Max Havelaar

 

Judul asli: Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi  (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)

Penulis: Multatuli

Penerjemah: H. B, Jassin

Penerbit: DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991

 

 

Saya sungguh sangat sulit untuk memulai membuat resensi buku ini. Karena apabila saya harus mengikuti kaidah penyajian resensi buku yang baik dan benar, maka waktu saya untuk membuat postingan baru di blog ini tidaklah cukup. Sama halnya saat ketika saya membaca buku ini, menyajikan kembali inti dari cerita ini sangat lah sulit dan sukar. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk menyajikan resensi menurut hemat saya sendiri, yang semoga saja dapat dicerna oleh pembaca dengan baik (begitu juga saya lakukan pada resensi buku-buku yang lain pada postingan saya yang telah lalu).

“Ya, saya bakal dibaca!” begitulah kutipan kata-kata Multatuli yang membuat saya semangat dan berusaha untuk menuntaskan buku yang paling sulit yang pernah saya baca selama ini. Dan sampai sekarang, kata-kata itu masih melekat dihati saya sebagai kalimat yang mengandung unsur “hero” seorang penulis.

Siapa yang tidak tahu Multatuli? Bahkan sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah diberitahu bahwa ada seorang Belanda yang baik hati, yang menaruh simpati dan empati kepada rakyat Indonesia, yang bernama Eduard Douwes Dekker, yang kemudian memiliki nama samaran Multatuli.

Dalam pengantar dan pendahuluan buku ini, banyak informasi tentang kehidupan Multatuli, mulai dari dia dicampakkan dari jabatannya, kemudian menyewa sebuah losmen di Belgia, dan akhirnya dalam kurun waktu sebulan dia menulis buku berjudul Max Havelaar dalam musim dingin tahun 1859. Kemudian tulisan ini terbit pertama kali pada tahun 1860 sebagai buku dan diakui sebagai karya sastra penting dan menjadi bahan pembicaraan para sejarawan, kritkus, dan pengamat kesusastraan dunia.

Eduard Douwes Dekker, yang menggunakan nama samaran pena Multatuli untuk karya sastranya, Max Havelaar.

“Multatuli bukanlah satu-satunya dan juga bukan yang pertama yang mensinyalir dan menggugat keadaan yang buruk yang sudah lama berjalan, tapi sedangkan protes yang lain-lain tiada kedengaran atau hampir tiada kedengaran, buku Maax Havelaar akan terasa pengaruhnya yang besar. Sebab buku itu juga merupakan mahakarya sastra dan justru karena itulah orang mendengarkan suara Multatuli.” (drs. G. Termorschuizen, dalam pendahuluan di buku Max Havelaar, tahun 1991, hlm.VII)

Buku Max Havelaar yang saya baca adalah buku lama dan kertasnya sudah kuning lusuh, tahun 1991, milik paman saya, seorang aktivis (seniman) dari forum lenteng. Sesungguhnya tidak ada dia menyuruh saya sama sekali untuk membaca buku tersebut. Akan tetapi, karena kebanggaan saya yang sudah menjadi mahasiswa UI, dan menyadari bahwa seorang mahasiswa yang baik harus baca banyak buku agar supaya banyak pengetahuan, maka dengan dipaksa-paksakan, saya mencoba menuntaskan buku tersebut, meskipun hampir tiga bulan baru selesai. Hahahaha!

Douwes Dekker lahir pada tahun 1820 di Amsterdam, dibesarkan dalam suatu keluarga Protestan yang sederhana. Dalam pendahuluan yang ditulis oleh drs. Termorschuizen, anda akan mengetahui biografi singkat tentang kehidupan Dekker sebagai pejabat Belanda yang baik hati, dan karena kebaikan hatinya tersebut dia harus dipindahkan beberapa kali ke beberapa daerah di Indonesia. Dalam pendahuluan itu, juga dalam cerita Max Havelaar sendiri, kita dapat mengetahui bahwa Dekker adalah seorang yang memiliki watak yang keras dan juga keras hati. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana orang lain dapat bahagia, sementara dia tidak peduli dengan kebahagiaan dirinya.

Buku Max Havelaar ini (menurut pendapat saya) adalah bentuk materi curahan hati Dekker terhadap tragedi hidupnya, yang selalu melarat, dan dirugikan oleh para petinggi Belanda pada masa itu. Dia mengkritik para pejabat serta para petinggi di Istana Belanda yang tidak sadar akan kemelaratan bangsa pribumi yang ditindas oleh kesewenang-wenangan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh Dekker, akan tetapi tidak membuahkan hasil. Dan dengan kekecewaan itu, dia membuat buku yang kemudian menggemparkan dunia.

Bisa dibilang bahwa kisah Max Havelaar, tokoh dalam buku ini, adalah kisah nyata yang dialami oleh Douwes Dekker (yang pada bukunya dia menggunakan nama samaran sebagai pengarang, yaitu Multatuli). Karena apabila anda membaca pendahuluan dalam buku ini, dan membaca cerita secara keseluruhan, akan didapati banyak kesamaan. Karena memang Douwes Dekker sendirilah si Max Havelaar itu.

Yang menarik dalam buku ini adalah penyampaian cerita dengan tiga sudut pandang, yaitu oleh Droogstoppel si makelar kopi, oleh Stern si pemuda Jerman, dan oleh Multatuli sendiri. Kemelaratan dan kebijaksanaan Max Havelaar diceritakan oleh Stern. Stereotip jahat dari kaum Belanda dapat kita lihat dari pandangan Droogstoppel. Dan kebenarnan akan segala fakta dapat kita lihat dari sudut pandang Multatuli.

Meskipun sepertinya Droogstoppel adalah tokoh antagonis dalam buku ini, namun cerita-cerita dan kalimat-kalimat yang penuh kritikan terdapat dalam bab-bab si makelar kopi ini. Saya berani jamin bahwa bagi anda yang suka membuat puisi, akan berpikir dua kali untuk membuatnya setelah membaca kritikan si Droogstoppel yang tidak menyenangi sastra, yang katanya penuh dengan kebohongan. Hahahaha!

Seperti yang telah dikatakan dalam banyak blog yang juga mereview cerita Max Havelaar ini, ada bab yang sangat menyentuh hati kita, yaitu bab yang menceritakan kisah cinta yang romantis “Saijah dan Adinda”. Kisah cinta anak pribumi yang harus dihentikan oleh kesewenangan kaum penjajah. Dan satu kata yang teringat oleh saya apabila hendak membahas cerita ini ialah “Kerbau”. Dalam beberapa resensi dan artikel yang saya temukan, dikatakan bahwa cerita Saijah dan Adinda ini bisa disandingkan dengan cerita Romeo and Julietnya si pengarang handal Inggris, William Shakespeare.

Memang berguna bagi kita untuk membaca karya-karya sastra. Dan itu saya rasakan beberapa waktu yang lalu. Ketika masalah Si Buya, kerbau ikut demonstrasi mengkritik SBY. Saya tidak akan mengerti maksud opini dari seorang budayawan (saya lupa namanya) di kolom opini KOMPAS, jikalau saya tidak membaca buku Max Havelaar. Si penulis opini menganalogikan kerbau sesuai makna kerbau dalam cerita Saijah dan Adinda, yaitu inti sari dari kehidupan nusantara ini. Dengan kerbau, rakyat hidup, dengan kerbau rakyat semangat, dengan kerbau diperlihatkan kemelaratan rakyat, dengan simbol kerbau dikritik kesewenang-wenangan kaum penguasa. Dan si penulis opini itu mengatakan, jikalau para demonstran dan SBY telah membaca kisah Saijah dan Adinda dalam Max Havelaar, tentulah tidak akan seheboh itu mereka menanggapinya. Malah aksi demo kerbau itu akan menjadi pemicu untuk bangkit dari karut-marut masalah dalam negeri yang tidak kunjung selesai ini.

Cerita Max Havelaar ini, pada akhirnya nanti akan diselesaikan dalam sudut pandang Multatuli sebagai pengarang. Pada awalnya saya akan mengira bahwa saya akan menangis dan sedikit kecewa karena mungkin akhir cerita akan sad-ending. Akan tetapi dugaan saya salah. Setelah saya membaca buku ini, saya jadi mengerti bagaimana perjuangan seorang pahlawan yang berani menantang apa yang salah dan mempertahankan apa yang benar. Saya sungguh sangat salut kepada Douwes Dekker.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangatlah berat, selain menggunakan ejaan lama, juga sangat kental dengan aturan penerjemahan yang berusaha tidak menghilangkan atau meggantikan arti yang sebenarnya dari kalimat-kalimat bahasa Belanda (kalau saya tidak salah) ke kalimat bahasa Indonesia yang baku. Namun, hal itu akan dapat kita mengerti apabila kita intens membacanya, dan perlahan meresapi setiap maksud dari setiap kalimat.

Puisi-puisi yang diselipkan dalam cerita ini bisa menjadi hiburan sejenak setelah membaca sekian halaman pembahasan yang rumit dari Multatuli.

Buku ini saya sarankan kepada anda wahai mahasiswa (khususnya) dan para penikmat baca (umunya) untuk dijadikan bahan pembelajaran sejarah, sastra, dan budaya.

(Manshur Zikri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: