Borok Pelaku Jaman

April 25, 2011

Masih berpuasa hari ini. Kira – kira hari ke empat belas dan baru setengah perjalanan menuju fitri. Dan aku masih tak peduli dan terus tak makan minum sejak bedug subuh sampai bedug magrib tiba. Budaya berpuasa. Aku heran, kenapa orang lebih muak melihat orang lain tak puasa ketimbang solat. Padahal solat jadi tiangnya sedang puasa tak tahu apanya. Dan aku masih tak peduli karena sama saja dengan hari biasa. Sama saja karena aku masih berpikir bagaimana cara memperoleh duit buat bayar sekolah. Sama saja si pembecak masih mengayuh, masih jadi kuda bapak haji. Sama saja, karena si penyapu jalan, tukang di pabrik, tukang jahit, dan tukang lainnya sama denganku, masih mikir cari duit. Masih sama saja. Yang bikin beda dalam bulan ini aku jalani siangku tanpa makan atau minum. Yang bikin beda setiap dini hari aku bangun buat makan sahur, entah yang lain bisa sahur atau tidak.  Selain itu masih sama saja.

Kudengar sayup – sayup imam melantunkan alfatihah dengan cepat. Sedang tarawih rupanya. Dan kami sedang tak ikut. Ada hal penting yang sedang kami rembug bersama. Tempat kami berembug tak luas hanya beberapa meter saja panjang dan lebarnya. Berdinding papan triplek coklat yang usang dan tua. Entah pula sudah berapa umurnya. Ampas kopi tumbukan kasar berceceran dimana – mana, dibawah kami bekas pengunjung lalu. Puntung rokok, kulit telur, dan ludah juga ikut serta. Punya sahabatku dan mungkin juga pengunjung lalu. Kami masuk dibarengi sapaan dan pertanyaan seorang perempuan tua dalam logat akrab Madura “ Mesen apa cong ? “ tanyanya. Dan kami biasa memanggil ia ebok, buk, mak, yang artinya ibu.

Kopi ireng 2, kopi poteh 2, es teh 1 “ jawabku dalam bahasa madura. Setelah itu kami duduk dan menunggu sembari merokok.

***

Read the rest of this entry »


FILOSOFI KOPI

February 23, 2011

(Manis, Pahitnya Kisah Dalam Satu Dekade)
Dewi lestari atau Dee, siapa yang tak kenal dia. Lewat karyanya yang berjudul SUPERNOVA, telah menorehkan dia dalam sejarah sastra Indonesia. Namun aku tak akan panjang lebar menceritakan dia dan karya – karyanya, sebab aku rasa lewat mbah Google lebih lengkap. ^_^
 Filosofi Kopi, adalah kumpulan cerpen dan prosa Dee yang ditulis dalam satu dekade antara 1995 – 2005. Dan tetap saja mengangkat tema tentang cinta, cinta dan cinta. Hal yang universal katanya, tapi entahlah aku tak tahu. Don’t judge the book, by its cover right. Baca dulu baru komentar.
Aku belum pernah baca karya Dee, jadi ini yang pertama. Tapi dari awal aku buka buku ini, nuansa cinta yang berbeda yang kurasa. Mulai dari Filosofi Kopi sampai Rico de Coro, kita akan disuguhi cerita yang manis, pahit, lembut, persis rasa kopi Luwak di Excelso café. Bukan promosi, tapi itu yang dirasa. Cocok buat teman malam mingguan, hehe. :P

Seperti dalam judul Filosofi Kopi, yang berkisah tentang Ben yang ambisius. Seorang peramu kopi handal atau barista, yang kalah dan tersadarkan oleh secangkir kopi Tiwus ( baca, tubruk ). Atau kisah Indi dalam Sepotong Kue Kuning, seorang guru les biola yang jadi alas kaki yang dipakai saat dibutuhkan. Namun ada juga karya yang menurutku membingungkan, sebab dikemas dalam prosa yang berbentuk puisi, atau sebaliknya.

Kalau di awal aku bilang tema yang diangkat soal cinta, maka tak pas rasanya kalau tak disebutkan juga. Mungkin ini juga yang dinanti. Seperti dalam judul Selagi kau Lelap, yang penuh dengan rayuan logis dan matematis. “…Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini : 4.354.560.000. itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada disitu. Ditiap inti detik, dan didalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…” Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,476 other followers

%d bloggers like this: