Bilangan Fu

Judul       : Bilangan Fu

Penulis    : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit     : 2008

 

 

 

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar.

Kesadaran dasar ini juga akan membantu kita memandang semua sarana untuk mencari Tuhan secara proporsional. Sesuci apapun sebuah ayat, tak lebih dari sebuah wahyu, dan bukan kebenaran itu sendiri. Tidak perlu kita berkelahi meributkan rumusan-rumusan ayat kitab suci yang isi atau tafsirannya berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain, karena jika demikian kita menganggap rumusan wahyu itu sebagai Tuhan sendiri.

Tokoh protagonis Parang Jati dalam novel terbaru Ayu Utami adalah sosok yang mewakili bentuk penghayatan spiritualitas yang menghargai (respek) pada orang lain dan lingkungannya. Bahwa kita seharusnya berinteraksi dengan segala sesuatu di luar diri kita (manusia dan lingkungan) dengan sikap welas asih dan tidak memaksa. Sikap ini dipertentangkan dengan sikap tokoh antagonis Kupukupu, yang karena selalui dihantui rasa tidak aman dan belum selesai dengan eksistensi dirinya, menafsirkan rumusan ayat-ayat dalam Kitab Suci secara matematis, dan menggunakannya untuk menghakimi semua orang yang dianggap menyimpang dari rumusan tersebut.

Seperti dalam dua novel terdahulu (Saman dan Larung), dalam novel ini kita masih bisa merasakan kelincahan Ayu dalam memainkan kata-kata sehingga terlahir ungkapan-ungkapan puitis yang pada titik-titik tertentu melahirkan letupan keindahan laksana kembang api di angkasa. Berbeda dari dua novel terdahulu, dalam novel ini Ayu lebih kontemplatif dan lebih mendalam, tanpa terjebak menjadi nyinyir. Tidak heran Ayu sendiri menamai novel ini sebagai manifestonya tentang spiritualitas kritis.

Memang ada sedikit yang terasa mengganggu menyangkut kutipan-kutipan berita dari surat kabar yang tidak bersesuaian dalam waktu dan tempat dengan kejadian sebenarnya, sekilas terkesan dicocok-cocokkan. Namun kita harus selalu ingat bahwa bagaimanapun kisah ini adalah fiksi (rekaan), bukan fakta sejarah.

Bagaimanapun sebagai sebuah karya, novel ini memenuhi syarat keindahan (menggetarkan jiwa), simbolisme (apa yang terjadi di Watugunung merupakan miniatur dari kejadian secara nasional dan internasional, menyangkut modernisasi yang eksploitatif terhadap alam dan perlawanan antara kaum fundamentalis dan moderat agama), dan sebuah pernyataan sikap pengarang terhadap itu semua. Atas pertimbangan itu semua, novel ini bisa digolongkan dalam karya sastra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: