Surabaya Kini, di Sore Hitam Putih

Oleh : Mega Syamllan*

Ibarat terbang jauh melintas laut, jauh sekali sekali dari sarang nyaman penuh cinta. Datang kemari ke hutan luas sebagai dunia baru yang sama sekali asing,dan misterius entah dengan tanaman beracunnya, binatang-binatang sesama penghuni hutan yang menatap tajam, penuh curiga.

Mencoba menyamankan diri, karena disinilah masa depan. Aku mencarinya disini. Dengan tekad penuh bahwa kekuatanku yang jauh disana bahagia, dengan harapan bahwa mereka di balik langit akan bangga. Sungguh banyak sekali mimpi disetiap tidur, semangat disetiap bangun, senyuman di setiap lemah dan keyakinan semua baik-baik saja.

Aku baru disini, tetapi Atas nama Tuhan, aku yakin hidup disini akan berjalan mulus, akan ada mereka, bunga, rumput, angin, pohon-pohon kuat, jamur-jamur atau apa saja yang akan aku temui disini, mereka yang akan aku sebut TEMAN.

Indah sekali saat membayangkan itu. Aku punya teman. Teman di tempat baru. Teman yang akan saling berbagi,aku akan merasakan wangi-wangi mereka, elusan mereka, berlindung pada mereka, bermain, tertawa, mungkin turut merasakan kesedihannya , walaupun aku hanya seekor burung kecil aku bisa memberikan kehangatan besar pada mereka. Aku yakin sekali itu.

Yaaa.. hari-hari pun berjalan. Dengan keyakinan yang selalu dan selalu ada bersama saat aku terbang melintasi hutan ini, aku yakin sekali bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Sesama penghuni hutan sedikit demi sedikit mulai bersahabat, mereka mulai menyadari kehadiranku. Perlahan-lahan kami mulai bersama, berteman tepatnya.

Tetapi janggal. Hampa.

Bukankah seharusnya kita nyaman dengan teman? Kenapa aku tidak? Kenapa aku merasa aku seakan tak diterima? Apa karena aku  dari hutan yang kalian bilang terpencil? Kenapa aku tak lagi merasa hatiku hangat? Kenapa aku bisa lupa kapan terakhir kali aku berseri dan wajahku merona merah?

Ada apa ini? Apa yang salah? Apa yang terjadi?

Aku kemudian bertemu dengan bunga itu. Dia tak menarik secara mata. Tetapi siapa sangka dia begitu wangi? Wangi sekali. Aku nyaman sekali dengan wangi itu. Tetapi bukan itu yang membuatku lebih nyaman. Dia pandai. Dia unik. Dia menarik dalam kacamataku, dan yang paling penting adalah dia MENGERTI.  Bukankah itu yang paling penting dalam berteman? Aku menghabiskan banyak waktuku dengannya. Dia mengenalkan aku pada tokoh-tokoh hebat di luar hutanku. Dan aku suka itu.

Aku sedikit demi sedikit mulai sedikit mulai lunak lagi. Mulai membuka diri lagi. Mulai percaya lagi bahwa selalu ada yang baik yang akan terjadi. Siapa sangka hati kecilku mulai sakit lagi.

Sedikit cerita, aku disini seperti makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa, tak bisa apa-apa.

Tak begitu.

Aku hanya ingin lebih mengerti seluk beluk hutan ini. Aku hanya ingin lebih mengerti bau bunga, bau rumput dan arah angin .

Ternyata aku dianggap demikian. Burung kecil dengan otak beku.

Apa yang bisa aku perbuat kalau banyak dari mereka menganggap demikian?

Hanya diam.

Hanya diam , sembari perlahan aku akan menunjukan siapa aku . bagaimana burung kecil itu.

Kediamanku ternyata menambah masalah. Semakin menjadi-jadi. Aku burung kecil yang sangat kecil dimata  mereka. Aku tak dianggap. Tak dilibatkan dalam pesta di hutan, tak didengar dan tak di hargai.

Tahukah kau rasanya menangis dengan dada penuh sesak dengan benci, marah, dan sedih? Sangat buruk teman. Sangat sakit.

Aku menghargai setiap perhatian, setiap kekhawatiran yang kalian tuangkan, tapi maaf teman,aku bukannya tak peduli. Aku hanya sedikit tidak suka

“ KENAPA KALIAN TERASA SEPERTI INGIN BERTANGGUNG JAWAB DENGAN MASA DEPANKU ? “

Teman..Lupakah kau siapa aku?

Aku ini burung..

Aku bisa terbang melintasi dunia, terbang tinggi sampai di awan di puncak langit paling tinggi.

Aku tahu dunia. Aku tahu banyak hal.

Tetapi tidak.

Aku tidak pernah berpikir untuk terbang lebih tinggi lagi melebihi pohon-pohon besar ini.

Aku tidak ingin menjadi hebat dimata kalian. Aku tidak ingin menjadi lebih diantara kalian.

Apalah gunanya aku terbang, tetapi aku melewatkan bagaimana indahnya menyaksikan kau, temanku, kau bungaku, berganti warna?

Aku melewatkan bahagiamu karena kelopak-kelopakmu tumbuh, dan kau menjadi indah.

Apalah gunanya aku tahu dunia kalau aku melewatkan wangi rumput saat angin?  Wangi tanah sehabis hujan?

Apalah gunanya aku tahu banyak hal, kalau aku melewatkan proses daun-daun tumbuh di pohon besar itu?

Rendahpun tak masalah, lupa cara terbang pun tak apa.

Yang penting adalah aku selalu disini. Sama tinggi dengan kalian. Di duniaku ini. Dunia kita.

Aku hanya ingin menjadi baik, menjadi makna, menjadi bagian dari cerita kalian dimasa tua. Walaupun dengan menjadi bodoh sekalipun.

SEMUA KARENA KALIAN…

HANYA UNTUK KALIAN…

Tetapi semua yang aku pikirkan, yang aku harapkan kalian mengerti sama  sekali tidak terjadi.

Aku tetaplah burung kecil dari hutan terpencil dengan otak beku, tak perlu dianggap. Tak perlu dihargai.

Tak mengapa teman. Aku hanya percaya bahwa Tuhan menempatkan semua peristiwa berdasarkan waktunya.

Hari inilah waktuku besok adalah kalian. Aku tak berdoa untuk kalian mendapat karma.

Aku hanya mengingatkan, dan haruslah kau siapkan hatimu dari saat ini, karena jangan sampai rasamu lebih sakit.

Aku takkan terbang tinggi agar sekarang kau tahu siapa aku. Aku akan tetap begini, sampai akhirnya kau paham semua hal yang

tidak perlu aku jelaskan. Surabaya kini, di sore hitam putih.

Apa saja yang ingin kau sebutkan

*Mega Syamllan : Mahasiswi Semester 2 Jurusan Ilmu Perpustakaan Univ. Wijaya Kusuma Surabaya

2 Responses to Surabaya Kini, di Sore Hitam Putih

  1. jordi says:

    keren :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,475 other followers

%d bloggers like this: