Satu Dekade)
Dewi lestari atau Dee, siapa yang tak kenal dia. Lewat karyanya yang berjudul SUPERNOVA, telah menorehkan dia dalam sejarah sastra Indonesia. Namun aku tak akan panjang lebar menceritakan dia dan karya – karyanya, sebab aku rasa lewat mbah Google lebih lengkap. ^_^
 Filosofi Kopi, adalah kumpulan cerpen dan prosa Dee yang ditulis dalam satu dekade antara 1995 – 2005. Dan tetap saja mengangkat tema tentang cinta, cinta dan cinta. Hal yang universal katanya, tapi entahlah aku tak tahu. Don’t judge the book, by its cover right. Baca dulu baru komentar.
Aku belum pernah baca karya Dee, jadi ini yang pertama. Tapi dari awal aku buka buku ini, nuansa cinta yang berbeda yang kurasa. Mulai dari Filosofi Kopi sampai Rico de Coro, kita akan disuguhi cerita yang manis, pahit, lembut, persis rasa kopi Luwak di Excelso café. Bukan promosi, tapi itu yang dirasa. Cocok buat teman malam mingguan, hehe. :P

Seperti dalam judul Filosofi Kopi, yang berkisah tentang Ben yang ambisius. Seorang peramu kopi handal atau barista, yang kalah dan tersadarkan oleh secangkir kopi Tiwus ( baca, tubruk ). Atau kisah Indi dalam Sepotong Kue Kuning, seorang guru les biola yang jadi alas kaki yang dipakai saat dibutuhkan. Namun ada juga karya yang menurutku membingungkan, sebab dikemas dalam prosa yang berbentuk puisi, atau sebaliknya.

Kalau di awal aku bilang tema yang diangkat soal cinta, maka tak pas rasanya kalau tak disebutkan juga. Mungkin ini juga yang dinanti. Seperti dalam judul Selagi kau Lelap, yang penuh dengan rayuan logis dan matematis. “…Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini : 4.354.560.000. itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada disitu. Ditiap inti detik, dan didalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…”

Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung dan segalanya yang di tengah – tengah. Sensasi ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya..”. Romantis, dan tidak murahan. Atau pernah berpikir, bagaimana menggambarkan cinta dari pandangan seekor kecoak ??. Dee, mampu menggambarkannya. Penasaran??. Makanya baca.


Membaca tulisan Dee yang satu ini, serasa membca teenlit bikinan tante – tante. Betapa tidak, bahasa yang lembut seperti gadis, namun isinya pemikiran seorang dosen. Ini yang menurutku, membuat beda antara Dee dengan penulis lainnya. Sebut saja Ayu utami, yang punya ciri khas bahasa yang vulgar dan berani, atau Kang Abik yang pakai bahasa malaikat. Namun kesemuanya adalah karya – karya yang patut diberi apresiasi, apapun gaya atau aliran yang dipakai. Dan sekali lagi Filosofi Kopi, patut dibaca menemani saat kita minum kopi, santai, sedih, senang, dan sebagainya. Mengutip kata – kata Dee, “ Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya “. ??? (Kyand Cavalera)*

*Penulis adalah Mahasiswa dan Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik.

One Response to FILOSOFI KOPI

  1. pahit dan manis kehidupan… baik dalam ketiadaan ada keberadaan..!! semua akan tetap indah apabila Secangkir kopi tadi tanpa dusta…. seperti pak ketua bilang di blognya..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: